Nuzulul Qur’an Momentum Rekoneksi Diri


(UINSGD.AC.ID)-Nuzulul qur’an, dalam telaah ulama ulumul qur’an, diturunkan dalam tiga tahap. Tahap pertama Al-Qur’an diturunkan sekaligus ke Lawh Mahfudz. Pada tahap ini, baik cara mapun waktunya hanya Allah saja yang mengetahui.

Namun berdasaran QS Al-Buruj ayat 21-22, para ulama sepakat, pada tahap yang pertama Al-Qur’an dinuzulkan sekaligus. Pada tahap kedua, al-Qur’an dinuzulkan dari Lawh mahfudz ke Bait al Izzah.

Sama dengan tahap yang pertama, pada tahap kedua ini berdasarkan Qs. Al-Baqarah :185, Al-Dukhan: 3, dan Al-Qadr :1, Al-Qur’an dinuzulkan secara sekaligus pada bulan suci ramadhan dimana di dalamnya terdapat malam al-qadr. Kemudian pada tahap ketiga, Al-Qur’an dinuzulkan dari Bait al-Izzah kepada Nabi Muhammad SAW di bumi melalui perantaran malak Jibril secara berangsur-angsur (tanjim). 

Dalam nuzulnya ke bumi, tentu saja kehadiran Al-qur’an memiliki visi dan orientasi. Ada tiga pendekatan yang bisa digunakan untuk mengetahui hal itu. Pertama, bisa diketahui berdasarkan pembacaan terhadap latar belakang historis mengapa al-Qur’an turun. Kedua, bisa diketahui berdasarkan pembicaraan al-Qur’an sendiri. Ketiga bisa diketahui berdasarkan analisa seksama terhadap isi kandungan yang berada dalam Al-Qur’an.

Bila dikaji berdasarkan pembacaan terhadap latar historis mengapa al-Qur’an turun?, diantara visi dan orientasinya adalah sebagai kritik dan oto-kritik atas diesequiblirium, yakni ketidak seimbangan masyarakat Mekah dalam berbagai dimensi kehidupannya. Dari mulai dimensi ketuhanan, sosial, ekonomi, politik, budaya, dan sebagainya.

Dalam hal bertuhan misalnya, masyarakat Mekah terjebak dalam kegiatan mempertuhankan berhala. Latta, Uzza, Hubbal, Mannah adalah sejumlah berhala yang mereka pertuhankan. Dalam kehidupan sosial ditemui sejumlah kasus yang kental dengan aroma deviasi sosial, seperti; diskriminasi terhadap kaum hawa, absurdisme sistem pernikahan, baik yang poligini, poligami maupun poliandri. Berikutnya perlakuan tidak manusiawi terhadap anak perempuan, dan juga tumbuh suburnya produksi miras, prostitusi dan perjuadian.

Dalam hal ekonomi, paraktik ribawi adalah platform sistem ekonomi mereka. Begitupun dalam kehidupan politik, akrobat politik masyarakat Mekah sangat kontras dengan diktum Thomas Hobbes, homo homini lupus, manusia adalah serigala pemangsa sesamanya.

Atas ketidak seimbangan itu, turunlah ayat-ayat Makiah yang berisi kritik sekaligus oto-krtik, dimana di dalamnya berisi kerangka etis dan pedoman moral bagi terciptanya tatanan hidup yang equiblirium (seimbang) baik dalam  berketuhanan, berkeadaban dan berkemanusiaan.

Bila dikaji berdasarkan informasi Al-Qur’an sendiri, visi dan oreintasi kehadiran Alquran bisa dilihat diantaranya pada Qs. Al-Baqarah ayat 185. Berdasarkan ayat ini, ada tiga visi dan orientasi turunnya Al-Qur’an; (a) hudan, yakni sistem petunjuk bagi tatananan kehidupan manusia. (b) al-bayyinat, yakni sistem penjelas atas sejumlah fenomena kehidupan manusia. (c) al-furqon, kriterium pembeda antara yang benar dengan yang salah.

Berikutnya  dalam Qs. Al-Isra ayat 82 ada dua fungsi nuzul al-Qur’an; (a) Syifa, yakni obat penawar atas sejumlah derita psikologis ummat manusia, ketika hidupnya dihadapkan pada kesenjangan antara asa dan realita. (b) rahmat, yakni inspirasi bagi kebahagiaan dan kemenangan perjuangan ummat pada semua pojok kehidupannya.

Sedangkan bila dilihat berdasarkan Qs.Al-Hijr ayat 9, visi dan orientasi turun Al-Qur’an adalah sebagai al-dzikr, sistem kendali diri demi terciptanya tatanan kehidupan yang terkendali.
Berikutnya, bila dilihat berdasarkan analisa seksama atas substansi atau isi kandungan Al-Qur’an. Maka ada tiga visi dan oreintasi turunnya Al-Qur’an, yakni  untuk membangun kesolehan individual (khairul ummah, personal morality), kesolehan sosial (khairul ummah, public morality), dan kesolehan institutional (institutional morality).

Dalam bingkai tiga pendekatan tadi, sesungguhnya visi dan orientasi nuzul al-quran adalah momentum untuk membangun rekoneksi diri dengan al-Qur’an. Dalam spirit latar historis, Upaya rekoneksi bisa dimulai dengan melakukan kritik terhadap sejumlah ketidak seimbangan hidup, baik pada level pribadi, antar pribadi maupun institusi.

Jujur kita akui, masih banyak sekali kasus diesequiblirium (ketidaksimbangan) yang bisa dijumpai dalam kehidupan hari ini. Perilaku materialistik, gaya hidup hedonistik, pendidikan yang kapitalistik, sitem ekonomi dengan hegemoni ribawi, realitas sosial yang deviasi, agama yang kadang dikomersilisasi dan dikomodifikasi, adalah sederet fakta tentang ketitidak seimbangan kehidupan kini.

Kegiatan kritik dalam spirit rekoneksi dengan Al-Qur’an, tentu tidak identik dengan mencari-cari kesalahan, tetapi mencoba menempatan ragam ketidakseimbangan pada forsi dan posisinya. Setelah itu kemudian dicari solusi untuk kemudian dientaskan. Dan dalam spirit mengentaskan ragam persoalan ketidak seimbangan hidup itu, telah diyakinkan Allah, bahwa pada Al-Qur’an akan ditemukan sejumah jawabannya.

Berikutnya, proses koneksi dan rekoneksi dengan Al-Qur’an hanya mungkin dilakukan apabila kita berada pada lingkaran ahlul qur’an, yakni komunitas masyarakat yang intensif melakukan interaksi dengan Al-Qur’an baik pada level qiraah, tilawah, tertjemah, tafsir, tahfidz maupun tathbiqul qur’an. Tanpa masuk pada lingkaran ini, nuzulul qur’an mungkin hanya sekedar momentum sejarah yang tidak akan menyejarah.   

Aang Ridwan, Ketua Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Sumber, Galamedia 30 April 2021

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *