Nilai Kenabian di Tengah Krisis Zaman

Ilustrasi meneladani sosok Nabi Muhammad SAW / foto tebuireng

UINSGD.AC.ID (Humas) — Maulid Nabi Muhammad SAW tidak hanya peringatan kelahiran seorang tokoh sejarah, melainkan momentum reflektif untuk merenungkan jejak kenabian yang abadi.

Dalam setiap abad, umat Islam memaknai Maulid dengan lantunan syair, majelis ilmu, dan doa. Namun, di balik ritual itu ada pesan filosofis yang jauh lebih dalam: kelahiran Nabi adalah simbol hadirnya cahaya moral di tengah kegelapan sosial.

Di tengah hidup penuh paradoks. Ruang teknologi berkembang pesat,dan informasi tersedia dalam hitungan detik, namun dilain sisi, krisis moral semakin terasa.

Hoaks jadi komoditas, perampokan uang rakyat merajalela, dan intoleransi tumbuh subur. Situasi ini mirip dengan jahiliyah modern: maju secara material, tapi miskin nilai. Di tengah kegelapan itu, peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW mengingatkan kita pada hadirnya cahaya moral yang abadi. “Sungguh, telah datang kepadamu cahaya dari Allah, dan Kitab yang menjelaskan.” (QS. Al-Māidah [5]: 15).

Ilustrasi mencintai sosok Nabi Muhammad SAW / foto NU Online

Makna Filosofis Maulid

Kelahiran Rasulullah SAW di Mekah abad ke-6 terjadi pada masa jahiliyah, dimana zaman ketika manusia kehilangan orientasi moral, tatanan sosial dipenuhi ketidakadilan, dan agama hanya sebatas formalitas. Makna Filosofisnya, bahwa kehadiran Nabi adalah “fajar kesadaran” bahwa hidup manusia tidak bisa dilepaskan dari nilai ilahi dan kemanusiaan.

Maulid mengingatkan bahwa sejarah tidak pernah statis. Dalam setiap kegelapan, selalu ada cahaya yang lahir. Dalam setiap keputusasaan, selalu ada harapan yang disemai. Inilah esensi peringatan Maulid bukan sekadar romantisme masa lalu, melainkan energi spiritual untuk menjawab tantangan hari ini. Jejak Maulid Nabi bukan hanya ritual mengenang kelahiran seorang tokoh agung, tetapi refleksi filosofis atas makna kehadiran manusia pilihan dalam sejarah.

1. Menjadi simbol Kelahiran Cahaya dalam Kegelapan. Filsuf Perancis Roger Garaudy menyebut kelahiran Nabi sebagai “kelahiran peradaban kasih” yang menggantikan peradaban ketidakadilan. Artinya, Maulid adalah pengingat bahwa setiap zaman selalu membutuhkan cahaya nilai untuk menuntun manusia keluar dari kegelapan moral.

2. Sebagai Momentum Mengukur Diri. Bagi sejarawan Marshall Hodgson, Nabi Muhammad mengubah sejarah bukan hanya lewat wahyu, tetapi melalui moralitas konkret yang dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Maka, merayakan Maulid berarti menimbang Kembali, apakah kehidupan kita sudah sejalan dengan nilai keadilan, kasih sayang, dan integritas yang Beliau bawa?

3. Menuju Etika Universal yang Melampaui Agama. Karen Armstrong menegaskan, Nabi Muhammad mewariskan nilai etika yang bersifat universal, yakni mengasihi sesama, menegakkan keadilan, dan menjaga perdamaian. Makna filosofisnya Maulid bukan hanya milik umat Islam, melainkan pesan kemanusiaan bagi semua.

4. Meningkatkan Spirit Perlawanan terhadap Jahiliyah Modern. Secara filosofis, Maulid adalah kritik moral terhadap “jahiliyah modern” yang kini hadir dalam bentuk materialisme, individualisme, dan kekuasaan tanpa nurani. Dengan merayakan Maulid, kita diajak menyalakan kembali nilai kenabian sebagai perlawanan spiritual terhadap krisis kemanusiaan masa kini.

ilustrasi perang di masa Nabi Muhammad SAW / foto : freepik.com

Inspirasi Nilai Kenabian di Tengah Krisis Zaman

Sejarah menunjukkan bahwa Nabi Muhammad SAW hadir di tengah masyarakat jahiliyah yang mengalami krisis multidimensi: krisis moral (kebohongan, kekerasan, diskriminasi), krisis sosial (ketidakadilan, perbudakan), krisis politik (perebutan kekuasaan tanpa etika), dan krisis spiritual (agama tereduksi menjadi ritual kosong).

Situasi itu tidak jauh berbeda dengan kondisi kita hari ini. Di era modern, kita menghadapi bentuk baru dari jahiliyah:

– Krisis moral dan maraknya hoaks, ujaran kebencian, korupsi, dan hilangnya integritas.

– Krisis sosial ekonomi, kesenjangan kaya-miskin yang melebar, gaya hidup konsumtif, dan lemahnya solidaritas.

– Krisis politik , terjadi polarisasi, pragmatisme, dan pudarnya kepemimpinan visioner.

– Krisis lingkungan, terjadi kerusakan ekologi akibat keserakahan manusia.

Dalam menghadapi krisis krisis tersebut, maka nilai-nilai kenabian dapat menjadi cahaya penerang.

1. Kejujuran (ṣidq). Menghadapi Krisis Moral dengan Kejujuran. Ketika hoaks dan manipulasi data menjadi industri, kejujuran Nabi adalah inspirasi. Dalam dunia politik, kejujuran adalah keberanian untuk tidak tunduk pada kepalsuan. Dalam dunia bisnis, kejujuran adalah pondasi kepercayaan. Dalam kehidupan pribadi, kejujuran adalah cermin martabat. Nabi menunjukkan integritas penuh. Beliau dikenal sebagai al-Amīn, orang yang terpercaya. Nilai ini mengingatkan bahwa kejujuran adalah fondasi sosial dan politik yang sehat.

2. Keadilan (‘adl), Ketimpangan sosial hanya dapat diatasi dengan keadilan. Nabi bersabda: “Sebaik-baik jihad adalah berkata benar di hadapan penguasa zalim.” (HR. Abu Dawud). Pesan ini sangat relevan ketika kekuasaan sering dijalankan tanpa nurani. Bagaimana menghadapi krisis sosial dengan keadilan. Ketika kesenjangan kaya-miskin melebar, nilai kenabian mengingatkan: “Tidak beriman seseorang yang kenyang sementara tetangganya kelaparan.” (HR. Bukhari). Solidaritas sosial adalah panggilan iman, bukan pilihan opsional.

3. Kasih Sayang (raḥmah), bagaimana menghadapi polarisasi dengan kasih sayang. Ketika masyarakat terbelah oleh politik identitas, Nabi memberi teladan: beliau menyatukan kaum Aus dan Khazraj di Madinah, yang sebelumnya bermusuhan. Kasih sayang adalah energi penyembuh bagi bangsa yang terfragmentasi. Di tengah polarisasi dan konflik, kasih sayang adalah perekat. Dan Nabi diutus sebagai “rahmat bagi semesta alam” (QS. Al-Anbiyā’ [21]: 107). Artinya, sikap empati dan kasih sayang pun tidak hanya kepada sesama manusia, tetapi juga terhadap alam dan lingkungan.

4. Kesederhanaan (zuhd), Di era materialisme, Nabi memberi teladan hidup sederhana. Beliau bersabda: “Kekayaan bukanlah banyaknya harta, tetapi hati yang merasa cukup.” (HR. Bukhari-Muslim). Nilai ini dapat menjadi jawaban atas krisis ekologis akibat gaya hidup konsumtif. Menghadapi Krisis Lingkungan dengan Kesederhanaan. Ketika kerakusan menguras alam, kesederhanaan Nabi adalah kritik ekologis. Beliau melarang berlebihan dalam memakai air meski saat berwudhu di sungai yang melimpah. Pesannya jelas: bumi bukan untuk dieksploitasi, tetapi untuk dijaga sebagai amanah.

5. Keteguhan Moral (istiqomah) dan Integritas. Di tengah godaan pragmatisme, Nabi tetap konsisten pada kebenaran meski dicaci, ditolak, bahkan disakiti. Nilai Filosofinya bahwa kebenaran akan tetap hidup meski sementara tampak kalah. Hal lainnya adalah bagaimana menghadapi krisis kepemimpinan dengan integritas. Saat kepemimpinan sering diukur dengan kekuasaan dan kemewahan, Nabi menunjukkan kepemimpinan yang melayani, bukan dilayani. Beliau berkata: “Pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka.” (HR. Abu Dawud). Inilah pesan kuat di tengah krisis kepercayaan publik pada pemimpin hari ini.

Inspirasi untuk Zaman Kita

Lalu apa inspirasi untuk kita saat ini ? karena Nilai kenabian bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan inspirasi abadi. Di tengah krisis global, kita diajak menyalakan kembali spirit kenabian dalam kehidupan sehari-hari, jadilah Politisi yang jujur dan adil, bercita citalah jadi pengusaha yang amanah dan peduli pada sesama. Jadilah akademisi dan intelektual yang berintegritas. Serta generasi muda yang sederhana, kritis, dan penuh kasih sayang.

Seorang filsuf Jerman, Hans Küng, mengatakan : “Tidak akan ada perdamaian dunia tanpa etika global, dan tidak ada etika global tanpa transformasi spiritual.” Dan Nilai kenabian adalah kunci transformasi. Kita di warisi nilai berharga untuk kehidupan kini. Dan nilai kenabian harus menjadi Kompas moral dengan :

1. Menjaga Integritas di atas segalanya: dalam pekerjaan, politik, maupun kehidupan sosial, kejujuran adalah nafas yang membuat hidup bernilai.

2. Membangun Solidaritas dan kepedulian: Nabi selalu dekat dengan kaum lemah, menjadi inspirasi bagi kita untuk memperjuangkan keadilan sosial.

3. Melahirkan Kesadaran ekologis: Rasulullah mengajarkan manusia sebagai khalifah di bumi, bukan perusak. Nilai yang sangat relevan menghadapi krisis iklim.

4. Membuka Ruang Dialog dan moderasi: Nabi membangun umat dengan hikmah, bukan kebencian. Hal yang sangat penting dilakukan di tengah masyarakat yang mudah terbelah karena perbedaan.

Maulid sebagai Momentum Kebangkitan Moral

Peringatan Maulid bukan sekadar nostalgia sejarah, tetapi refleksi eksistensial. Nabi Muhammad SAW mengajarkan bahwa keberagamaan tidak hanya tentang ritual, melainkan transformasi nilai. Rasulullah adalah teladan bahwa cahaya bisa lahir dari gelap, harapan bisa tumbuh dari luka, dan peradaban bisa dibangun dari kasih sayang. Di tengah dunia yang kian bising dan terfragmentasi, Maulid adalah undangan untuk kembali menyalakan pelita kenabian dalam diri: berintegritas, penuh kasih, dan berani menegakkan keadilan.

Dengan begitu, kita tidak hanya memperingati kelahiran Nabi, tetapi juga melanjutkan misi Beliau dalam membumikan nilai-nilai langit demi kemanusiaan. Bukan sekadar peringatan kelahiran, tetapi kebangkitan nilai. Cahaya Nabi adalah inspirasi untuk membangun masyarakat yang lebih manusiawi, adil, dan beradab di tengah krisis zaman kita. Wallahu a’lam Bis showaab 

Lilis Sulastri, Guru Besar Ilmu Manajemen, Ketua Prodi Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Sunan Gunung Djati Bandung

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *