UINSGD.AC.ID (Humas) — Pun Guru nyarios kieu:
“Balik (Mudik) ka lembur mah bisa disiasatan ku duit jeung fasilitas sejenna. Tapi mudik ka akherat? Ngan amal jeung takwa nu jadi kendaraanana.”
Beberapa hari yang lalu, jalanan menuju arah timur—entah itu lewat jalur Gentong yang meliuk-liuk atau Tol Cipali yang panjangnya minta ampun—kini penuh sesak. Aspal panas itu seolah menjadi saksi ribuan pasang mata yang menyimpan rindu pada lembur matuh, banjar karang pamidangan. Orang-orang kota yang setahun penuh gagah dengan kemeja licin, mendadak luluh, rela berdesakan demi sebuah ritual yang kita sebut: Mudik.
Namun, kalau kita duduk sejenak di téras rumah sambil menyeruput kopi pait, mudik ini sebenarnya panggung sandiwara besar tentang nasib manusia. Di jalanan itu, kelas-kelas sosial yang biasanya tersembunyi di balik pagar tembok kota, terpapar jelas.
Ada golongan “the haves”, orang-orang beunghar yang mudiknya tenang. Mobilnya baru, AC-nya dingin, logistik di bagasi melimpah. Mereka meluncur mulus bak jalan tol di tengah malam. Di akhirat nanti, mungkin inilah gambaran mereka yang imannya lempeng, amalnya ngocor terus, sehingga perjalanan menuju Tuhan terasa seperti perjalanan di kelas eksekutif.
Lalu ada yang kelasnya “pas-pasan”. Mobilnya ada, tapi suaranya sudah agak batuk-batuk. Mereka sering berhenti di rest area bukan cuma buat istirahat, tapi mendinginkan mesin yang kepanasan. Inilah kita, mayoritas umat yang amalnya seadanya—sholatnya kadang diengké-engké, sedekahnya masih pakai hitung-hitungan. Kita sampai ke tujuan, tapi dengan peluh dan sedikit cemas.
Yang paling membuat hati nyeri adalah mereka yang nekat. Motor dipaksa membawa beban yang tak masuk akal: bapak, ibu, dua anak, ditambah tumpukan kardus berisi oleh-oleh. Mereka berjudi dengan nyawa di antara deru bus-bus besar. Mereka adalah simbol jiwa-jiwa yang ingin pulang ke haribaan Tuhan, tapi bekalnya minim sekali. Tertatih-tatih di atas shirath, antara jatuh dan selamat.
Tapi apa sebenarnya inti dari semua keriuhan ini?
Bagi orang Sunda, mudik itu soal mulang ka asal. Kita diingatkan bahwa sehebat apa pun kita di perantauan, sekaya apa pun kita di Jakarta, kita ini hanya nyimpang nginum—mampir minum sebentar. Sebagaimana pesan para sepuh, “Ulah poho ka purwadaksi”, jangan lupa pada asal-muasal.
Di akhir perjalanan mudik nanti, ada ritual sungkem dan halal bi halal. Kita bersimpuh, melepaskan ego, dan mengakui dosa. Inilah miniatur hari perhitungan kelak. Di akhirat, tak ada lagi urusan merek mobil atau jabatan di kantor. Yang ada hanyalah: “Apa yang kamu bawa untuk pulang?”
Mudik fisik ke Tasik, Garut, atau Ciamis mungkin akan selesai dalam hitungan hari. Tapi mudik ruhani adalah perjalanan abadi. Jangan sampai kita terlalu sibuk memoles kendaraan duniawi, tapi lupa memperbaiki “kendaraan” iman yang akan membawa kita menyeberang ke kampung halaman sejati: Surga.
Sebab, sepahit-pahitnya perjalanan di lingkar Gentong, masih ada harapan sampai ke rumah. Tapi segetir-getirnya perjalanan ke akhirat tanpa bekal, tak ada jalan untuk kembali pulang.
Dadan Rusmana, Wakil Rektor I UIN Sunan Gunung Djati Bandung