Merayakan Kartini: Menjalin Toleransi dan Persahabatan Lintas Iman

UINSGD.AC.ID (Humas) — Keluar dari Kereta Cepat di Stasiun Halim 21 April 2025, saya diberikan sekuntum mawar oleh pramugari kereta yang berkebaya merah. Selain saya, teman saya seorang ibu Nyai pimpinan Pondok Pesantren Ekologi At-thariq yaitu teh Nissa Wargadipura juga mendapatkan coklat.

Tidak hanya itu, LRT yang saya naiki juga menggratiskan penumpang. Grabcar yang saya tumpangi memberikan diskon sampai 10 ribu rupiah. Hari Kartini kali ini begitu Istimewa saya rasakan. Apakah itu saja? Nah dalam tulisan refleksi ini saya akan mencoba mengaitkan Kartini dengan perjuangannya menjunjung toleransi dan bersahabat baik dengan kolega lintas iman.

Sosok Inspiratif

Kartini merupakan sosok yang kita kenang setiap 21 April. Di dalam dirinya ada cerminan dari perjuangan dan keberanian untuk memperjuangkan hak-hak perempuan, termasuk dalam bidang pendidikan dan kebebasan berpendapat. Namun, tidak hanya dalam konteks gender, semangat Kartini yang menjunjung tinggi toleransi dan pemahaman lintas agama juga sangat relevan untuk kita teladani di masa kini, terutama dalam menjalani relasi dengan orang-orang lintas iman.

Sebagai seorang dosen yang mengajar filsafat agama, saya mencoba memahami bahwa toleransi dalam beragama adalah inti dari kehidupan sosial yang harmonis. Kartini, meskipun hidup pada zaman yang sangat berbeda dengan kita, sudah menunjukkan pentingnya kesadaran akan keberagaman sejak awal. Dalam surat-suratnya yang terkenal, Kartini tidak hanya menyuarakan keinginan untuk perempuan yang berpendidikan, tetapi juga menyentuh nilai kemanusiaan yang lebih universal. Ia percaya bahwa setiap orang, apapun latar belakang agamanya, berhak mendapatkan pendidikan dan hak-hak dasar yang sama.

Membangun Dialog

Salah satu ajaran penting yang bisa kita ambil dari Kartini adalah bagaimana ia mampu berdialog dengan berbagai kalangan dan latar belakang. Sebagai seorang perempuan yang hidup di lingkungan kolonial, di mana ada berbagai perbedaan etnis dan agama, Kartini mengedepankan prinsip penghormatan kepada perbedaan tersebut. Dalam surat-suratnya yang ditujukan kepada sahabat-sahabatnya, Kartini menunjukkan kedalaman pikirannya dalam menanggapi persoalan agama dan kebudayaan. Ia tidak hanya berfokus pada perjuangan hak perempuan dalam satu dimensi, tetapi juga melihat pentingnya memahami dan menghargai keberagaman.

Dalam konteks kita saat ini, terutama bagi perempuan yang aktif dalam berbagai sektor, dari dunia akademis hingga organisasi masyarakat, semangat Kartini bisa menjadi panduan dalam memperkuat hubungan dengan sesama. Termasuk mereka yang memiliki keyakinan dan pandangan yang berbeda. Kita bisa meneladani beliau dalam membangun dialog dan kerjasama lintas agama. Misalnya, dalam kegiatan dakwah dengan membuat Pedoman Dakwah untuk Toleransi dan Persaudaraan beragama yang dilakukan oleh Fatayat NU Jawa Barat menjadi hal yang sangat penting untuk merajut kerukunan beragama.

Berelasi dengan orang-orang lintas iman bukanlah hal yang mudah, terutama di tengah tantangan sosial-politik yang bisa mempengaruhi sikap masyarakat terhadap perbedaan. Namun, dengan meneladani Kartini yang tetap mengedepankan prinsip keadilan dan kesetaraan, kita dapat mewujudkan masyarakat yang tidak hanya mengedepankan agama masing-masing, tetapi juga mengutamakan penghormatan terhadap hak dan martabat setiap individu. Sebagai seorang pimpinan organisasi perempuan yang telah banyak berkecimpung dalam pendampingan dan advokasi sosial, saya merasa perempuan memiliki peran yang sangat penting untuk menunjukkan bahwa keberagaman adalah kekuatan, bukan kelemahan.

Sinergi dan Kolaborasi 

Tantangan terbesar yang dihadapi Kartini adalah bagaimana perempuan pada masanya sering terbelenggu oleh norma-norma sosial yang sangat membatasi. Namun, ia mampu melepaskan diri dari belenggu tersebut dan berjuang untuk pendidikan yang lebih baik. Begitu juga kita, perempuan-perempuan masa kini, bisa mencontohkan semangat yang sama dalam membangun hubungan yang harmonis dengan siapa pun, terlepas dari latar belakang agama dan kepercayaan mereka. Toleransi bukan hanya soal menerima perbedaan, tetapi juga tentang saling belajar dan menguatkan satu sama lain dalam berbagai aspek kehidupan.

Peringatan hari Kartini kali ini hendaknya menjadi momentum untuk kita menguatkan komitmen terhadap nilai-nilai toleransi, persatuan, dan kesetaraan. Dalam menjalani relasi lintas iman, semangat Kartini yang berbasis pada kasih sayang dan pengertian kepada sesama bisa menjadi jembatan yang menyatukan perbedaan-perbedaan yang ada.

Sebagai perempuan yang berdaya dan berwawasan luas, kita dapat menjadi teladan bagi generasi berikutnya dalam membangun masyarakat yang lebih inklusif, adil, dan penuh kasih. Berjejaring untuk berkolaborasi dengan semua pihak termasuk teman-teman lintas iman adalah sebuah keharusan. Hayu paheuyeuk heuyeuk leungeun!

Jakarta 21 April 2025 penulis sedang mengikuti Workshop Esoterika Fellowship Agama sebagai Warisan Kultural Milik Bersama 21-23 April 2025 sebagai delegasi Studi Agama-Agama UIN Bandung.

Neng Hannah, Sekretaris Prodi Magister Studi Agama-Agama UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Pegiat Perempuan dan Kader PW Fatayat Jawa Barat

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *