UINSGD.AC.ID (Humas) — Upaya membentuk mahasiswa berkarakter moderat dan inklusif terus dilakukan Fakultas Sains dan Teknologi (FST) UIN Sunan Gunung Djati Bandung melalui Seminar Merawat Moderasi Beragama untuk Generasi FST Juara yang Berkarakter bersama Dr. (H.C.) Drs. H. Lukman Hakim Saifuddin, M.Si., Menteri Agama RI Periode 2014–2019. Seminar yang dipandu Dr. H. Aep Saepuloh, M.Si., ini berlangsung di Gedung Anwar Musaddad, Senin (15/12/2025).
Wakil Rektor I UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Prof. Dr. H. Dadan Rusmana, M.Ag., saat membuka acara menegaskan bahwa moderasi beragama merupakan kunci utama dalam membangun kehidupan masyarakat yang harmonis di tengah keberagaman suku, agama, dan budaya. Menurutnya, moderasi beragama menekankan sikap adil, proporsional, tidak berlebih-lebihan, serta menghormati keyakinan pihak lain tanpa mencampuri urusan agama masing-masing.
Dengan harapan melalui seminar ini, civitas akademika FST memiliki kesepahaman yang kuat tentang moderasi beragama. “Mahasiswa sebagai agen perubahan diharapkan mampu menerapkan nilai-nilai moderasi dalam kehidupan sehari-hari sekaligus mengedukasi masyarakat tentang pentingnya sikap beragama yang inklusif dan menyejukkan,” tegasnya.
Dekan FST, Prof. Dr. Hj. Hasniah Aliah, M.Si., menyampaikan bahwa moderasi beragama merupakan cara menyikapi dan memahami agama secara esensial dan substansial. Pemahaman ini menjadi sangat penting di Indonesia yang memiliki keragaman agama dan budaya. “Oleh karena itu, FST memandang perlu menghadirkan seminar moderasi beragama guna membentuk generasi ummatan wasathan di era globalisasi, sekaligus mewujudkan FST Juara yang berkarakter,” jelasnya.
Prof. Hasniah menegaskan bahwa moderasi beragama bukanlah konsep baru dalam upaya meneguhkan komitmen beragama dan bernegara. Kegiatan ini dinilai strategis untuk memperluas wawasan civitas akademika agar nilai-nilai Islam rahmatan lil ‘alamin dapat diimplementasikan secara nyata dalam kehidupan.
Seminar moderasi beragama merupakan kegiatan rutin yang diselenggarakan FST sebagai bagian dari upaya pembinaan karakter mahasiswa. “Pada kesempatan yang berbahagia ini, FST menghadirkan Lukman Hakim Saifuddin sebagai penggagas dan tokoh sentral moderasi beragama di Indonesia. Penguatan moderasi beragama menjadi salah satu prasyarat bagi mahasiswa FST yang akan mengikuti sidang, sebagai bentuk komitmen fakultas dalam menanamkan nilai keberagamaan yang moderat, inklusif, dan berkarakter,” ujarnya.
Dalam pemaparannya, Lukman Hakim Saifuddin menjelaskan bahwa ajaran Tuhan pada hakikatnya membawa kebaikan bagi seluruh umat manusia. Namun, dalam praktik keberagamaan, diperlukan sikap bijaksana agar ajaran agama tidak dipahami dan dijalankan secara keliru.
Terdapat dua sikap yang harus dihindari dalam beragama, yakni sikap berlebih-lebihan dan sikap melampaui batas dalam memahami serta mengamalkan ajaran agama. “Kedua sikap tersebut berpotensi melahirkan perilaku ekstrem dalam kehidupan beragama,” bebernya.
Menurutnya, moderasi beragama merupakan proses dan ikhtiar berkelanjutan agar umat beragama senantiasa berada pada posisi seimbang. Ajaran agama memiliki dimensi universal berupa nilai-nilai dasar kemanusiaan seperti kejujuran, penghormatan kepada orang tua, dan moralitas, serta dimensi partikular yang berbeda antara satu agama dengan agama lainnya, khususnya dalam tata cara ibadah.
LHS sapaan akrabnya, menegaskan bahwa keragaman dalam keberagamaan merupakan keniscayaan yang harus disikapi dengan kebijaksanaan. Perbedaan penafsiran terhadap sumber ajaran agama melahirkan ragam praktik keberagamaan yang memerlukan sikap saling memahami dan menghormati. “Dalam Islam, keteladanan Nabi Muhammad SAW menjadi rujukan utama, yang kemudian diperkaya dengan ijtihad para ulama melalui karya-karya keilmuan yang membantu umat memahami ajaran agama secara proporsional,” tandasnya.
Menutup pemaparannya, menegaskan bahwa moderasi beragama merupakan ikhtiar untuk membangun sikap keberagamaan yang inklusif dan menyejukkan. “Nilai-nilai universal dalam ajaran agama diharapkan mampu memperkuat budaya toleransi, saling menghormati, dan saling menghargai, baik di lingkungan akademik maupun dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara,” pungkasnya.
Kegiatan yang diikuti 700 mahasiswa secara rutin diselenggarakan setiap tahun oleh Fakultas Sains dan Teknologi (FST) ini merupakan wujud komitmen berkelanjutan dalam menanamkan nilai-nilai moderasi beragama di lingkungan akademik.

“Pak, bagaimana sikap kita bila menghadapi ajaran agama yang bertentangan dengan sains dan teknologi?”, tanya salah seorang mahasiswa kepadaku.
Lalu juga muncul pertanyaan mahasiswi lain: “Dalam perspektif Moderasi Beragama (MB), sejauh mana rekayasa genetik bisa dilakukan? Apakah ada batasannya?” Juga muncul soalan: “Apakah MB membuat dan mengajak orang menjadi sekuler?”

Puluhan pertanyaan muncul dari para mahasiswa dan dosen dalam acara ini. Sudah lebih dari 3 jam proses diskusi berlangsung. Sementara masih banyak mahasiswa yang acungkan tangan minta diberi kesempatan bertanya. Waktu sudah melampaui jam istirahat. “Aku tentu tak boleh berlebihan dan melampaui batas alias menjadi ekstrem. MB memang ‘never ending process’, suatu upaya memahami dan mengamalkan ajaran agama yang moderat yang tiada berkesudahan. Membahasnya tentu perlu waktu panjang berbilang. Namun apa daya, sesi diskusi tetap harus diakhiri.. 🙏😊🙏” tulisnya.

Melalui forum ini, FST berupaya membentuk generasi intelektual yang tidak hanya unggul dalam keilmuan, tetapi juga berkarakter, berintegritas, serta mampu menjunjung tinggi sikap toleran dan harmonis di tengah keberagaman.
Seminar ini diharapkan menjadi ruang penguatan nilai dan refleksi bersama agar semangat moderasi beragama terus terinternalisasi dalam kehidupan akademik maupun sosial.





