Menyucikan Jiwa

(UINSGD.AC.ID)-

Pandemi masih terus menyelimuti, dukacita menjadi hari-hari yang merundungi. Rasanya getir dan khawatir apabila melihat situasi hari ini.

Namun, tentu sebagai seorang Muslim, pada kondisi apa pun, menebar kebaikan jangan berhenti. Sebaik-baiknya manusia adalah yang bermanfaat kepada yang lainnya. 

Diberikan situasi apa pun harus siap sedia. Mendapat kemudahan menjadikan diri sebagai pribadi bersyukur. Diberikan kesusahan, sabar dan tawakal sebagai sikap mental. Jiwa ini harus terus disucikan agar ridha dengan segala ketetapan dari Allah yang Maharahman.

Hanya, rasanya ironi, masih banyak yang culas dan mengambil untung di atas derita saudara. Maka beruntunglah manusia yang menjaga dirinya dari kejahatan, padahal boleh jadi berpeluang, bahkan tetap peduli sesama.

“Maka Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaan. Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwa itu. Dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.” (QS asy-Syams: 8-10). 

Menyucikan jiwa dapat dilakukan dengan beberapa cara. Pertama, bertobat sungguh-sungguh, tidak mengulangi kesalahan yang sama. Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA dari Nabi Muhammad SAW, beliau bersabda: “Seorang mukmin tidak boleh tersengat dua kali dalam satu lubang.” (HR Muslim).

Kedua, berzikir tanpa sekali pun lalai pada-Nya. Bacalah kalimah zikir, asmaul husna, dan Alquran setiap hari. Pelajari maknanya, temukan petunjuk dari sumber ajaran.

Bacalah kitab-kitab tafsir untuk memahami lebih jelas kandungan ayat per ayat dan kaitannya. Jangan sungkan untuk bertanya kepada para ahli agar tak tersesat pemahaman diri. Alquran adalah obat, nasihat dan penerangan, petunjuk dan pembeda antara kebenaran dan kebatilan.  

Ketiga, zikir dan pikir diseimbangkan. Caranya dengan mengisi hari-hari dengan belajar ilmu pengetahuan. Jika ayat qauliyah telah dibaca, pelajarilah ayat kauniyah.

Alam semesta adalah tanda, petunjuk bagi mereka yang berpikir. Mengkaji alam semesta dan para pengisinya hanya dapat dilakukan oleh ilmu pengetahuan, unsur utama kekuatan peradaban. Ayat qauliah dan kauniyah bersumber dari Allah Maha Mengetahui, sumber kebenaran.

Keempat, manusia tempatnya salah dan lupa. Berkumpul dengan orang baik dan para ulama akan selalu mengarahkan agar tetap berada dalam kebaikan. Ilmu bertambah, iman menguat, amal saleh semakin meluas, menebar manfaat.

Perbanyak merenungi diri, tentang apa yang telah diperbuat. Lupakan kebaikan, ingatlah keburukan dan jangan tunda untuk memohon ampunan.

Kelima, memintalah selalu kepada-Nya untuk diberikan petunjuk berada di jalan yang diridhai. Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, beberapa orang sahabat Nabi Muhammad SAW datang lalu bertanya kepada beliau, “Sesungguhnya kadang-kadang tersirat suara dalam hati kami suatu hal yang berat untuk kami katakan.”

Beliau bertanya, “Apakah hal demikian sudah terjadi padamu?” Mereka menjawab, “Ya.” Beliau bersabda,” Itulah pertanda iman yang sebenarnya.” (HR Muslim). 


IU RUSLIANA, dosen Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung.

Sumber Republika 22 Juli 2021.

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *