UINSGD.AC.ID (Humas) — Para sufi besar memandang waktu bukan sebagai garis lurus dari masa lalu ke masa depan, melainkan ruang perjumpaan dengan Pencipta. Di tangan mereka, pergantian waktu hari, minggu, bulan, tahun menjadi cermin batin, bukan sekadar perayaan lahiriah.
1. Imam al-Ghazali: Waktu dan Kesadaran Amal
Imam al-Ghazali menegaskan bahwa waktu adalah modal utama manusia.
Segala kerugian hakiki terjadi bukan karena miskin harta, tetapi karena waktu berlalu tanpa amal dan makna.
Bagi beliau, masa lalu tempat taubat, masa depan tempat harap dan niat, saat ini tempat amal. Akhir waktu menurutnya saat bertanya “Apakah ilmuku melahirkan amal, atau hanya menambah beban hisab?” Jika waktu berlalu tanpa perbaikan hati, maka usia bertambah tetapi jarak dengan Allah justru menjauh.
2. Ibn ‘Atha’illah al-Iskandari: Jangan Menunda dalam Waktu
Dalam al-Ḥikam, Ibn ‘Atha’illah berpesan,
“Penundaan amal adalah tanda kebodohan jiwa.” Bagi beliau, waktu yang paling berbahaya adalah “nanti”. Karena amal hanya mungkin di saat ini, taubat hanya sah di sekarang, kehadiran hanya mungkin di hadapan Allah saat ini. Pergantian tahun sering menipu manusia dengan resolusi
“Tahun depan aku akan berubah.” Padahal, menurut Ibn ‘Atha’illah siapa yang tidak berubah hari ini, tidak akan berubah oleh tahun apa pun.
3. Jalaluddin Rumi: Waktu adalah Gerak Cinta
Bagi Rumi, waktu bukan musuh, melainkan tarian cinta Ilahi. Segala yang bergerak planet, jiwa, bahkan luka bergerak karena rindu kepada Asalnya. Rumi mengingatkan
“Mengapa engkau takut waktu berlalu?Bukankah setiap detik membawamu lebih dekat kepada-Nya?” Akhir tahun, dalam pandangan Rumi, bukan kehilangan, bukan berkurangnya usia, tetapi bertambahnya kesempatan untuk pulang. Jika satu tahun membuat hati lebih lembut, lebih mencinta, lebih jujur, maka waktu itu diberkahi, meski penuh air mata.
4. Ibn ‘Arabi: Waktu sebagai Tajalli
Ibn ‘Arabi memandang waktu sebagai tajallī (penampakan) Allah yang terus-menerus. Setiap detik adalah ciptaan baru, dan Allah tidak pernah mengulang ciptaan-Nya. Maknanya engkau tidak pernah menjadi orang yang sama dua kali, setiap tahun adalah kesempatan mengenal Allah dengan wajah yang baru. Namun celakalah manusia yang berubah secara kosmik,
tetapi beku secara ruhani. Akhir tahun, menurut Ibn ‘Arabi, adalah ajakan “Apakah engkau mengenali Allah dalam perubahanmu, atau tersesat dalam perubahan itu sendiri?”
5. Abdul Qadir al-Jilani: Waktu adalah Amanah
Syekh Abdul Qadir al-Jilani menekankan bahwa waktu adalah amanah Ilahi. Ia harus diisi dengan adab, kejujuran, khidmah (pengabdian). Beliau mengingatkan “Jangan sibuk menghitung umurmu, sibuklah menghitung sejauh mana engkau taat.” Tahun baru tanpa adab dan taubat hanyalah angka baru dengan dosa lama.
Para ulama sufi sepakat dalam satu pesan diam-diam, Waktu tidak pernah salah. Yang sering keliru adalah cara kita hadir di dalamnya. Jika kosmos taat pada orbitnya, maka manusia dimuliakan dengan pilihan menjadikan waktu sebagai jalan pulang atau sekadar lintasan usia.
S. Miharja, Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung