UINSGD.AC.ID (Humas) — Ramadan telah berlalu, tetapi spiritnya tidak boleh pergi. Karena ia bukan sekadar bulan, melainkan “madrasah ruhani” yang menanamkan kebiasaan, menata jiwa, dan meluruskan arah hidup.
Apakah kita lulus dari madrasah ruhani itu sebagai manusia yang kembali “fitri”—atau justru kembali ke rutinitas lama dengan sedikit sisa kenangan ibadah dan suasana Ramadan?
Oleh karena itu, selayaknya, kita mencanangkan “resolusi”, semacam ikrar keberlanjutan dan komitmen untuk menjaga “api ibadah” yang telah dinyalakan selama sebulan penuh.
Idul Fitri yang populer dimaknai “kembali pada kesucian”, sejatinya bukanlah kondisi akhir yang statis, melainkan sesuatu yang harus dirawat, dijaga, dan dihidupkan, agar tetap suci.
Imam Al-Ghazali dalam magnum opus-nya, Ihya Ulumuddin, membuat perumpamaan bahwa hati manusia ibarat cermin bening. Dosa adalah debu yang memburamkannya. Sedangkan ibadah adalah proses membersihkannya kembali.
Ramadan adalah proses pembersihan besar-besaran. Apakah pasca Ramadan kita akan mengotorinya kembali?
Menurut Ibn Rajab al-Hanbali dalam salah satu karyanya, “Lathaif al-Ma’arif”: tanda diterimanya amal ibadah seseorang adalah istiqamah dalam kebaikan setelahnya.
Jika setelah Ramadan tetap istiqamah dalam ibadah, jujur, amanah, dan peduli, maka itulah indikasi bahwa ibadah puasanya diterima, taqwa-nya terbentuk dan hidup.
Hasan al-Basri seorang Ulama Sufi terkemuka dari kalangan tabi’in pernah berkata: “Janganlah kamu menjadi hamba Ramadan, tetapi jadilah hamba Allah Swt.”
Ungkapan itu untuk menyindir orang-orang yang ketaatan dan spiritualitas-nya menguat hanya pada bulan Ramadan. Karena sejatinya, yang diuji bukan semata Ramadan—tetapi juga Syawal dan bulan-bulan setelahnya.
Rasulullah SAW bersabda: “Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang paling konsisten meskipun sedikit.” (HR. Muslim).
Itulah prinsip keberlanjutan (sustainability) dalam ibadah. Kadang tidak harus besar, tetapi harus terus ada. Karenanya, Imam Nawawi, seorang fuqoha terkemuka mazhab Syafi’i berpendapat bahwa “konsistensi lebih bernilai daripada intensitas sesaat”.
Dalam teori kontemporer, pandangan tersebut diperkuat oleh konsep “atomic habits” dari James Clear yang mengatakan bahwa perubahan kecil yang dilakukan terus-menerus akan menghasilkan transformasi dan perubahan besar.
**
Selama Ramadan kita telah berusaha menjaga shalat sebagai poros hidup; menjaga Al-Qur’an sebagai cahaya harian; menjaga lisan dari dusta dan cela; menjaga hati dari iri dan sombong; menjaga tangan tetap peduli dan memberi.
Ramadan telah menyalakan cahaya; dalam kesabaran kita menahan lapar, dalam keikhlasan kita berbagi, dalam doa-doa sunyi di malam hari kita terjaga.
Jangan biarkan cahaya itu padam hanya karena bulan berganti. Mari kita jaga nyala itu, karena kemenangan sejati bukanlah pada akhir Ramadan, tapi pada kemampuan kita mempertahankan cahaya itu terus menyala, sesudahnya. Wallahu’alam.
Cikijing Majalengka,
22 Maret 2026
Tatang Astarudin, Ketua Yayasan Suwargi Buwana Djati. Ketua Dewan Pengasuh Pesantren Al-Kahfi Cirebon dan Pesantren Universal Al-Islamy Kota Bandung, Dosen UIN Bandung