UINSGD.AC.ID (Humas) — Terlahir dan tumbuh berkembang di perkampungan Sukahaji, Melong, Cimahi Selatan tahun 70an memberikan kenangan tak terlupakan. Rumahku berada dipinggir pematang sawah luas di dekat Gunung Lagadar. Saat itu, listrik belumlah menerangi kampungku, sehingga terang dari bulan atau obor, lampu cempor, atau patromak adalah penerang malam yang penuh kenangan.
Salah satu moment yang senantiasa bergelayut dalam ingatan adalah moment berburu Lailatul Qadar. Di dalamnya, selubung Rindu akan datangnya Malam Agung di Langit Desa Melong Cimahi Selatan tahun 1970-80an terasa kuat. Di bawah langit bumi Pasundan yang memeluk gigil, sepuluh malam terakhir Ramadan turun bagai selubung rindu yang disingkap perlahan.
Sebagaimana di pelosok-pelosok perkampungan Jawa Barat, malam di Kampung Sukahaji Desa Melong, tak pernah benar-benar dibiarkan terlelap; ia terjaga oleh getar bibir para pencari cahaya Tuhan. Angin yang berembus dari lereng gunung Lagadar ke tepian sawah di pinggir kampung membawa aroma tanah basah, menyatu dengan wangi kayu bakar dari dapur-dapur tua dan hawa dingin yang menusuk tulang. Alam seolah bersekutu, mengantar jiwa-jiwa pada sebuah pengembaraan purba: memburu Lailatul Qadar, sebuah rahasia ilahiah yang timbangannya lebih berat dari seribu bulan.
Nyala Cempor sebagai Titian Malaikat
Andai kaki dilangkahkan di jalan-jalan setapak yang meliuk di antara jalan kampung dan deretan rumah panggung, kegelapan malam ganjil tak dibiarkan bertahta. Tangan-tangan keriput para sesepuh dan jemari lincah anak-anak silih berganti memantik api pada sumbu lampu cempor dan obor bambu. Nyala kemerahannya menari-nari ditiup angin, berjajar rapi menyerupai gugusan bintang yang sengaja diturunkan ke pangkuan bumi.
Cahaya-cahaya kecil itu bukanlah sekadar penerang lahiriah yang memecah pekat. Bulanpun mulai nampak seperti sabit dengan cahaya temaram. Ia adalah semacam bahasa isyarat dari hati yang berdebar menanti Kekasih—sebuah rute cahaya yang sengaja dihamparkan untuk memandu kepak sayap para malaikat yang turun membawa salam dan kedamaian hingga fajar menyingsing.
Gema Tajug dan Para Pejalan Malam
Dari celah bilik tajug dan langgar kayu yang mulai menua, menguar dengung napas kehidupan yang melampaui kefanaan jasmani. Ruang-ruang kecil dan temaram itu menjelma menjadi semesta tanpa batas, tempat para pejalan rohani menenggelamkan diri dalam samudra i’tikaf.
Suara tadarus Al-Qur’an mengalun syahdu, bersahut-sahutan dari satu tajug ke tajug lain, bagai mantra suci yang menjahit koyak langit malam. Para pemuda yang ngalong—memilih terjaga bagai burung malam demi menepis kantuk—duduk bersila di serambi mesjid. Mereka merapal zikir dalam keheningan, menanti saat tatapan ruhani mereka bertaut dengan kilatan rahasia Tuhan. Di titik itu, waktu kehilangan maknanya; jam pasir semesta seolah berhenti menetes.
Rantang Cinta dalam Sunyi Sahur
Namun, pengembaraan spiritual ini tak pernah luruh menjadi laku yang egoistik. Kearifan bumi Sunda meminjamkan tubuhnya pada kelembutan Islam melalui laku “nganteuran”.
Jika sedang beruntung, jelang larut malam, aroma harum nasi liwet, gurihnya opor, dan manisnya kolak menguar dari bilik-bilik dapur. Rantang-rantang berisi buah tangan diangsurkan melintasi batas-batas pekarangan, mengalir dari pintu ke pintu, hingga akhirnya berlabuh di pelataran tajug. Dalam suapan-suapan sunyi di sepertiga malam terakhir, terkandung ikhtiar luhur menyatukan titian ke langit dan jalinan ke bumi. Kasih sayang Sang Khalik diejawantahkan dalam falsafah silih asih, silih asah, silih asuh, di mana lapar dan dahaga dilebur menjadi perayaan cinta antarsesama manusia.
Menjemput Cahaya di Palung Kalbu
Pada garis akhirnya, berburu Lailatul Qadar di bilik-bilik perkampungan Jawa Barat adalah sebuah perjalanan hening untuk melipat jarak antara hamba dan Penciptanya. Ketika embun pertama jatuh membasahi ujung daun pisang dan gema azan subuh mengoyak sisa gulita, setiap hati yang terjaga melangkah pulang dengan satu rapalan bisu: semoga cahaya malam seribu bulan itu telah diam-diam menyusup, bukan berwujud keajaiban di hamparan langit yang kasat mata, melainkan rebah dan menetap kekal di kedalaman palung kalbu mereka.
Dadan Rusmana, Wakil Rektor I UIN Sunan Gunung Djati Bandung