Menghidupkan Dunia Literasi

Mengapa Mengunjungi Toko Buku Fisik Tetap Penting di Era Digital

UINSGD.AC.ID (Humas) — Di tengah derasnya arus digital yang semakin memudahkan akses informasi dan hiburan (terutama gempuran medsos), keberadaan toko-toko buku fisik (bookshop atau bookstore) tetap memiliki pesona dan nilai yang tak tergantikan. Kios-kios buku (bookstall atau bookstand), termasuk “independent bookstore”, memiliki peran yang sama. Tentunya, tempat-tempat ini bukan hanya tempat perdagangan buku (bookselling) atau tempat pameran buku (book fair), tetapi secara silent berkontribusi pada pembebtukan peradaban berbasis literasi.

Mengunjungi toko buku bukan sekadar soal membeli buku (buying activities), melainkan menyajikan berbagai pengalaman yang menyentuh lebih dari sekadar aktivitas fisik dari mata dan olah pikiran. Di sana, para pengunjung, khususnya anak-anak, diajak untuk merasakan keajaiban dunia (the amazing world) nyata yang berbeda dengan layar gadget yang mereka biasa sentuh. Mereka dapat mengakses buku-buku pelajaran (textbook), referensi (references book), novel, cerita bergambar (picture book, komik, manga, dll), termasuk buku anak-anak (children’s book).

Ketika para pengunjung melangkah ke dalam toko buku, mereka disambut oleh aroma khas kertas dan tinta, yang secara tak sadar membangkitkan rasa ingin tahu dan semangat belajar. Mereka dapat menyentuh, membuka halaman demi halaman, dan memilih buku yang benar-benar menarik hati mereka. Proses ini menumbuhkan kemampuan memilih secara mandiri dan melatih rasa cinta terhadap bacaan, yang sulit didapatkan hanya lewat buku digital.

Bagi kalangan anak-anak dan remaja, toko buku dapat membangun cinta membaca pada dengan menciptakan pengalaman yang menyenangkan dan interaktif. Dengan mengajak anak ke toko buku, mereka belajar bahwa tempat tersebut adalah sumber berbagai jenis buku yang menarik dan ramai dikunjungi orang lain yang juga membaca, sehingga menumbuhkan rasa ingin ikut serta (aktif). Di toko buku, anak-anak dapat secara bebas memilih buku yang sesuai minat mereka, yang meningkatkan semangat dan keterlibatan mereka dalam membaca.

Selain itu, toko buku menyediakan lingkungan yang kaya akan rangsangan visual dan tekstual, seperti warna dan gambar yang menarik, yang sangat disukai anak-anak dan membantu mereka mengeksplorasi isi buku dengan antusias. Kunjungan ke toko buku juga memungkinkan interaksi sosial dan kesempatan bagi orang tua untuk menjadi model membaca yang baik, membacakan buku dengan ekspresi yang tepat, serta membimbing anak dalam memilih bacaan yang sesuai usia.

Dengan suasana yang nyaman dan beragam pilihan buku, toko buku membantu anak-anak merasakan kesenangan membaca secara langsung dan membangun hubungan emosional dengan buku, yang sulit digantikan oleh media digital semata. Tidak jarang, toko-toko buku menyediakan “reading book” (pojok baca) agar pengunjung betah mengeksplorasi berbagai buku dan referensi yang tersedia, walau tidak jadi beli. Semua ini menjadikan toko buku sebagai sarana efektif sebagai “literacy medium” untuk menumbuhkan kecintaan membaca sejak dini.

Lebih dari itu, toko buku menjadi ruang sosial yang kaya akan interaksi. Anak-anak bisa bertemu dengan sesama pembaca muda, berdiskusi dengan orang tua atau bahkan mendapatkan rekomendasi langsung dari para penjaga toko yang berpengetahuan luas. Momen ini membangun ikatan emosional yang kuat dengan dunia literasi, jauh dari kesan pasif yang sering muncul saat membaca di layar.

Dalam era di mana segala sesuatu serba cepat dan instan, toko buku mengajarkan anak-anak untuk menikmati proses, bersabar, dan menghargai nilai sebuah buku sebagai jendela dunia yang penuh warna dan cerita. Melalui kunjungan ini, kita tidak hanya menumbuhkan kecintaan membaca, tetapi juga menanamkan nilai-nilai kebersamaan, kreativitas, dan imajinasi yang akan menjadi bekal berharga bagi masa depan mereka.

Jadi, meski teknologi terus berkembang, mengajak anak-anak ke toko buku fisik tetap menjadi langkah penting. Karena di sana, mereka menemukan lebih dari sekadar buku; mereka menemukan dunia yang hidup, penuh keajaiban, dan inspirasi yang tak bisa digantikan oleh layar digital manapun. Sebagian orang tumbuh menjadi “bookworm” (kutu buku), karena melekatnya aktivitas membaca bagi mereka.

Prof Dadan Rusmana, Wakil Rektor I UIN Sunan Gunung Djati Bandung 

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *