UINSGD.AC.ID (Humas) — Kepergian seorang intelektual sering kali meninggalkan jejak panjang dalam dunia pemikiran. Demikian pula wafatnya Syed Muhammad Naquib Al-Attas, seorang filsuf dan sarjana Muslim yang sepanjang hidupnya mendedikasikan diri pada pengembangan pemikiran pendidikan Islam dan peradaban ilmu.
Tokoh yang lahir di Bogor pada 5 September 1931 ini meninggal dunia dalam usia 94 tahun pada Ahad (8/3/2026), meninggalkan warisan gagasan yang terus hidup dalam diskursus keilmuan Islam.
Kabar wafatnya tokoh besar ini banyak dibagikan di media sosial. Salah satunya disampaikan oleh Ismail Fajri Alatas, pengurus Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia PBNU.

Prof Naquib Al-Attas bersama PM Malaysia Anwar Ibrahim. (Foto: dok istimewa)
“Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun. Profesor Kerajaan. Tan Sri Syed Muhammad Naquib al-Attas 1931–2026,” tulis Ismail Fajri Alatas di akun Facebook pribadinya sambil membagikan sejumlah foto kebersamaannya dengan almarhum.
Wakil Rektor I UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Dadan Rusmana, turut menyampaikan duka mendalam atas wafatnya tokoh pemikir Islam tersebut.
“Semoga Almarhum Syed Muhammad Naquib al-Attas diberikan tempat terbaik di sisi Allah SWT dan diampuni segala dosanya. Dan semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan dan ketabahan. Âmîn,” tegasnya, Selasa (10/3/2026)
Jejak Intelektual
Syed Muhammad Naquib Al-Attas dikenal sebagai filsuf, teolog, dan sarjana Muslim terkemuka yang banyak berkarya di Malaysia. Ia menempuh pendidikan di Universitas Malaya, kemudian melanjutkan studi ke McGill University hingga meraih gelar magister, dan memperoleh gelar doktor di University of London dalam bidang teologi dan filsafat Islam.
Sebagai pemikir, Al-Attas dikenal kritis terhadap pengaruh sekularisme dalam perkembangan ilmu pengetahuan modern. Ia menawarkan gagasan Islamisasi ilmu, yakni upaya menata kembali ilmu pengetahuan modern agar selaras dengan pandangan hidup dan epistemologi Islam.
Pendidikan sebagai Penanaman Adab
Dalam pandangan Al-Attas, pendidikan bukan sekadar proses transfer pengetahuan. Pendidikan adalah proses penanaman ilmu ke dalam diri manusia agar terbentuk manusia yang beradab.
Konsep penting yang ia kemukakan adalah adab, yakni kemampuan menempatkan sesuatu pada tempat yang semestinya. Menurutnya, krisis yang dihadapi umat Islam bukan semata kekurangan ilmu, melainkan hilangnya adab terhadap ilmu. Karena itu, pendidikan Islam harus diarahkan pada proses ta’dib, yakni pembentukan manusia yang memiliki ilmu sekaligus akhlak.
Tujuan Pendidikan Islam
Al-Attas menegaskan bahwa tujuan pendidikan Islam adalah membentuk manusia yang baik. Manusia yang baik tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki keseimbangan antara dimensi material dan spiritual.
Tujuan akhir pendidikan Islam adalah melahirkan insan kamil, manusia yang utuh dalam kepribadian, berilmu, beradab, dan memiliki kesadaran spiritual yang kuat.
Landasan pendidikan Islam menurut Al-Attas bertumpu pada tiga sumber utama, yaitu Al-Qur’an, As-Sunnah, dan ijtihad. Dari ketiga dasar tersebut diharapkan lahir generasi yang mampu mengembangkan ilmu sekaligus menjaga nilai-nilai keislaman.

Syed Muhammad Naquib Al Attas (sebelah kiri), cendekiawan Muslim yang mempunyai pemikiran brilian, baik mengenai definisi ilmu, sejarah, filsafat,kebudayaan Melayu, dan sebagainya (Foto: GENMUSLIM.id/dok: Instagram @pusakaperadaba)
Warisan Pemikiran
Syed Muhammad Naquib al-Attas tergolong pribadi produktif. Beberapa karya yang sudah ia tulis adalah The Concept of Education in Islam: A Framework for an Islamic Philosophy of Education (1980), Islam and Secularism (1978), Islam and the Philosophy of Science (1989), Aims and Objectives of Islamic Education (1979) (buku ini ditulis bersama tujuh orang termasuk di dalamnya Syed Muhammad Naquib al-Attas).
Selain karya-karya di atas, masih terdapat beberapa karya yang lain, terutama karya yang berkaitan erat dengan kebudayaan Islam Melayu. Beberapa di antaranya The Nature of Man and the Phsychology of the Human Soul (1990), The Intuition of Existence (1990), On Quaddity and Essence (1990), The Meaning and Experience of Happiness in Islam (1993), The Degrees of Existence (1994), dan Prolegomena to the Metaphysics of Islam: An Exposition of the Fundamental Elements of the Worldview of Islam (1995).
Kemudian ada pula beberapa karya lain seperti: Some Aspect of Sufism as Understood and Practiced among the Malays (1963), Raniri and the Wujudiyah of 17th century Acheh, Monograph of the Royal Asiatic Society (1966), The Origin of the Malay Sha’ir (1968), Preleminary Statement on a General Theory of the Islamization of the Malay-Indonesia Archipelago (1969), The Mysticism of Hamzah Fansuri (1969), Concluding Postcript to hte Malay Sha’ir (1971), The Correct Date of the Trengganu Inscription (1971), dan Islam dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu (1972).
Dengan mendirikan International Institute of Islamic Thought and Civilization, sebuah lembaga yang menjadi pusat penting bagi kajian peradaban dan pemikiran Islam modern.
Kepergian Al-Attas menutup perjalanan hidup seorang intelektual besar. Namun gagasan-gagasannya tentang ilmu, adab, dan peradaban Islam tetap hidup dan terus menginspirasi dunia pendidikan Islam hingga hari ini.