(Sebuah Narasi tentang Kehambaan dan Ketinggian Derajat)
Pada halaqah ta’lim pagi ini Sang Guru berupaya memahamkan murid-muridnya, di sebuah zawiyah berlatar perkebunan nan menghijau sehabis hujan di malam hari.
Kali ini sebagian untaian hikmah yang meluncur dari tuturannya adalah “hikmah dari istighfar dan berdo’anya Kanjeng Rasul “Al-Musthafa” (Sang Kekasih Allâh).
——
Dalam nalar manusia biasa, istighfar (memohon ampun) diposisikan obat bagi mereka yang sakit ruhani karena dosa. Doa adalah senjata bagi mereka yang merasa kurang. Namun, logika ini terhenti di hadapan sosok agung Nabi Muhammad SAW. Beliau adalah Al-Ma’shum, yang dijaga dari dosa. Beliau adalah Habibullah (Kekasih Allah), yang telah dijamin surga baginya, bahkan dosa-dosanya yang lalu dan yang akan datang telah diampuni (QS. Al-Fath: 2).
Lantas, mengapa lisan mulia Kanjeng Rasul saw itu masih basah membasuh jiwanya dengan istighfar 70 hingga 100 kali sehari? Mengapa kaki mulia itu masih bengkak karena berdiri dalam doa dan salat malam?
Jawabannya bukan karena beliau berdosa, melainkan karena cinta dan kesadaran akan keagungan Allah yang tak bertepi.
Bagi Baginda Rasul SAW, istighfar bukanlah “penghapus noda hitam”, melainkan “anak tangga kenaikan”. Setiap detik, makrifat (pengenalan) Nabi saw. kepada Allah terus bertambah. Ketika beliau melangkah ke derajat makrifat yang lebih tinggi hari ini, beliau memandang ibadah beliau kemarin masih “kurang” dibandingkan pengenalan beliau hari ini. Maka, beliau beristighfar atas “kekurangan” kualitas ibadah masa lalu dibandingkan kualitas masa kini yang lebih sempurna.
Istighfar Nabi merupakan manifestasi Kehambaan (Ubudiyah). Baginda Rasul ingin mengajarkan bahwa setinggi apapun pangkat seorang manusia, ia tetaplah hamba yang butuh (faqir) kepada Rabb-nya. Doa dan istighfar beliau adalah proklamasi: “Aku adalah hamba, Engkau adalah Tuhan.”
—-
Inti Hikmah
Jika dirangkum tuturan Sang Guru, Nabi Muhammad SAW terus berdoa dan beristighfar karena tiga alasan utama menurut para ulama.
Pertama, peningkatan Derajat (Taraqqi): Beliau selalu naik kelas setiap saat, dan memohon ampun atas “kelas” sebelumnya yang lebih rendah.
Kedua, manifestasi kehambaan dan syukur, yakni Menunjukkan bahwa beliau tetaplah hamba yang fakir di hadapan Allah Yang Maha Kaya.
Ketiga, pendidikan Umat, yakni menampar kesombongan kita yang sering merasa cukup dengan sedikit amal.
Sebagaimana dikatakan oleh seorang penyair tentang munajat Nabi:
“Dosa-dosa kami membuat kami menangis karena takut akan hukuman-Nya, sedangkan tangisan Nabi dalam istighfarnya adalah karena rindu akan kedekatan-Nya.”
Dadan Rusmana Wakil Rektor I UIN Sunan Gunung Djati Bandung.