UINSGD.AC.ID (Humas) — Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan bahwa kepedulian terhadap lingkungan merupakan bagian dari iman dan tanggung jawab spiritual manusia kepada Tuhan.
Hal ini disampaikan Menag saat menerima kunjungan Duta Besar Singapura untuk Indonesia, Kwok Fook Seng, beserta delegasi Leaders & Administration Programme (LAP) di Masjid Istiqlal, Jakarta, Selasa (4/11/2025).
Menag menjelaskan berbagai inovasi ramah lingkungan yang diterapkan di Masjid Istiqlal. Inovasi itu antara lain: penggunaan panel surya, sistem pengelolaan air hujan, hingga efisiensi energi di seluruh area masjid.
“Semua upaya ini merupakan bentuk dakwah ekologis yang lahir dari kesadaran iman. Masjid Istiqlal bukan hanya bersih, tetapi juga hijau. Kami merasakan efisiensi dan manfaat besar dari sistem yang diterapkan,” ujar Menag.
Transformasi Istiqlal menjadi masjid ramah lingkungan merupakan wujud nyata integrasi antara nilai spiritual dan tanggung jawab ekologis. Menag menyebut konsep tersebut sejalan dengan prinsip ekoteologi, yaitu pemahaman teologis yang menegaskan hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
“Iman sejati harus mendorong kita untuk menjaga alam. Cara kita memperlakukan lingkungan mencerminkan kedalaman spiritualitas kita,” tegasnya.
Masjid Istiqlal kini menjadi pusat pembelajaran global tentang moderasi beragama dan kesadaran ekologis. “Renovasi besar yang dilakukan pada tahun 2019 menjadikan masjid ini meraih penghargaan Green Mosque Award dari International Finance Corporation (IFC), menjadikannya rumah ibadah ramah lingkungan pertama di dunia,” kata sosok yang juga Imam Besar Masjid Istiqlal ini
“Melalui ekoteologi, kita menyatukan kesalehan spiritual, sosial, dan ekologis. Ini adalah dakwah baru yang relevan dengan tantangan zaman,” pungkasnya.