Membangun Ketahanan Pangan Melalui Padi dan Palawija

[www.uinsgd.ac.id] Himpunan Mahasiswa Jurusan Agroteknologi Fakultas Sains & Teknologi (FST) UIN SGD Bandung menggelar Kuliah Umum bersama Ir. H. Wahid Saripudin, MM (Dinas Pertanian Provinsi Jawa Barat) yang bertajuk “Pengembangan Komoditas Padi dan Palawija dalam rangka Membangun Ketahanan Pangan di Jawa Barat” yang dibuka secara resmi oleh Dekan FST, Dr. H. M. Subandi, Drs. Ir. MP. di ruang Senat Universitas, gedung Al-Jamial lantai II, Kamis (28/2).

Menurut Asep Zam-zam, Ketua Himputan Mahasiswa Agroteknologi, tujuan kuliah umum ini agar Mahasiswa lebih mengetahui kondisi riil pengembangan komoditas dan palawija dalam membangun ketahanan pangan di Jawa Barat. Sehingga bisa merubah paradigma berfikir mahasiswa bukan hanya sekedar matematis yang didapatkan di bangku perkuliahan, tetapi bisa lebih mengetahui kondisi nyata pangan di jawa barat dan mengetahui langkah-langkah apa yang dilakukan.

Dalam paparannya, Wahid menjelaskan bahwa ketahanan pangan melalui padi dan palawija telah diisyaratkan dalam ayat suci Al-Qur’an, seperti surat Abbasa,”  Maka hendaklah manusia meperhatikan makanannya, Sesungguhnya kami telah menurunkan hujan selebat-lebatnya, Kemudian kami belah bumi dengan sebaik-baiknya”.” Lalu Kami tumbuhkan biji-bijian padanya, anggur dan sayuran, zaitun dan kurma, kebun-kebun yg lebat, buah-buahan dan rumput-rumput, Untuk kepentingan kamu dan ternakmu”.

Ia juga mengutif Surat Yusuf yang menyakan, Allah memerintahkan Yusuf untuk bercocok tanam. “Selain karena memiliki landasan teologis, ada beberapa alasan kenapa kita harus membangun ketahanan pangan; Pertama, Pangan adalah bagian dari basic  human need yang tidak ada substitusinya. Kedua, Permintaan beras, jagung dan kedelai terus meningkat seiring dengan laju pertumbuhan penduduk. Ketiga, Konsumsi beras per kapita masih  cukup tinggi 137 kg/perkapita/tahun.

“Keempat. Perubahan iklim menjadi lebih ekstrim akibat pemanasan global berdampak pada terganggunya produksi pangan di dunia. Kelima, Kompetisi sumber energi (bio fuel) dan sumber pangan yang mengganggu suplai. Keenam,  Pasar beras dunia menjadi terbatas sehingga kita harus swasembada beras berkelanjutan dan memiliki cadangan beras yang memadai. Ketujuh, Beras masih sebagai kontributor utama terhadap inflasi sehingga harga beras harus terkendali. Kedelapan, Pentingnya kemandirian pangan berkelanjutan dikarenakan masih adanya kerentanan dan kerawanan(krisis) pangan di berbagai daerah.”Paparnya.

Menurut pejabat di lingkuntan Dinas Pertanian Jawa Barat tersebut, strategi yang harus dilakukan untuk meningkatkan ketahanan pangan adalah dengan meningkatkan produksi melalui; Pertama, Meningkatkan penggunaan benih unggul bersertifikat. Kedua, Pemilihan varietas. Ketiga, Penerapan teknologi budidaya yang baik (SLPTT). Keempat, Perluasan areal intensifikasii. Kelima, mengurangi kehilangan hasil. Keenam, Mengurangi kesenjangan potensi varietas dengan produksi ditingkat petani.

Ia juga menyinggung, banyak pakan alternative yang bisa dikembangkan di Jawa Barat seperti ubi kayu, ubi singkong, sukun, ganyong, dan aneka umbi-umbian lainnya seperti talas, kimpul, ganyong, garut, gembili, uwi, suweg, dan gadung. ***[Dudi, Ibn Ghifarie]

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *