UINSGD.AC.ID (Humas) — Ramadhan merupakan bulan yang didambakan oleh umat Islam, di dalamnya ada suasana yang istimewa dibanding bulan lainnya baik lahir maupun batin. Secara lahir, aktivitas umat Islam lebih mementingkan badah ritual yaitu shaum tidak makan dan tidak minum di siang hari dan berbuka di malam hari. Sedangkan secara batin atau ruhani, umat Islam sedang berusaha menciptakan ketenangan dan ketenteraman baik individu, keluarga maupun dalam masyarakat. Cipta suasanapun dilakukan oleh umat Islam termasuk bagi yang mampu secara ekonomi merencanakan berbondong-bondong pergi menunaikan umrah.
Beberapa alasan yang dapat dipahami dari fenomena melonjaknya jumlah jemaah umrah di bulan Ramadhan. Pertama, sabda Rasulullah Saw yang memotivasi umat untuk berumrah di bulan Ramadhan. Betapa sabda Rasulullah Saw berdampak sangat dahsyat, setiap ucapan dan tindakannya menjadi rujukan bagi umat yang senantiasa cinta dan taat. Salahsatu sabdanya: “Sesungguhnya umrah di bulan Ramadhan seperti berhaji bersamaku.” (HR. Bukhari no. 1863). Sabda ini berdampak pada minat umat Islam saat bertemu bulan suci Ramadhan berbondong-bondong datang ke tanah haram untuk menunaikan ibadah umrah sekaligus ibadah qiyamu ramadhan.
Kedua, sebagaimana haji, pada bulan Ramadhan umat Islam melaksanakan empat rukun Islam secara paralel yaitu sahadat, shalat, zakat, dan shaum sehingga menjadi kebanggaan tersendiri dan diyakini akan menjadi kebanggaan kelak di akhirat, sehingga umrah pada bulan Ramadhan dikesani dekat dengan suasana musim haji. Adapun pada bulan Dzulhijjah, umat Islam melaksanakan tiga rukun Islam secara paralel yaitu sahadat, shalat, dan haji plus berkurban. Atas alasan ini, nampaknya umrah di bulan Ramadhan memilki daya tarik tersendiri.
Ketiga, dalam sejarah masyarakat Arab, bulan Ramadhan merupakan bulan yang penuh tantangan untuk peningkatan spiritual mendekatkan diri kepada Allah SWT. Jawwad ‘Ali, sejarawan dari Irak dalam karyanya berjudul “al-Mufasshal fi Tarikh al-‘Arab qabla al-Islam” menyebut bahwa agama-agama pra-Islam seperti Nashrani, Yahudi dan Shabi’in melaksanakan puasa. Shabi’in lebih dekat dengan Islam melaksanakan puasa 30 hari dan diakhiri dengan hari raya. Jawwad ‘Ali menemukan dua kosakata yang bertautan dengan tradisi puasa, yakni al-Shaum dan al-Shamit. Pertama, al-shaum untuk memaknai tindakan menahan diri dari makan minum atau berhubungan dengan pasangan. Kedua, al-shamit, untuk memaknai tindakan berbicara, lebih banyak menahan diri untuk berbicara dan diam.
Keempat, pada bulan Ramadhan ada peristiwa bersejarah yaitu nuzulul qur an, awal turunnya Al-Quran yaitu surat Al-‘Alaq ayat 1 sampai dengan 5 di Goa Hira tepatnya di Jabal Nur Kota Mekkah. Pada perkembangan saat ini, Mekkah sebagai kota kelahiran Rasulullah yang di dalamnya terdapat lokasi untuk ritual haji dan umrah disebut sebagai kota Quran.
Sejak masuk gerbang kota Mekkah terdapat gapura yang dihiasi dengan bangunan replika mushaf Al-Quran raksasa, sudah terasa suasana ruhani yang mendekatkan pada Al-Quran.
Terlebih pada bulan Ramadhan tampaknya akan menambah syahdu merasakan perjuangan dakwah Rasulullah dalam membangun tatanan peradaban masyarakat Mekkah untuk menyembah hanya kepada Allah SWT, memasrahkan diri menjalankan syariat Islam dan meneladani akhlak Rasulullah Saw melalui gerbang membaca, memahami dan berusaha mengamalkan kandungan Al-Quran di bulan Ramadhan. Wallahu a’lam
Rohmanur Aziz, Pembimbing Khalifah Tour Bandung, dan Ketua Program Studi Pengembangan Masyarakat Islam (Islamic Community Development) FDK UIN Sunan Gunung Djati Bandung.