UINSGD.AC.ID (Humas) — Kampus adalah tempat ilmu bertumbuh, menjadi rumah nilai tempat manusia ditempa menjadi jiwa bangsa. Dari ruang kuliah melahirkan gagasan, dari diskusi menumbuhkan kesadaran, dan dari penelitian membentuk tanggung jawab peradaban.
Namun di tengah derasnya arus digital dan kompetisi global yang menuntut kecepatan, kita sering lupa bahwa inti dari pendidikan tinggi bukan sekadar mencetak tenaga kerja, melainkan melahirkan manusia berkarakter dan insan yang berpikir dengan nalar dan peka dengan nurani. Di sinilah peran pemuda diuji, menjadi generasi yang bukan hanya cerdas secara akademik, tetapi juga arif secara moral dan spiritual.
Kebangkitan Pemuda dan Makna Sumpah yang Tak Pernah Usai
Sumpah Pemuda 1928 bukanlah sekadar peristiwa sejarah, tetapi pernyataan eksistensial tentang kesadaran manusia Indonesia akan takdir kebangsaannya. Kebangkitan saat itu menjadi momen ketika pemuda menolak sekat, namun memiliki tujuan yang sama menyatukan bahasa dan cita-cita untuk masa depan yang belum terlihat. Kini, di abad ke-21, sumpah itu menuntut pembaruan makna, dari ‘satu tanah air’ menjadi ‘satu tanggung jawab peradaban’.
Ibn Khaldun dalam Muqaddimah-nya mengingatkan, “Peradaban bertahan bukan karena kekayaan, tetapi karena nilai-nilai yang dijaga oleh generasi mudanya.” Artinya, kemajuan bangsa tidak akan lahir dari infrastruktur semata, melainkan dari intelektualitas yang bermoral. Dan kampus adalah tempat di mana nilai seharusnya dirawat, nalar yang kritis terus berjalan beriring dengan iman yang hidup.
Manusia Kampus: Dari Ilmu ke Hikmah
Al-Ghazali pernah menulis, ‘Ilmu tanpa amal adalah kegilaan, dan amal tanpa ilmu adalah kesia-siaan.’ Kutipan itu menegaskan bahwa pendidikan sejati tidak berhenti pada pengetahuan, tetapi berlanjut menjadi kebijaksanaan (hikmah). Esensi ‘SDM unggul’ yang kini digaungkan pemerintah dan dunia pendidikan, bahwa bukan sekadar manusia yang kompeten, tapi juga manusia yang bermakna yang menjadikan ilmu sebagai bukan sekedar karier, tetapi juga sarana membangun nilai.
Dalam konteks modern, Ali Syariati menyebut pemuda sebagai ‘mufakkir dan mujahid zaman’, adalah pemikir dan pejuang nilai, dan mengingatkan bahwa generasi muda harus memadukan intelektualitas dengan keberanian moral. Sebab, ilmu tanpa idealisme hanya akan melahirkan teknokrat tanpa jiwa, sementara idealisme tanpa ilmu akan melahirkan romantisisme tanpa arah. Kampus harus menjadi ruang sintesis antara rasionalitas dan spiritualitas.
Pemuda sebagai Energi Sejarah dan Etika Masa Depan
Sejarah Islam membuktikan betapa pemuda selalu berada di jantung kebangkitan peradaban. Usia Rasulullah SAW ketika menerima wahyu pertama adalah 40 tahun, usia kematangan seorang pemuda. Seorang Ali bin Abi Thalib masih belia ketika menjadi pembela dakwah pertama. Begitu pula dalam sejarah Nusantara, tokoh seperti HOS Tjokroaminoto, Soekarno, Hatta, dan Agus Salim menemukan pijakan intelektualnya di ruang-ruang diskusi dan organisasi kampus.
Pemikir besar seperti Muhammad Iqbal menggambarkan pemuda sebagai ‘elang yang terbang tinggi karena matanya menatap jauh ke masa depan.’ Iqbal menyeru agar pemuda tidak menjadi pengikut zaman, melainkan pencipta zaman. Generasi muda bukan hanya pewaris, melainkan pencipta sejarah. Baginya, pemuda sejati bukan yang sekadar beradaptasi dengan modernitas, tetapi yang menanam nilai di tengah arus perubahan.
Dalam konteks Indonesia modern, Buya Hamka menulis, ‘Bangsa yang besar ialah bangsa yang sanggup menanamkan cita-cita di hati pemudanya.’ Maka, tugas perguruan tinggi tidak hanya membekali mahasiswa dengan kompetensi, tetapi menyalakan idealisme. Karena masa depan bangsa tidak ditentukan oleh banyaknya sarjana, tetapi oleh banyaknya manusia yang berpikir dan bertindak dengan nurani kebangsaan. Pemuda menjadi penjaga akal sehat bangsa di tengah hiruk-pikuk politik, ekonomi, dan budaya yang sering kehilangan arah.
Filsuf kontemporer seperti Hannah Arendt memandang pemuda sebagai ‘manifestasi kelahiran yang terus menerus’ (natality). Setiap generasi muda adalah kesempatan bagi dunia untuk lahir kembali. Artinya, setiap mahasiswa di kampus membawa potensi melahirkan gagasan baru, yang dapat memperbarui dunia yang mulai menua oleh rutinitas dan apatisme. Pemuda adalah energi pembaruan sejarah.
Sementara Paulo Freire, sang tokoh pendidikan pembebasan menegaskan bahwa ‘pendidikan sejati adalah proses kesadaran untuk mengubah dunia.’ Dalam konteks kampus, mahasiswa bukan obyek pendidikan, melainkan subyek perubahan. Freire percaya bahwa generasi muda harus menjadi insan kritis yang tidak sekadar membaca teks, tapi juga membaca realitas dan menulis sejarahnya sendiri.
Melengkapi pandangan di atas, seorang filsuf eksistensialis Karl Jaspers menuliskan bahwa ‘pendidikan adalah seni membangkitkan kesadaran akan eksistensi.’ Maka kampus bukan hanya tempat menyiapkan profesi, tetapi juga tempat manusia menemukan makna hidupnya sebagai bagian dari tanggung jawab kemanusiaan.
Pemuda yang sadar eksistensinya akan melampaui batas keahlian dan menjelma menjadi penjaga nilai kehidupan. Maka, kampus bukan sekadar lembaga pengetahuan, tetapi ruang penuntunan nilai kemanusiaan.
Kampus Sebagai Rumah Nilai dan Arena Peradaban
Jika kita renungkan, banyak peradaban besar runtuh bukan karena kekurangan sumber daya, tetapi karena kehilangan makna. Nurcholish Madjid pernah menulis, ‘Pendidikan tinggi yang kehilangan nilai spiritual akan kehilangan orientasi kemanusiaannya.’ Maka di era digitalisasi dan AI, hal ini semakin nyata dimana manusia makin cerdas, tetapi kadang kehilangan arah.
Oleh karena itu, kampus masa kini harus bertransformasi dari sekadar menara gading menjadi menara cahaya, tempat ilmu menginspirasi kehidupan nyata. Pemuda harus menjadi agen perubahan yang tak hanya berpikir kritis terhadap dunia, tetapi juga berani menanamkan nilai. Melalui kampus sebagai rumah nilai maka makna sejati SDM unggul di arena peradaban menjadi harapan baru yang melahirkan manusia yang menggabungkan nalar, nurani, dan nilai.
Dari Sumpah ke Tanggung Jawab
Sumpah Pemuda yang diikrarkan hampir seabad lalu bukan hanya teks sejarah yang dihafal tiap Oktober, melainkan pesan abadi, bahwa masa depan bangsa selalu bermula dari kesadaran pemuda.
Kini, generasi muda Indonesia berdiri di antara dua dunia, dunia maya yang menantang dan dunia nyata yang menunggu perubahan. Keduanya tentu membutuhkan manusia kampus yang tidak hanya cakap berpikir, tetapi juga teguh memegang nilai.
Sebagaimana diungkapkan Filsuf Iqbal, ‘Bangunlah dunia di dalam dirimu, niscaya dunia luar akan mengikutinya.’ Inilah makna terdalam dari menjadi manusia kampus, bukan sekadar pencari ilmu, tetapi penjaga jiwa bangsa. Mereka yang berani bermimpi, berilmu, dan berbuat dengan kesadaran bahwa setiap langkah di kampus hari ini adalah fondasi bagi peradaban esok.
Sumpah Pemuda kini bukan lagi sekadar teks yang diucap pada setiap perayaannya, melainkan kesadaran dan semangat di setiap hari, bahwa masa depan bangsa terletak di tangan para pemuda yang berpikir jernih, bekerja jujur, dan hidup dengan nilai. Di sanalah makna terdalam dari “Manusia Kampus, Jiwa Bangsa’ mereka yang berani bermimpi dengan ilmu, berjuang dengan nilai, dan membangun bangsa dengan nurani. Wallahu’a’lam bis showab.
Lilis Sulastri, Guru Besar Ilmu Manajemen FEBI UIN Sunan Gunung Djati Bandung.