Lebaran dan Ekonomi Sosial

Suasana lebaran idul fitri ©Ilustrasi dibuat AI

UINSGD.AC.ID (Humas) — Lebaran di Indonesia adalah fenomena Big Bang ekonomi yang unik. Jika kebijakan fiskal negara sering kali terkendala birokrasi dalam pemerataan pendapatan, maka Lebaran adalah mekanisme pasar sosial yang melakukan tugas secara sukarela dan massif, menjadi momen terjadi likuiditas dari pusat-pusat pertumbuhan (kota) tumpah ke sel-sel terkecil di pelosok desa.

Fenomena The Reverse Flow of Wealth tidak sekadar konsumerisme, namun menjadi bentuk resiliensi akar rumput yang menjaga stabilitas ekonomi nasional dari guncangan global melalui perputaran uang yang organik dan orisinil.

Lebaran adalah mekanisme pasar sosial yang melakukan tugas secara sukarela dan massif karena aliran uang (money flow) berbalik arah.

Jakarta memuntahkan likuiditasnya ke daerah, juga kota kota besar lainnya di Indoneisa yang menciptakan resiliensi ekonomi akar rumput untuk menjaga stabilitas nasional dari guncangan ekonomi global.

Suasana bahagia lebaran idul fitri ©Ilustrasi dibuat AIGengsi Veblen dan Social Capital

Mengapa seorang perantau yang sehari-harinya hidup hemat di kamar kos sempit Jakarta, tiba tiba rela menyewa mobil mewah atau membeli gawai terbaru saat pulang kampung? Dalam ekonomi murni, tindakan tersebut tentu dianggap irasional.

Namun, sosiolog dan ekonom Thorstein Veblen memberikan penjelasan melalui teori Conspicuous Consumption, adalah konsumsi mencolok yang bertujuan untuk mengomunikasikan status sosial.

Dalam konteks Lebaran, barang konsumsi bukan lagi sekadar pemuas kebutuhan fungsional, melainkan instrumen komunikasi status. Di banyak struktur masyarakat kita, keberhasilan seseorang diukur dari apa yang terlihat secara kasat mata saat menginjakkan kaki kembali di tanah kelahiran.

Konsumsi mencolok menjadi semacam legacy keberhasilan yang memvalidasi perjuangan mereka di perantauan selama setahun penuh. Namun paradoksnya, tekanan sosial tersebut menciptakan beban ekonomi yang nyata.

Fenomena tampil mapan saat Lebaran sering kali memaksa individu melakukan dissaving (mengambil tabungan) atau bahkan terjebak dalam skema utang konsumtif seperti paylater. Dan dari sudut pandang ekonomi perilaku, hal tersebut menjadi ‘biaya gengsi’ atau harga yang dibayar untuk membeli pengakuan sosial.

Walhasil, utilitas atau kepuasan tidak datang dari barang tersebut, melainkan dari tatapan kagum tetangga atau rasa bangga orang tua. Lebaran menjadi panggung teater ekonomi di mana setiap orang memainkan peran sebagai sosok yang sukses, meski panggung tersebut sering kali hanya bertahan selama tujuh hari.

Pandangan lain dari seorang filsuf kontemporer Byung-Chul Han dalam The Burnout Society yang memberikan peringatan tajam, bahwa manusia modern sering kali mengeksploitasi diri sendiri demi dicitrakan sukses sebagai subjek prestasi.

Bagi pemudik, tampil mapan bukan lagi pilihan, melainkan beban eksistensial. Gengsi telah menjadi komoditas ekonomi dan sosial yang sangat mahal.

Hal yang sedikit berbeda terkait ekonomi sosial Lebaran digerakkan oleh apa yang disebut Pierre Bourdieu sebagai Social Capital. Terjadi pergeseran dari ego individu ke kolektivitas, Lebaran adalah momen ‘rekapitalisasi’ besar-besaran.

Ekonomi sosial melihat bahwa kekayaan tidak hanya berupa uang di bank (economic capital), tetapi juga jaring pengaman berupa kepercayaan, informasi, dan persaudaraan.

Saling maaf-maaf lebaran idul fitri ©Ilustrasi dibuat AI

Ritual silaturahmi, seperti  open house, dan jamuan makan adalah bentuk rekapitalisasi hubungan. Di meja makan Lebaran, terjadi pertukaran informasi strategis terkait peluang kerja, jejaring bisnis, hingga bantuan modal antar anggota keluarga.

Info lowongan kerja di kota, peluang bisnis baru di daerah, hingga perjodohan yang secara ekonomi merupakan penyatuan aset keluarga. Tanpa sadar, ritual yang menurunkan biaya transaksi (transaction cost) dalam bisnis dan pencarian kerja karena adanya unsur kepercayaan (trust) yang telah diperbarui melalui maaf memaafkan.

Lebih jauh lagi, instrumen Zakat, Infak, dan Sedekah (ZIS) yang mencapai puncaknya di bulan Ramadan dan Syawal berfungsi sebagai Social Safety Net (Jaring Pengaman Sosial) organik.

Di saat sistem jaminan sosial negara mungkin memiliki keterbatasan jangkauan, maka ‘ekonomi berbagi’ dengan berbagai instrumennya tersebut memastikan bahwa mereka yang paling rentan di desa tetap bisa merasakan kecukupan pangan. Suatu pola dan sisi paling manusiawi dari ekonomi Lebaran, tidak digerakkan oleh motif mencari untung (profit-oriented), melainkan oleh motif kewajiban moral dan empati dan membantu menjaga stabilitas ekonomi mikro di pedesaan agar tetap terjaga dari guncangan.

Suasana lebaran idul fitri ©Ilustrasi dibuat AIPost Lebaran Blues

Secara makro, lonjakan konsumsi lebaran memberikan napas panjang bagi pertumbuhan ekonomi kuartalan nasional. Namun, kita tidak bisa menutup mata pada sisi gelap lainnya, Post-Lebaran Blues.

Setelah euforia berakhir, banyak rumah tangga yang mengalami defisit anggaran yang parah di bulan berikutnya. Fenomena yang diperparah dengan maraknya kemudahan akses pinjaman daring yang sering kali digunakan untuk membiayai fenomena gengsi veblen.

Jika tidak dikelola dengan literasi keuangan yang baik, ledakan ekonomi Lebaran yang seharusnya menjadi stimulus, bisa berubah menjadi jebakan utang jangka panjang bagi masyarakat kelas menengah dan bawah.

Tantangan besar bagi pembuat kebijakan adalah bagaimana mengarahkan energi konsumsi yang luar biasa di momen lebaran menjadi investasi produktif di daerah asal pemudik, sehingga uang yang mengalir ke desa tidak langsung terbang kembali ke kota melalui belanja barang barang impor atau gaya hidup semu belaka.

Menuju Ekonomi Syukur

Lebaran membuktikan bahwa manusia bukan sekadar Homo Economicus yang egois, melainkan makhluk sosial yang menemukan makna dalam distribusi. Ekonomi yang paling kuat di Indonesia bukanlah yang berlandaskan kompetisi murni, melainkan yang berakar pada silaturahmi dan empati.

Tantangan kita ke depan adalah bagaimana mengubah momentum syukur menjadi mesin penggerak pemerataan ekonomi yang berkelanjutan, bukan sekadar pesta pora sesaat yang menyisakan utang berkepanjangan.

Ekonomi Lebaran adalah potret unik dari pertautan antara logika pasar, gengsi sosial, dan ketulusan spiritual. Dan membuktikan bahwa manusia bukan sekadar Homo Economicus yang egois, melainkan makhluk sosial yang rela mendistribusikan kekayaannya demi memelihara ikatan batin.

Jika dikelola dengan bijak, momentum lebaran bisa menjadi mesin penggerak pemerataan ekonomi yang jauh lebih ampuh daripada teori pembangunan manapun. Lebaran mengajarkan kita bahwa ekonomi sejati adalah tentang bagaimana kekayaan mengalir, memberi nilai dan arti, serta menghidupkan kembali harapan di sudut-sudut negeri yang paling sunyi. Wallahu’a’lam bis showaab.

 

Prof. Dr. Hj. Lilis Sulastri., S.Ag., MM., CPHRM., CHRA, Guru Besar Ilmu Manajemen FEBI UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Ketua Umum Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Kota Bandung, Sekretaris Departemen Penguatan SDM Lembaga Keuangan Syariah MPP ICMI

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *