Kunci Kerukunan, Rahmatan Lil Alamin dalam Tindakan

UINSGD.AC.ID (Humas) — Wakil Menteri Agama (Wamenag) Romo Muhammad Syafii menyampaikan pesan mendalam mengenai pentingnya menjaga kerukunan umat beragama sebagai modal fundamental bangsa. Romo Syafii menegaskan bahwa kerukunan sejati terwujud ketika seluruh umat menjalankan ajaran agama masing-masing secara benar, bukan sekadar memamerkan ketakwaan.

Untuk memperkuat pesannya, Romo Syafii menyelipkan kisah inspiratif dari masa kecilnya di Kota Medan, yang menjadi bukti nyata bahwa kerukunan dapat tumbuh secara otomatis di tengah masyarakat majemuk. Kisah ini disampaikan saat memimpin pembinaan ASN di Kanwil Kemenag Aceh, Banda Aceh.

Romo Syafii berbagi kisah masa kecilnya di lingkungan multireligius yang terdiri dari 18 rumah tangga: 15 Muslim, 2 Katolik, dan 1 Buddha. Wamenag menegaskan bahwa kehidupan di sana berjalan harmonis tanpa adanya “pelajaran” formal tentang toleransi.

“Tetangga saya yang paling dekat 18 rumah tangga. 18 rumah tangga ini, itu 15 diantaranya beragama Islam, 2 Katolik, 1 Buddha. Tidak ada ajaran toleransi secara khusus. Tidak ada, saya ulang lagi, tidak ada,” tegasnya, Sabtu (27/9/2025).

Kerukunan terjadi secara alami, bukan karena kurikulum formal.

Romo menyampaikan bahwa kerukunan ini terwujud dalam tindakan kecil sehari-hari. Ia bercerita bagaimana tetangga berbeda agama saling membantu dengan sigap. Misalnya, saat tetangga berduka, Ibunda Romo Syafii tanpa ragu membantu, bahkan meminta Romo untuk turut mencarikan pendeta guna mengurus jenazah bagi tetangga yang beragama Katolik.

“Saat ada tetangga yang berduka, ibu saya langsung membantu di rumah duka, bahkan membantu mencarikan pendeta untuk mengurus jenazah bagi tetangga yang Katolik,” kenangnya.

Wamenag menegaskan bahwa ASN Kementerian Agama wajib menjadi teladan dalam menjaga persatuan karena membawa label agama. Beliau menekankan bahwa agama diturunkan untuk membawa kasih sayang dan kesejahteraan, bukan perpecahan. Hal ini sejalan dengan ajaran Islam, “Wa mā arsalnāka illā raḥmatal lil-‘ālamīn”, yang artinya Kami tidak mengutus engkau (Nabi Muhammad), kecuali sebagai rahmat bagi seluruh alam” – Q.S. Al-Anbiya: 107.

Menurutnya tindakan yang menyejukkan itu lahir karena pengamalan ajaran agama yang mendalam.

“Seberapa dalam ilmu agama ini bukan soal dipamerkan, melainkan harus diamalkan, diperhatikan, dan dirasakan,” ujar Romo Syafii.

Setiap agama pada dasarnya memiliki ajaran yang sama, yaitu membangun harmoni, kerja sama, dan kolaborasi untuk kehidupan yang lebih baik.

“Jika seluruh umat di setiap agama mentaati dan mengamalkan ajarannya masing-masing dengan baik, maka kerukunan itu akan terwujud. Ini adalah modal kita untuk menjadi manusia yang mulia di dunia,” jelasnya.

Menutup agenda pembinaan, Kanwil Kemenag Aceh menyerahkan cendera mata berupa buku berjudul “Moderasi Beragama di Negeri Syariat” kepada Wamenag. Buku ini menghimpun gagasan dan pengalaman para Penyuluh Agama di Aceh dalam membina masyarakat. Kehadiran buku ini menjadi wujud nyata dari ikhtiar kolektif ASN Kemenag Aceh untuk menghadirkan nilai-nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin, yang artinya membawa kedamaian, kasih sayang, dan keadilan di tengah kekayaan tradisi serta keberagaman budaya dan cara pandang.

Kisah masa kecil Wamenag ini menjadi pengingat bahwa kerukunan sejati bukanlah produk program, melainkan hasil dari pengamalan nilai-nilai luhur dan komitmen untuk menjadi rahmat bagi sesama.

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *