UINSGD.AC.ID (Humas) — Dalam upaya mengintegrasikan ilmu pengetahuan, teknologi, dan nilai-nilai keislaman, UIN Sunan Gunung Djati Bandung menggelar kuliah umum bertajuk “Mengarusutamakan Teknologi untuk Merawat Jagat, Membangun Peradaban” yang berlangsung di Gedung O. Djauharuddin AR, Rabu (22/10/2025)
Kuliah umum ini menghadirkan dua narasumber: Dr. M. Hasan Chabibie, S.T., M.Si., Staf Ahli Bidang Penguatan Ekosistem Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi, Prof. Dr. H. Muhammad Ali Ramdhani, STP., MT., Kepala Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kemenag RI.
Dalam pemaparannya, Dr. Hasan Chabibie menegaskan perlunya paradigma baru dalam pengembangan teknologi, dari sekadar adopsi teknologi menjadi pengarusutamaan teknologi dalam semua aspek pembangunan.
Ketua Tim Pusat Keamanan Sistem Jaringan ini menjelaskan teknologi harus hadir sebagai bagian dari peradaban bukan alat eksploitasi lingkungan. “Kita perlu membangun ekosistem pendidikan tinggi yang mendukung inovasi teknologi secara inklusif, adaptif, dan berdaya saing global,” tegasnya.
Mengingat pentingnya hilirisasi riset. Dalam konteks ini, Presiden RI sebelumnya menegaskan bahwa talenta sains dan teknologi yang andal adalah kunci bagi Indonesia untuk melangkah menuju negara maju. Untuk itu, KSTI diharapkan menjadi pengaruh besar dalam penguatan ekosistem riset dan industri, “Hasil kerja keras para peneliti tidak berhenti pada prototipe atau publikasi, tetapi berujung pada hilirisasi yang menyejahterakan masyarakat,” tegasnya.
Menurutnya kampus harus menjadi laboratorium hidup (living lab) untuk merawat jagat dan membangun peradaban. “Kearifan lokal harus digali secara saintifik dan dijadikan dasar pengembangan teknologi tepat guna,” jelasnya.
Keberadaan perguruan tinggi diharapkan menjadi simpul berkolaborasi dengan pemerintah, industri, masyarakat, dan komunitas ilmiah. “Perguruan tinggi harus menjadi pusat riset transformatif dan transdisipliner,” ujarnya.
Salah satu tantangan utama adalah minimnya transfer hasil riset ke dunia industri. Banyak inovasi kampus yang berhenti pada tahap jurnal ilmiah. Untuk mengatasi persoalan ini, dibutuhkan Technology Transfer Office (TTO), inkubator bisnis berbasis riset, dan kemitraan strategis dengan industri lokal.
Sambil mengutip Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Prof. Brian Yuliarto, Ph.D., yang pernah menegaskan kolaborasi adalah kunci. “Pemerintah berkomitmen menciptakan ekosistem riset yang inklusif dan adaptif terhadap perkembangan zaman. Kolaborasi menjadi kunci agar hasil penelitian tidak berhenti di meja laboratorium, tetapi benar-benar memberi manfaat bagi masyarakat dan perekonomian nasional,” jelasnya.
Dalam melakukan inovasi untuk merawat jagad diperlukan teknologi hijau dan etika lingkungan. “Fokus pada eco-tech, circular economy, dan teknologi tepat guna berbasis kearifan lokal. Dorong riset energi terbarukan, konservasi digital, dan pertanian cerdas yang adaptif terhadap perubahan iklim,” bebernya.
Mantan pelaksana jabatan (Pj) Bupati Kudus ini mengingatkan civitas akademika UIN Sunan Gunung Djati Bandung “Teknologi harus tunduk pada nilai, bukan nilai yang tunduk pada teknologi,” ajaknya.
Pernyataan ini menegaskan pentingnya orientasi etis dalam pengembangan teknologi, terutama dalam konteks pendidikan tinggi Islam. Melalui pengarusutamaan nilai dan kolaborasi lintas sektor, diharapkan lahir peradaban baru yang berkeadilan dan berkelanjutan.
Dalam kuliah umum ini dilakukan peluncuran lima Program Studi Magister (S2) baru, Sosiologi, Administrasi Publik, Teknik Informatika, Ilmu Komunikasi, dan Pemikiran Politik Islam.
Kepala Badan (Kaban) Dhani sapaan akrabnya menegaskan bahwa pengarusutamaan teknologi bukan sekadar kebutuhan, tetapi sebuah keniscayaan. “Ini untuk menciptakan ekosistem yang lebih baik melalui injeksi pengetahuan di tengah masyarakat. Pengarusutamaan ini sangat penting karena merawat jagat sedang tidak baik-baik saja. Caranya dengan keilmuan yang berusaha untuk membangun peradaban manusia lebih baik,” paparnya.
Cucu KH Anwar Musaddad ini menyampaikan tahniah dan rasa syukur atas peluncuran lima program studi baru ini. Menurutnya, kehadiran lima prodi S2 menjadi episentrum keilmuan dan ruang penemuan baru di UIN Bandung. “Ini bukan sekadar tempat mengajarkan ilmu, tapi memproduksi ilmu. Semua ini lahir dari tangan-tangan dingin fakultas, dengan wasilah syafaat, rasa syukur, dan kerja luar biasa. Amazing! Tuhan banyak menolong,” ungkapnya penuh apresiasi.
Pengembangan keilmuan di UIN Bandung harus tetap berpijak pada koridor peraturan, namun mampu mengakselerasi perubahan dan menyesuaikan dengan perkembangan zaman. “Hari ini bertepatan dengan Hari Santri. UIN Bandung adalah pesantren besar yang mengelola ilmu dengan ketajaman akal, akhlak, dan adab,” ujarnya.
Dalam khazanah Islam, kita mengenal sosok Al-Khawarizmi, seorang matematikawan Muslim yang memperkenalkan konsep angka nol (0) kepada dunia Islam dan Barat. Penemuannya menjadi dasar penting bagi perkembangan teknologi modern, termasuk sistem bilangan desimal, kode biner, dan aljabar Boolean. “Kita punya ‘nol’ dalam perspektif Al-Khawarizmi. Begitu juga pesan dari Sayyidina Ali, agar kita selalu mengajari anak-anak sesuai zamannya, dari ruang pribadi hingga ruang publik, jangan tertutup harus terbuka,” jelasnya.
Baginya, penguasaan teknologi merupakan kunci utama dalam pengembangan pengetahuan. Karena itu, UIN Bandung terus mendorong berbagai inovasi akademik.
“Salah satu caranya dengan melakukan rekognisi internasional. Setelah PBAK, kita tawarkan program double degree. Ketika nyantol pada kampus unggul di tingkat internasional kita harus tergerak dan tergerek menuju kampus terbaik,” ajaknya.
Rektor Prof. Dr. H. Rosihon Anwar, M.Ag., menyampaikan kuliah umum rangkaian dari hari santri 2025 dan menjadi ikhtiar bersama bahwa teknologi harus menjadi bagian tak terpisahkan dalam pembangunan umat dan bangsa. “Teknologi bukan hanya alat bantu, tetapi bagian dari peradaban itu sendiri. Kita harus memastikan bahwa kemajuan teknologi tidak mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan, etika, dan spiritualitas,” ungkapnya.
UIN Bandung tumbuh menjadi salah satu universitas Islam terkemuka di Indonesia. Capaian akademik dan reputasi lembaga meningkat signifikan, di antaranya:
Masuk dalam peringkat 1.501+ dunia dan peringkat ke-36 nasional versi Webometrics; Peringkat 1 universitas Islam terbaik di Indonesia menurut Scimago Institutions Rankings; Peringkat ke-5 publikasi Scopus nasional (706 artikel pada 2020); SINTA terbaik di antara universitas Islam di Indonesia. Pada tahun 2023–2024, sebagian besar program studi telah berakreditasi Unggul secara nasional, sementara empat program studi telah memperoleh akreditasi internasional dari FIBAA dan AUN-QA. Halal Center UIN Bandung dianugerahi penghargaan sebagai Inisiatif Dampak Sosial Terbaik karena melatih ribuan P3H dan mendampingi lebih dari 300.000 pelaku usaha di 28 provinsi.
“Capaian ini berkat dorongan, bimbingan, dan arahan dari guru kita Pak Kaban Dhani, termasuk Staf Ahli Gus Hasan yang hari ini hadir dan memberikan kuliah umum. Kehadiran mereka memberi dampak nyata terhadap peningkatan mutu pendidikan, penelitian, dan pengabdian masyarakat di UIN Bandung,” ungkapnya.
Dengan terselenggaranya kuliah umum ini, UIN Sunan Gunung Djati Bandung berharap dapat terus berkontribusi dalam membangun peradaban yang unggul, moderat, dan berbasis ilmu pengetahuan. “Ini menjadi wujud nyata integrasi antara agama dan teknologi dalam konteks pendidikan tinggi keislaman di Indonesia,” pungkasnya.
