Kontemplatif Akhir Rajab 1447 H

Muslimah Berdoa di Masjid (Foto: Shutterstock.com)
Muslimah Berdoa di Masjid (Foto: Shutterstock.com)

UINSGD.AC.ID (Humas) — Wirid atau dzikir pada umumnya selalu ada hitungan-hitungannya, seperti membaca tahlil (laa ilaaha illa Allah), dalam bacaan hizb-hizb, doa-doa dan berbagai macam bacaan shalawat yang beragam jenisnya juga dengan jumlah bacaannya yg berbeda-beda bilangannya

Semua bacaan wirid, dzikir itu seolah-olah ada ukuran dan modelnya, seperti halnya sebuah kunci mempunyai ukuran dengan tipe yang berbeda-beda. Kunci gudang, tentu ukuran milinya berbeda dengan mili (ukuran) kunci pintu rumah, lemari begitu pula kunci jendela dan kunci-kunci lainya.

Rahasianya jika tidak mau ada ukuran-ukuran ‘mili’ dalam kunci, jangan mengeluh jika semua pintu tidak bisa dibuka. Demikian juga wiridan, dzikir dalam membuka “qurbah”, pintu gerbang menuju alam Lahuut.

Dasar rahasianya juga hanya ada pada  jumlah hitungan dzikir yang mengapa harus ditentukan jumlahnya oleh Allah SWT secara ganjil. Berdasarkan hadis, tauqifi dari Nabi Muhammad SAW seperti membaca tasbih, takbir dan tahmid masing-masing 33 x setiap bakda shalat fardu. Kelanjutannya, ada juga dari hasil tajribah (pengalaman) para ulama-ulama sholeh yang terbimbing secara ruhaniyah dengan sanad ruhani yang jelas (sholeh, shoheh, dn ittishal sanad) dari mulai sahabat dan generasi setelahnya yang hingga hari ini mereka terus mendalaminya secara sungguh-sungguh.

Tidak semua pengalaman yang tidak ada pada masa Nabi Muhammad SAW harus dilarang. Karena hal ini berkaitan antara hubungan hamba dengan Tuhannya. Kalau tidak percaya atau tidak mau ada mengakui bilangan tertentu dalam wirid, dzikir, jangan mengeluh apabila bacaan dzikir kita tidak dapat membuka “pintu ijabah” atau “pintu qurbah”. Toh semua rahasia dzikir atau awrad juga Allah SWT yang terus menerus menentukanNya. Bagaimana “rahasia” dan “rasa”nya serta fenomena yg diakibatkannya. Semua fenomena ini terus berlangsung hingga hari ini sampai  hari qiyamat. Seperti halnya yang bacaan ayat-ayat Alquran dalam shalat-shalat sunat juga berlaku demikian, ada kecenderungan terhadap bacaan ayat-ayat tertentu, karena ada rasa dan rahasia-rahasia yang kadangkala Allah SWT langsung yang membagikannya pada setiap hati hambanya.

Wirid dan dzikir mempunyai dosis. Tidak semua orang mengetahui rahasia hitungan dalam dzikir. Seperti tidak semua orang juga bisa membuat resep obat dan takarannya, hanya dokter dan apoteker yang sudah ahli yang bisa memahami dn mempraktekannya. Oleh karenanya Allah SWT berfirman: “fas aluuu ahla dzikri in kuntum laa ta’lamuuun”…Wallahu A’laam bi muradih. 

 

Ajid Thohir, Wakil Direktur I Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *