UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

YAA RASUL SALAAM ‘ALAIKA

Bismillahirrohmaanirrohiim

Kepada Muhammad rasulullah Saw kita semua pasti mencintainya. Tak ada kaum muslimin di dunia ini yang tidak mencintainya. Bukan karena namanya selalu kita sebut dalam sholat. Bukan pula karena ia menjadi syarat yang mesti diucapkan dalam syahadat.

Kita mencintai Muhammad Saw karena pada dirinya ada keteladanan yang sempurna. Kita menyayangi rasulullah karena pada dirinya ada jejak-jejak pasti yang menjadi kiblat bagi akhlak yang mulia.

Benarkah begitu?

Tak diragukan, Muhammad Saw adalah manusia “far excellent” dalam keluhuran akhlak dan budi pekerti. Akhlaknya yang sempurna membuatnya dikagumi kawan dan lawan. Perangainya yang agung membuatnya disegani sahabat dan seteru. Bahkan ketika disakiti musuhnya yang mengakibatkan giginya tanggal dan luka-luka di sekujur tubuhnya, Muhammad Saw masih menyisakan kasih sayang dan doa buat mereka yang menyakitinya sebagai “kaum yang belum mengerti”. “Allahumahdiy qoumy fainnahum laa ya’lamuun”, begitu doa yang keluar dari mulutnya.

Bisakah kita menirunya? Dapatkah kita mencontohnya? Mungkin kita tidak sanggup. Bahkan untuk urusan yang sepele pun, mulut kita gampang menumpahkan cacian dan makian. Bahkan untuk urusan yang remeh temeh pum sumpah juga serapah gampang kita muntahkan kepada orang yang menyakiti kita. Tak jarang kita menggunakan tangan bahkan kekuasaan untuk melenyapkan mereka yang telah menyakiti kita secara sengaja.

Muhammad Saw memang manusia biasa, tapi sebagai manusia utusan Allah azza wajalla pasti ia manusia istimewa. “Basyarun laa kalbasyar bal huwa kalyaquti bainal hajar”, begitu disebut dalam sebuah tuturan suci. Muhammad Saw sengaja dipilih Allah azza wajalla untuk menjadi uswah dan cetak biru tentang ketinggian akhlak dan budi pekerti.

Rasulullah hadir di masa lalu tapi kabar keistimewaan akhlaknya sampai ke masa kita. Sirrah nabawiyah yang bisa kita baca adalah bukti bahwa Muhammad adalah manusia sejarah. Ia pernah ada dan mustahil kita yang beriman meragukan keberadaannya.

Seberapa tinggi keteladanan dan keluhuran akhlak rasulullah? Apa yang menjadi sumber kemuliaan akhlak yang dimilikinya? “Akhlak rasulullah adalah al-Qur’an”, begitu kata Aisyah radhiallahu ‘anha. Selamat memperingati maulid Nabi. Selamat memperingati maulid Nabi. Allahu a’lam[]

Bandung, 4 November 2019.

Dr. Radea Juli A. Hambali, M.Hum, Wakil Dekan I Fakultas Ushuluddin UIN SGD Bandung.