UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

Wujud Spiritual, Itulah Kita

Pemikiran modern pernah menyangka jika manusia adalah makhluk biologis semata. Manusia bergerak. Manusia berkehendak berdasarkan tuntutan alamiah semata. Bahkan dalam pandangan yang lebih ekstrim, kesadaran dan gerak manusia secara mekanis persis menyerupai robot.

Robot? Kita bisa membayangkan “sosok” ini. Ia adalah benda mati. Yang tak memiliki kehendak dan kuasa bahkan terhadap dirinya sendiri. Ia bergerak karena digerakkan. Ia berperilaku karena karena dituntun oleh sistem yang ditanamkan dalam “dirinya”.

Anggapan pemikiran modern bahwa manusia menyerupai robot yang bergerak secara mekanis sudah lama ditolak mentah-mentah. Manusia tak bisa disamakan dengan robot. Manusia mustahil bisa diperbandingkan dengan “makhluk” yang tidak memiliki kehendak bahkan terhadap dirinya sendiri.

Pada manusia ada piranti suci yang tidak dimiliki robot bahkan makhluk manapun. Bahkan menurut Rudolf Otto pada manusia “ada struktur apriori terhadap sesuatu yang irrasional”. Dialah ruh. Ruh adalah entitas sakral ilahi yang dilesakkan Tuhan yang menjadi pembeda dengan makhkuk manapun. Ruh adalah “serpihan” Tuhan yang dititipkan dalam tubuh manusia. “Wanafakhtu min ruuhi” adalah penegas bahwa manusia sejatinya adalah makhluk yang dicipta sesuai dengan citra Tuhan.

Ruh-lah yang menegaskan manusia sebagai makhluk spiritual. Ruhlah yang menyebabkan manusia disebut sebagai makhluk yang dicipta dalam “bentuknya” yang paling sempurna (fii ahsanittaqwiim). Ruh-lah yang memungkinkan manusia memiliki kecenderungan tidak hanya untuk berbuat baik tapi juga kecenderungan untuk patuh, loyal dan setia kepada Tuhannya.

Puasa ramadhan yang kita jalani dengan demikian adalah moment kepatuhan itu. Puasa ramadhan adalah kewajiban yang sengaja diperintahkan sekaligus untuk mengingatkan bahwa manusia sejatinya memiliki pertautan dan ikatan yang mesra dengan Tuhan disebabkan adanya ruh dalam dirinya. Puasa adalah peristiwa yang mengingatkan bahwa jauh sebelum manusia dilahirkan, manusia pernah mengadakan “perjanjian primordial” (primordial covenant) dengan Tuhan. “Alastu birobbikum? Qooluu balaa syahidna”, inilah bukti perjanjian itu.

Puasa dengan meminjam pernyataan Teilhard de Chardin adalah penegas bahwa “kita bukan wujud manusiawi yang menjalani pengalaman spiritual, tetapi wujud spiritual yang menjalani pengalaman manusiawi”. Allahu a’lam[]

Bandung, 6 Mei 2019

Dr. Radea Juli A. Hambali, M.Hum, dosen Fakultas Ushuluddin UIN SGD Bandung