UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

Virus Corona dan Ujian Umrah

Berita dan ujian bagi calon jamaah umrah terus berlanjut dan tidak akan pernah berhenti. Masih segar dalam ingatan kita ketika wabah Mars, flue burung, fule onta, dan lain sebagainya menjadi bagian yang tak terpisahkan dengan ujian para calon tamu Allah. Implikasinya, banyak calon jamaah yang diwajibkan melakukan imunisasi diri dengan berbagai macam vaksin.

Meningitis, influenza, dan vaksin lain untuk menambah kekebalan tubuh. Tidak dapat dipungkiri bahwa peluang menyebarnya virus dikalangan para jamaah sangat terbuka lebar karena terjadinya interaksi, bahkan kontak fisik antar sesama jamaah dari seluruh pelosok dunia. Hal tersebut terus mengundang reaksi dunia dalam kerangka menjaga dan memelihara kesehatan dan kesalamatan melalui kebijakan dan regulasi baik nasional maupun internasional.

Pekan ini, kembali kabar mengejutkan datang dari Arab Saudi. Pasalnya Negara tersebut per Kamis, 27 Februari 2020 melarang warga negara asing untuk memasuki wilayahnya sementara waktu karena penyebaran virus corona (COVID-19). Bukan hanya melarang kunjungan dalam rangka ibadah umrah, Arab Saudi juga menghentikan sementara kunjungan ke Masjid Nabawi, Madinah. Hal tersebut dilakukan dalam rangka mendukung upaya menghentikan penyebaran, pengendalian dan pemusnahan virus Corona (COVID-19), serta melakukan perlindungan yang maksimal terhadap keamanan warga negara.

Penduduk dan siapapun yang berencana datang ke wilayah Kerajaan Arab Saudi untuk melakukan ibadah Umrah dan ziarah Masjid Nabawi, atau kunjungan wisata, Pemerintah Kerajaan Arab Saudi memutuskan melakukan langkah proaktif guna menangkal masuk dan menyebarnya virus Corona (COVID-19) ke wilayah Kerajaan Arab Saudi.

Sebagai warga negara yang baik dan taat terhadap hukum, maka himbauan dan larangan tersebut tentunya mesti ditaati secara arif dan bijaksana. Sebagai calon tamu Allah baik calon jamaah haji maupun umrah pasti ada hikmah dan manfaat yang bisa diambil. Kendati demikian, secara psikologis, kejadian tersebut berimplikasi pada rasa kecewa dan bahkan amarah dikalangan calon jamaah. Guna mensikapi hal tersebut, agak baiknya kita coba cermati beberapa hal sebagai berkut :

Pertama, baik haji maupun umrah harus dipahami secara teologis bahwa ia murni merupakan panggilan Allah, menjadi tamu Allah, menjadi duta dan tamu VIP nya Allah Swt. Jika sudah waktunya menjadi Tamu Allah, maka tidak ada seorangpun yang mampu menghalangi atau melarangnya. Sebaliknya, jika belum waktunya, maka tidak ada seorangpun yang mampu membantunya…laa hawla walaa quwwata illaa billahil ‘aliyyil ‘adzhim.

Kedua, munculnya wabah Virus Corona tidak terlepas dari taqdir Alla Swt. Ia menjadi dua kemungkinan. Pertama, ujian bagi orang-orang yang beriman dan komitmen serta istqomah dengan keimanannya. Kedua, ia menjadi teguran bahkan azab bagi yang kufur dan mengingkari ayat-ayat-Nya. Akan halnya dengan larangan umrah bagi jamaah Indonesia dan jamaah lain diseluruh dunia harus diyakini merupakan ujian atas keimanan kita kepada Allah swt. Jika hal tersebut diyakini dengan hati, dibuktikan dengan perbuatan dan lolos dalam ujian, maka Allah pasti akan mengangkat harkat, martabat dan derajat yang pasti mungkin melebihi nilai dan kualitas ibadah umrah yang akan dilakukan.

Ketiga, lakukan ikhtiar insaniyah dengan melakukan negosiasi kepada Travel Haji dan umrah dimana calon jamaah bergabung. Negosiasi dengan pendekatan musyawarah dan mencari jalan keluar yang terbaik (win win solution). Misalnya dengan niat tidak membatalkan ibadah umrah, tapi menunda dan reschedulle keberangkatan jika situasi, keamanan dan keselamatan jamaah sudah relatif kondusif.

Keempat, ikhltiar ilahiyyah, dengan terus istighfar, dzikir, wirid, dan berdoa untuk senantiasa diberikan kesehatan dan kesempatan serta keamanan dalam menjalankan ibadah umrah. Tiga hal yang disucikan ketika kita mau ke tanah suci. Pertama, sucikan hati dengan meluruskan niat bahwa ibadah haji dan umrah hanya untk memenuhi panggilan-Nya (Panggilan Allah swt). Kedua, suci jiwa dengan taubat kepada Allah. Ketiga sucikan harta dengan menunaikan zakat, infaq dan sodaqoh.

Kelima, Tawakal kepada Allah. Faidzaa ‘azamta fatawakkal ‘alallahi…azam dan niat bulat untuk menjadi tamu Allah jangan pernah padam sedikitpun. Ketika ikhtiar secara maksimal tengah dilakukan dengan penuh kesabaran dan keikhlasan, maka katup pengaman yang paling ampuh adalah tawakkal kepada Allah. Serahkan dan ber’transaksi’lah dengan Allah dengan modal tawakal, maka pasti akan memperoleh keuntungan baik dunia maupun akhirat. Berserah diri kepada Allah, akan menenangkan hati dan pikiran. Alaa bidzikrillahi, tathmainnul qulub….

Berbagai fenomena aneh dalam bentuk ujian dan musibah yang di luar nalar dan prediksi manusia yang terjadi selama persiapan dan ketika berlangsungnya baik ibadah haji maupun umrah adalah cara Allah dalam menjaga dan mempertahankan kesucian dua kota, Mekkah al-Mukarromah dan Madinah al-Munawwaroh. Wallahua’lam bi al-shawab.

Aden Rosadi, Pembimbing Haji dan Umrah Qiblat Tour dan Dosen FSH UIN SGD

Sumber, Pikiran Rakyat 3 Maret 2020