UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

Umrah Bisa Menjebak Jemaah Jadi Sombong

Anugerah yang tiada tara ketika siapa pun di antara kita bisa mengunjungi tanah suci, baik melalui ibadah umrah maupun ibadah haji. Tidak tanggung baginda Nabi Muhammad menyebutnya sebagai duyufullah, yakni tamu Allah SWT. Tentu saja, anugerah ini harus disyukuri dengan benar-benar menjadi tamu Allah yang paripurna.

“Ulama seringkali kali menyebut tamu Allah itu adalah, man atallaaha biqolbin salim, yakni mereka yang datang kepada Allah membawa hati yang selamat, hati yang lembut atau hati yang tulus,” kata pembimbing haji plus dan umrah Khalifah Tour, Aang Ridwan, di Jln. Cisangkuy 48 Bandung, Senin., 7 Maret 2016.

Menurut Ustaz Aang, dalam posisi ini agar sesorang menjadi tamu Allah yang paripurna sejatinya sepanjang pelaksanaan ibadah haji dan umrah bisa menjaga hati untuk tidak keras. “Menurut para ulama, ada beberapa penyebab hati manusia bisa menjadi keras yakni karena ilmu dan segala status yang melekat dengannya seperti gelar akademik, kiyai, jenderal, pejabat, dan lain-lain, yang menjebak dirinya merasa paling pintar kemudian menganggap bodoh orang lain,” ujarnya.

“Jika dalam perjalanan ibadah haji dan umrah ilmu yang kita miliki menjebak kita merasa paling pintar lalu mengangap bodoh orang lain. “Hati-hati alih-alih ilmu yang kita miliki bisa mengangkat harkat dan martabat kita di hadapan Allah, justru sebaliknya akan berdampak pada kerasnya hati kita,” ucapnya.

Penyebab lainnya kesempatan rajin beramal dan beribadah tetapi dengannya hati kita terjebak untuk merasa praktik amal ibadah yang kita lakukan sebagai yang paling benar lalu sibuk menyalahkan praktik amal ibadah orang lain. “Dengan sibuk menyalahkan orang lain, hati kita akan kehilangan kesempatan untuk melihat kelemahan diri kita,” katanya.

Selain itu, status sosial dan keturunan juga bisa menjebak karena pada umumnya jemaah haji dan umrah rata-rata lahir dari keturunan terhormat dan memiliki status sosial yang tinggi. “Namun dalam perjalan ibadah haji dan umrah, status sosial yang tinggi dan keturunan terhormat seringkali malah menjebaknya untuk merendahkan dan tidak menghormati orang lain. Dengan begitu, perjalan ibadah haji dan umrah menjadi semacam panggung untuk menonjolkan keakuannya dan menghilangkan keberadaan orang lain,” katanya.(Sarnapi/A-147)**