UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

Tren Global Baru Isu Agama & Mahasiswa di Amerika Serikat

Isu agama di dunia kampus sedang menjadi sorotan serius. Ada ramalan bahwa agama akan mengalami kematian global di tangan ilmu pengetahuan yang maju (Anthony Wallace, 1966). Namun, kenyataannya sekularisasi telah gagal, dan tren demografis menunjukkan bahwa pola keseluruhan untuk masa depan yang dekat adalah pertumbuhan agama (Sam Haselby, 2019). Sebagai contoh, tidak ada hubungan yang konsisten antara tingkat keilmuan dan religiusitas di Amerika Serikat (David Martin, 2011). Bukan saja di ruang publik, dampak agama pada Pendidikan Tinggi telah meningkat pesat, dan kebangkitan agama di dunia kampus bukan hal yang mengejutkan (Brian E. Konkol, 2017).

Baru-baru ini, muncul hasil survei soal model beragama pada 10 Perguruan Tinggi Negeri di Indonesia yang menunjukan polarisasi fundamental dan toleran (Setara Institute, 2019). Padahal, polarisasi tidak sedemikian rupa berdasarkan penelitian corak berpikir keagamaan mahasiswa; studi kasus Jurusan Perbandingan Agama UIN Sunan Gunung Djati Bandung dan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (Casram, 2015). Di sini, perlu untuk memahami dan menginterogasi konsep, bukan hanya sebagai hipotesis, tetapi sebagai entitas seperti dunia yang dipengaruhi oleh konteks dan yang menciptakan realitas berdasarkan ruang intrinsiknya (Heba Raouf, 2019). Analisis terhadap fakta-fakta baru diperlukan pra-konsepsi untuk menghindari asosiasi negatif yang dikaitkan dengan Perguruan Tinggi.

Memang Amerika mengalami tingkat polarisasi sosial dan politik yang belum pernah terjadi sebelumnya, dan pendidikan tinggi tidak terkecuali (Kevin Singer, 2019). Polarisasi terjadi disebabkan individu dan komunitas terinspirasi oleh identitas agama mereka untuk mengambil tindakan di dunia (William C. Gruen, 2016). Dalam hal ini, pendidikan agama harus menjanjikan kemanusiaan, kesejahteraan, dan perdamaian global (Amin Abdullah, 2017). Sejatinya, tren global baru isu agama di Pendidikan Tinggi akan menjamin mahasiswa untuk berkembang secara holistik (Kayla J. Stafford, 2017).

Tahun 2019 ini organisasi kemahasiswaan “The National Association of Student Personnel Administrators” (NASPA) yang berkedudukan di Amerika Serikat mengajukan beberapa solusi. Pertama, menghubungkan spiritualitas dengan praktek perhatian penuh. Kedua, pertimbangan keyakinan agama dalam pendidikan sains dan teknologi. Ketiga, memperhatikan persinggungan spiritualitas dan identitas lainnya. Keempat, masalah kebebasan beragama dan kebebasan berbicara. Kelima, terakhir, pemahaman antaragama dalam ruang kurikuler dan co-kurikuler baru.

Bagi banyak mahasiswa, tradisi spiritual, agama, atau non-religius mereka adalah tradisi yang baik untuk menggambar, mendorong refleksi ilmiah tentang bagaimana memelihara hubungan ini lebih jauh. Para sarjana dan peneliti terus menemukan bahwa spiritualitas tidak beroperasi dalam ruang hampa, tetapi mengekspresikan dirinya dalam realitas dengan kategori identitas lainnya (Kevin Singer, 2019). Memang timbul pertanyaan haruskah para profesional urusan kemahasiswaan berusaha mengatur urusan agama di kampus? Haruskah kelompok agama eksklusif dikeluarkan dari kampus? Pertanyaan seperti ini menjadi semakin relevan, menuntut respon terinformasi dan terukur. Jika kita menyerahkan pemahaman tentang ide-ide keagamaan kepada individu-individu religius, kita kehilangan kapasitas untuk memahami motivasi di balik pemikiran dan tindakan siapa pun di luar tradisi agama kita sendiri (William C. Gruen, 2016). Dengan visi baru untuk mengidentifikasi kesamaan dan menghargai perbedaan antara kelompok agama dan non-agama, agama perlahan-lahan disambut kembali ke ruang kurikuler dengan cara baru dan menarik (Kevin Singer, 2019).

Isu agama sedang dibangun kembali sebagai arus kuat dalam Pendidikan Tinggi yang, ketika dikelola dengan tepat, dapat memiliki dampak yang besar pada keberhasilan siswa, iklim kampus, dan pengalaman kampus secara keseluruhan. Menteri Luar Negeri Amerika Serikat ke-68 menyatakan: “Saya sering mengatakan bahwa jika saya kembali ke perguruan tinggi hari ini, saya akan lebih memilih perbandingan agama daripada ilmu politik… karena aktor dan institusi keagamaan memainkan peran yang berpengaruh di setiap wilayah di dunia…” (John Kerry, 2015).

Dr. Wahyudin Darmalaksana, M.Ag, dosen Fakultas Ushuluddin UIN SGD Bandung.