UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

Sucikan Hati untuk Haji

Tak lama lagi, ribu umat Muslim dari Tanah Air akan menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci. Kini, para jamaah mulai mempersiapkan segala sesuatu terkait pelaksanaan haji. Selain harus melunasi ongkos ( BPIH) yang telah ditetapkan, calon jamaah pun mempersiapkan persyaratan lainnya, seperti membuat paspor dan persyaratan kesehatan, seperti vaksin meningitis.

Selain memenuhi persyaratan administratif, para jamaah pun tak boleh melupakan persiapan hati. Sebab, ibadah haji tak hanya membutuhkan persiapan fisik dan finansial serta ilmu manasik saja. Tetapi lebih dari itu, sangat membutuhkan persiapan hati, iman dan takwa. Setiap calon jamaah haji, sangat penting untuk mengendalikan dan mengelola gejolak emosi yang setiap saat bisa menghantui dan mendominasi perasaannya terutama ketika melihat padatnya manusia di padang Arafah, akan menciptakan suasana yang tak normal.

Seorang jamaah haji dituntut memiliki keluhuran moral, kesantunan berbicara dan kearifan bertindak. Semua itu, adalah akumulasi dari perintah Allah SWT dalam Alquran. Kemampuan mengendalikan diri merupakan sesuatu yang wajib dimiliki oleh calon tamu Allah SWT.

Setiap jamaah haji merupakan delegasi resmi dan duta-duta Allah yang seharusnya mengerti dan memahami seluk beluk protokoler ke-Ilahian. Apa saja protokoler-protokoler ke-Ilahian itu? Seorang calon jamaah harus mengindahkan larangan-larangan inti dan pokok yaitu; pertama, tidak boleh berucap hal-hal yang akan membuat dorongan biologis bisa bangkit (Rafats). Kedua, tak boleh berperilaku yang bisa menyebabkan orang lain bisa terpancing (fusuq). Ketiga, jangan berdebat kusir, sehingga dapat menyebabkan hal-hal yang sepele bisa menjadi besar, dan hal-hal yang substansial bisa disepelekan (jidal).

Hati, mungkin adalah hal yang paling sulit untuk benar-benar dijaga. Jangankan jauh-jauh ke Tanah Suci, di tanah air saja, terkadang ada hal-hal yang membuat ketenangan hati kita terganggu. Mulai dari merasa cemas, kesal karena kelakuan orang lain, tanpa sadar kita membicarakan orang lain, dan lain-lain. Padahal menurut Rasulullah SAW, “Ketahuilah! Sesungguhnya dalam tubuh ini ada segumpal daging, apabila ia baik maka baiklah seluruh tubuh. Dan apabila ia rusak. Maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah! Ia adalah hati.”

Di Tanah Suci pun, kita akan menemui cobaan hati. Bahkan mungkin berkali-kali lipat. Mulai dari teman satu kamar, makanan catering yang tidak cocok dengan lidah, fasilitas haji yang kurang maksimal, jemaah dari negara lain yang menurut kita memiliki kebiasan aneh, dan lain-lain. Meski kita berkata pada diri kita bahwa kita bisa menghadapinya, pada kenyataannya, akan ada hal-hal yang di luar kendali kita.

Bagaimana cara mensucikan hati?… Pertama, luruskan niat (lillahi ta’ala). Tanyakanlah pada hati nurani terdalam. Untuk apa ke Tanah Suci? Benarkah kita niat kita hanya karena memenuhi panggilan Allah swt? Ataukah ada di luar itu? Apakah diam-diam ada niat yang terselip untuk mendapatkan gelar dan pengakuan dari masyarakat? Jika masih ada, sebaiknya kita menggunakan tetesan waktu yang tersisa untuk meluruskan hati. Dan setiap kali menghadapi masalah (ujian), ingatkanlah diri kita untuk apa kita datang ke Tanah Suci.

Kedua, sadarilah bahwa kita tidak akan pernah bisa mengatur orang lain. Kita bisa menyuruh, kita bisa menuntut, tetapi bagaimana mereka bertindak adalah pilihan mereka sendiri. Ingatlah bahwa satu-satunya yang bisa kita atur hanyalah diri kita sendiri. Jika ada sesuatu yang menguji hati kita, kita selalu memiliki dua pilihan: menuruti ego atau bersikap sabar. Jangan pernah usil dengan amalan ibadah orang lain (lanaa a’maaluna walakum a’maalukum).

Ketiga, fokus pada ibadah. Bagaimana pun juga kita datang untuk memenuhi panggilan Allah swt. Kita adalah tamu-Nya. Bagaimana perasaan sang pemilik rumah jika tamunya malah memikirkan hal lain? Di dalam ibadah yang hanya sekali seumur hidup ini, cobalah untuk benar-benar berkonsentrasi hanya pada-Nya. Tinggalkanlah masalah yang ada di tanah air (atau lebih baik lagi, selesaikan masalah sebelum berangkat).

Keempat, yakini dan sadari bahwa segala sesuatu adalah ujian keimanan dan ketakwaan dari Allah swt. Segala sesuatu yang terjadi di Tanah Suci, terutama yang kita anggap buruk, bukan berarti sebagai arena pembalasan atas perbuatan kita yang lalu. Semuanya adalah ujian semata. Adalah tugas kita untuk tetap bersikap sabar dan melaluinya dengan sikap positif.

Kelima, Syukuri, nikmati, dam maknai setiap jengkal perjalanan ibadah haji. Apapun yang terjadi harus tetap disyukuri, dinikmati dan dimaknai sebagai salah satu latihan spiritual (riyadhah) guna meraih kesempurnaan Islam dan kelezatan iman.

Dengan mensucikan hati Insya Allah ibadah haji menjadi lebih lancar tanpa beban. Kembali ke tanah air menjadi haji mabrur. Bukan sekadar gelar, tetapi benar-benar bertransformasi secara positif dalam melakukan perubahan diri, keluarga, masyarakat, dan Negara. Selamat jalan para Tamu Allah….wallahu a’lam bi al shawab.

H. Aden Rosadi, Pembimbing Haji dan Umrah Qiblat Tour dan Dosen FSH UIN SGD Bandung

Sumber, Pikiran Rakyat 28 Juli 2018