UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

Rektor Asing

Semua negara berkembang pasti mengikuti arah dan jejak negara maju. Sebut saja bahwa sejarah dunia pendidikan tinggi telah mengalami dua perjalanan besar. Pertama, kepemimpinan local internal kampus. Kedua, kepemimpinan asing eksternal kampus. Saat itu ada gelombang modernisme yang memajukan dengan pesat dunia kerja, perusahan, dan industri. Kampus di seluruh dunia didorong untuk meluluskan sarjana yang siap kerja. Bahkan, perusahaan dan industri memeasuki dunia kampus untuk paket kursus dan pelatihan. Tidak heran bila D3 paling diminati oleh perusahaan dan industri. Bahkan, kebutuhan tenaga kerja mendorong pendirian sejenis SMK. Sarjana S1 untuk dapat memasuki dunia kerja mereka terpacu mengikuti pelatihan bersertifikat. Terkadang sertifikat lebih bermakna daripada ijazah. Pada situasi seperti itu sangat dibutuhkan pemimpin asing yang memahami dunia profesionalisme. Pada periode ini berbagai kampus dunia membuka kesempatan rector asing. Hasilnya sangat serius yakni performa kampus meningkat menjadi papan atas dan keuntungan untuk negara menjadi jelas.

Hari ini di negara-negara maju beberapa kampus dengan kepemimpinan asing mengalami penurunan. Sebaliknya, universitas hongkong di Cina melejit. Ini karena era pasca modern berbeda tuntutannya tidak lagi seperti di masa modern. Yang dibutuhkan sekarang bukan lagi pasar kerja. Kenyataannya, perusahan dan industri gulung tikar. Yang dibutuhkan sekarang di era pos modernisme adalah kreatifitas dan inovasi. Belakangan ini sering dilakukan pertemuan para pemimpin Pendidikan tinggi dunia untuk merumuskan tantangan Pendidikan tinggi dewasa ini. Mereka sepakat bahwa factor pemimpin berpengaruh besar terhadap pengelolaan dan kemajuan kampus. Times Higher Education (THE) baru-baru ini melaporkan bahwa terdapat padangan para inisiator kampus global untuk memikirkan lagi pemimpin local, tidak perlu lagi pemimpin asing. Kecuali kata kunci yang disepakati adalah bahwa maju dan bangkrutnya pendidikan tinggi bergantung sangat besar kepada pemimpin (rector) dan manajerialnya.

Bagaimana dengan Indonesia? Kita masih butuh pemimpin asing untuk megubah mindset dan mengusung kebaruan. Sebuah mindset bahwa kejesahteraan negara sangat tergantung terhadap kampus. Kampus didorong untuk menyiapkan SDM. Memang di negara-negara maju yang dibutuhkan bukan lagi tenaga kerja. Namun, pasar tenaga kerja dengan SDM yang handal masih terbuka sangat lebar di Indonesia. Baru-baru ini, China menerapkan metode 1 + X yang diujicobakan di 10 provinsi. Metode 1 + X yaitu kompetensi dan skill. Kompetensi diarahkan untuk penguasaan pengetahuan dasar adapun skill direntang untuk kreativitas dan inovasi. Pemimpin asing sangat dibutuhkan di Indonesia untuk penyiapan SDM yang menjadi modal dasar untuk kesejahteraan negara dalam persaingan global. Tentu saja pemimpin asing yang dapat mengubah cara-cara lama yang konvensional ke cara-cara baru yang relevan dengan tantangan revolusi industri 4.0 sekarang ini. Pemimpin asing yang mampu menggeser Indonesia dari negara berkembang menjadi negara maju.

Tidak perlu panik dan reaktif dengan inisiasi rector asing. Catatan penting dari anotasi ini adalah pemimpin pendidikan tinggi merupakan factor kunci. Aktivitas kuncinya ialah memimpin pengelolaan perguruan tinggi untuk meluluskan sarjana yang siap menghadapi dunia.

Dr. Wahyudin Darmalaksana, M.Ag, Kepala Pusat Penelitian dan Penerbitan LP2M UIN SGD Bandung