UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

Ramadhan dan Perubahan Sosial

Puasa Ramadhan menjadi momentum bagi kaum Muslim untuk melatih diri, menginternalisasi, dan membumikan kesalehan sosial. Ramadhan mengajarkan bagaimana kita peduli kepada sesama. Di bulan ini, kita dianjurkan untuk memperbanyak sedekah, bersilaturahmi dan saling menghargai satu sama lain.
Ramadhan bukan sekadar bulan yang di dalamnya dilaksanakan berbagai amalan dan ibadah untuk menggapai rahmat, maghfirah dan janji kebahagiaan di akhirat, melainkan Ramadhan dapat dijadikan sebagai landasan bagi Muslim untuk memunculkan sikap solidaritas dan kepekaan sosial sehingga dapat menimbulkan perubahan sosial yang lebih baik.
Puasa yang bermakna menahan secara harfiah, tentu harus dimaknai secara kontekstual tanpa menanggalkan makna syariatnya. Puasa bukan berarti harus statis, karena dalam rekam sejarah peradaban manusia, justru puasa Ramadhan mampu menjadi driving force perubahan sosial.
Puasa Ramadhan melatih kita untuk mampu mengendalikan diri dari segala bentuk hawa nafsu dan degradasi prilaku yang meruntuhkan derajat kemanusiaan kita, sekaligus mengasah kepekaan sosial terhadap sesama. Itulah sebabnya anjuran dan larangan-larangan selama kita menjalani puasa memiliki dimensi sosial di baliknya, selalu terkait dengan interaksi kita dengan orang lain.
Ibadah tarawih (qiyamullail) misalnya, mendorong kita berinteraksi kembali dengan tetangga. Berjumpa dan berkumpul di masjid. Jika selama ini kesibukan pekerjaan menghambat pertemuan itu, maka Ramadhan menyatukan kembali.
Anjuran sedekah dan zakat di bulan Ramadhan mengajarkan kita prinsip-prinsip filantropi, prinsip berbagi bahwa harta yang dimiliki oleh setiap insan Muslim sesunguhnya memiliki fungsi sosial. Ia adalah sarana untuk menciptakan dan memupuk ukhuwah, kepedulian, dan semangat kesetiakawanan, sekaligus mencair-leburkan jurang ketimpangan dan ketidakadilan sosial. Orang yang berpuasa akan dapat ikut merasakan betapa pahit dan getirnya orang-orang yang kelaparan dan kehausan. Dari perasaan itu akan muncul kesadaran terhadap sesama.
Begitu juga dengan larangan-larangan di bulan Ramadhan. Larangan berhubungan seks di siang hari tebusannya adalah dengan memberi makan 60 orang miskin. Orang yang tidak mampu lagi berpuasa karena alasan sakit, hamil, atau menyusui, tebusannya adalah fidyah (bersedekah memberi makan kepada fakir miskin). (QS. Al-Baqarah:184)
Ramadhan harus mampu membawa kita pada perubahan sosial. Sebagaimana juga Alquran diturunkan pada bulan Ramadhan yang telah menggerakan perubahan bagi peradaban manusia hingga sampai saat ini. Alquran menjadi kitab penyempurna kitab-kitab sebelumnya. Di dalamnya, mencakup segala hal yang dibutuhkan. Salah satunya mengatur kehidupan bermasyarakat.
Jika manusia mampu memahami dengan baik bagian-bagian dari Alquran, niscaya ia mampu mengubah dirinya menjadi lebih baik. Demikian halnya secara kumulatif, jika masyarakat mau dan mampu memahami Alquran lebih dalam, maka perubahan menuju lebih baik akan terwujud. Wallahu’alam.

Dindin Jamaluddin, Dosen Fakultas Tarbiyah dan Kegunaan UIN SGD Bandung

Sumber, Hikmah Republika 20 Mei 2019