UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

Politik Tanpa Kedengkian

Di awal Ramadan ini, hiruk-pikuk penyelenggaraan Pemilu 2019, memasuki tahapan rekapitulasi hasil penghitungan suara. Ramadan merupakan bulan yang ditunggu-tunggu umat Islam untuk melaksanakan ibadah puasa. Melaksanakan ibadah dengan mejauhi segala yang membatalkan puasa dari mulai terbit fajar (subuh) hingga terbenam matahari (maghrib). Dan, melaksanakan ibadah dengan mengendalikan diri dari segala sikap dan perilaku yang akan merusak nilai-nilai ibadah puasa.

Bulan Ramadan menyediakan ruang-ruang istimewa bagi umat Islam untuk membuka diri dalam ikhtiar meningkatkan nilai-nilai kebaikan. Setiap umat Islam yang mengerjakan kebaikan di bulan Ramadan akan memperoleh ganjaran yang berlipat ganda. Karena itu, Ramadan sering juga disebut sebagai bulan pelipatgandaan kebaikan, sekaligus bulan penggapaian ganjaran besar-besaran (rahmat, ampunan, dan pembebasan dari api neraka).

Memasuki bulan Ramadan ini, sekalipun dalam suasana pemilu yang dinamis seperti sekarang ini, sejatinya kita tidak melewatkan begitu saja momentum yang sangat istimewa tersebut untuk terus meningkatkan kebaikan.

Kebaikan merupakan sifat dan perbuatan yang senantiasa menghadirkan feadah atau manfaat bagi diri, sesama dan lingkungan. Dalam AlQur’an Surat Al-Baqarah [2]: 177 disebutkan bahwa pokok-pokok kebaikan atau kebajikan itu melekat pada ketaqwaan dan keimanan, yaitu senantiasa memberikan harta yang dicintai, memerdekakan hamba sahaya, mendirikan sholat, menunaikan zakat, menempati janji, dan sabar dalam kesempitan atau penderitaan.

Di sinilah relevansinya mengapa kita dituntut untuk selalu mengerjakan kebaikan-kebaikan. Allah swt berfirman, “Berlomba-lombalah dalam berbuat kebaikan-fastabiqul khairot.” [QS [2]:148]. Oleh karena itu, pada bulan Ramadan ini sepantasnya kita selalu berada pada jalur-jalur kontestasi kebaikan. Suatu sirkuit sosial-spiritual bagi pengumpulan nilai-nilai amal soleh sebagai bekal dalam mengarungi kefanaan dunia dan bekal kelak di keabadian akhirat.

Api pembakar
Nilai-nilai kebaikan bulan Ramadan yang berhasil dikerjakan tentunya harus dirawat atau dijaga, di samping harus terus ditingkatkan. Hal itu terutama dirawat dari rongrongan api pembakar atau penghangus kebaikan. Di antara api penghangus tersebut adalah kedengkian. Suatu sifat buruk yang berpusat di hati.

Rongrongan tersebut tidak terasa dan terlihat secara kasat mata namun fatal akibatnya. Ia memiliki daya rusak yang sangat dahsyat. Dengki bisa menggugurkan seluruh nilai kebaikan yang tekumpul. Rasulullah saw bersabda, “jauhkanlah dirimu dari sifat hasad (dengki), karena sesungguhnya hasad itu memakan kebaikan, ibarat api yang membakar kayu.” (H.R. Abu Daud dari Abu Hurairah r.a).

Kedengkian menjadi api pembakar kebaikan, sebab melaluinya manusia selalu berada dalam pusaran perasaan hati penuh kebencian karena iri yang teramat sangat kepada setiap keberuntungan dan kebahagiaan orang lain. Ia selalu menaruh perasaan tidak senang melihat keunggulan orang lain.

Ia selalu tidak suka terhadap segala karunia Allah yang didapatkan orang lain. Oleh karena itu, hatinya tidak pernah tentram atau selalu galau di setiap ruang kehidupan, termasuk dalam ruang berkeluarga, berniaga, dan berpolitik.

Selain itu, ia selalu susah jika melihat orang lain senang, dan senang jika melihat orang lain susah. Dalam konteks aqidah Islam, tabiat seperti itu sama dengan perangai buruk suatu kaum terhadap umat Islam. Oleh karenanya, kita dilarang mengambil mereka sebagai teman kepercayaan.

Hal itu digambarkan dalam AlQur’an Surat Al-Imran [3]: 120 “Jika kamu (umat Islam) memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah swt mengetahui segala apa yang mereka kerjakan.”

Pada era keberlimpahan informasi seperti sekarang ini, materi kedengkian mengalami pergerakan yang begitu semakin leluasa melalui derasnya aliran banjir informasi. Akibatnya, setiap saat kita dipaksa mengkonsumsi, selain dipaksa untuk ikut mereproduksi, sajian informasi apa saja. Termasuk informasi-informasi yang mengandung unsur hasud (benci, fitnah dan bohong/hoax).

Tentu semua itu menjadi peringatan bagi kita yang tengah melaksanakan ibadah puasa dengan merawat sekaligus meningkatkan kebaikan-kebaikan. Oleh karena itu, kita wajib melampaui rongrongan itu secara bersungguh-sungguh.

Di antara langkah-langkah yang bisa ditempuh adalah, pertama selalu berpikir dan berprasangka positif atau husnudzon. Dari berpikir dan berprasangka positif akan lahir sikap selalu mengapresiasi dan mensyukuri apa yang ada. Kedua, ber-riyadoh atau berlatih setiap saat untuk mempertebal imun hati dari wabah penyakit kedengkian. Bukankah pribahasa mengatakan, “ala bisa karena terbiasa, dan terbiasa karena dipaksa (dilatih)”.

Dan ketiga, berdo’a dan ikrar agar kita terhindar dari sifat-sifat dengki. Salah satu do’anya yang bisa dikumandangkan adalah, “Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman terlebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang”. [QS [59]: 10].

Dengan do’a tersebut semoga kita termasuk manusia yang benar-benar terbebas dari berhala penyakit dengki. Sehingga kita bisa lebih leluasa dalam meningkatkan sekaligus merawat nilai kebaikan Ramadan. Tentu semua itu diharapkan memiliki dampak terhadap kehidupan politik sehari-hari kita dengan tanpa hasud sekecil apapun.

Kedengkian memang sejatinya tidak memiliki tempat dalam politik, tetapi secara aktual selalu saja membayang-bayanginya. Kedengkian sesunggguhnya adalah sikap dan perilaku antipolitik karena selalu individualis, egois dan memiliki niat merusak lawan maupun kawan.

Sementara itu, politik sendiri senantiasa mempromosikan sikap dan perilaku hidup bersama dalam kemajemukan dengan bangunan kekuasaan bersama dan kepentingan umum. Suatu kehidupan sosial dengan persatuan dalam bangunan kokoh organisasi berdaulat (negara) serta sistem kehidupan yang saling berkepercayaan, berkebahagiaan, dan berketulusan. Wallahualam bissawab.

Asep Sahid Gatara, Ketua Jurusan Ilmu Politik FISIP UIN Bandung; Wakil Ketua ICMI Jawa Barat

Sumber, Pikiran Rakyat 7 Mei 2019