UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

Pilar Islam Wasathiyah

Indonesia ditakdirkan Alloh menjadi negara multicultural, rakyatnya terdiri dari berbagai ragam budaya, suku, dan agama, yang bebas diekspresikan oleh penganutnya sebagai kekayaan bangsa yang sangat berharga. Kondisi ini membutuhkan satu sikap dan praktik keagamaan yang bisa menempatkan keragaman sebagai kekuatan untuk menumbuhkan optimisme menuju suatu kemajuan peradaban dalam berbangsa dan bernegara.

Karena itulah, gagasan Islam Wasathiyah yang sepakat diterjemahkan sebagai Islam moderat harus kita apresiasi bersama-sama untuk menciptakan kemajuan di NKRI. Sebab, dalam konteks keindonesiaan dan kebangsaan, faham Islam moderat (al-wasathiyah al-islamiyyah) ini akan menjadi pemersatu keragaman masyarakat di negara Indonesia.

Negeri Ini adalah Negara yang luarbiasa, dengan kekayaan Sumber daya alam, sekira 17 ribu lebih pulau, 1.340 suku, dan 700 lebih bahasa, bangsa ini, memang membutuhkan pemahaman Islam wasathiyyah yang selalu mengintegrasikan antara keislaman, kemodernan, kebangsaan dan keindonesiaan. Kalau tidak, bisa kita bayangkan konsekwensinya, saling klaim kebenaran yang ujungnya jadi persetruan.

Konsep Islam wasathiyyah
Allah SWT berfirman: “Dan yang demikian itu Kami telah menjadikan kalian (umat Islam) sebagai umata wasatha (umat pertengahan) agar kalian menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas perbuatan kalian,” (QS. Al-Baqarah [2]: 143).

Ayat di atas, mengandung prinsip kehidupan yang menjadi landasan Islam, baik di ranah aqidah, syariah, muamalah dan akhlak berdasarkan pilar “wasathiyyah” (baca: moderat, keseimbangan dan keserasian). Secara Bahasa, kata “Wasathiyah” berasal dari kata “wasatha” yang berarti adil atau sesuatu yang berada di pertengahan. Sementara itu, jumhur ulama menambahkan bahwa makna “wasatha” berarti pilihan (al-khiyar) atau yang paling utama (afdhal).

Hal tersebut mengindikasikan bahwa model Islam wasathiyah menjadi pilihan yang utama di tengah keragaman bangsa Indonesia sebagai salah satu upaya menciptakan keutamaan berislam. Imam As-Sa’di, di dalam kitab Tafsir Al-Karim Al-Rahman fi Tafsir Kalam Al-Mannan, menjelaskan makna “umatan wasathan” sebagai “umat yang memiliki sifat adil dan terbaik; umat yang senantiasa mengambil jalan tengah di setiap permasalahan.”

Dari konsepsi makna tersebut, dapat kita simpulkan bahwa kata “wasatha” mengandung tiga sifat utama, yakni: sifat udulan (adil); tidak condong ke salah satu dua kutub ekstrem yang berbeda, bersifat khiyar (pilihan), dan afdhal (terbaik).

Pilar Wasathiyah
Setidak-tidaknya, pilar islam wasathiyah dibagi menjadi delapan pilar yang dijadikan landasar bersikap dan bertindak bagi ummat Islam untuk menciptakan kemajuan peradaban bangsa Indonesia dalam naungan ridha Tuhan Yang Maha Kuasa.

Pilar pertama, struktur atau susunan masyarakatnya memiliki platform dan tujuan untuk membina perdamaian (salam) QS. al-Hujurat [49] : 9-10; al-Anfal [8] : 61

Pilar kedua, Sistem sosialnya berdiri di atas dasar persamaan (musyawah) dan menolak sistem sosial piramida di mana di atas pundak yang miskin duduk yang kaya dan di atas pundak yang lemah duduk yang kuat. QS. al-Hujurat [49] : 13 dan al-Nisa’ [4]: 1

Pilar ketiga, Mengembangkan sistem social yang empathy (saling tolong-menolong dan peduli) seperti satu jasad (kajasadin wahid) apabila satu anggota sakit atau menanggung beban yang berat, maka yang lainnya ikut merasakan dan seperti bangunan yang saling memperkuat (kabunyani yasuddu ba’dhuhu ba’dha) dengan didasari prinsip cinta kasih (layukminu ahadukum hatta yuhibbu liakhihi ma yuhibbu linafsihi). Oleh karena itu, sistem kapitalisme, imperalisme, lintah darat dan borjuisme, tidak mendapat tempat serta harus digantikan dengan sistem tauhid yang egaliter di mana kekayaan harus berfungsi sebagai kesejahteraan sosial (al-mashalih al-mujtami’), tidak boleh ada orang yang kenyang di samping orang yang lapar.

Pilar keempat, Sistem sosial yang terbebas dari keterbelakangan dan kemiskinan; QS. al-‘Alaq [96] : 1; al-Nisa’ [4] : 9 dan hadits kadza al-faqru an yakuna kufran

Pilar kelima, Lembaga-lembaga publik yang berfungsi untuk membina kesejahteraan sosial, harus dipimpin secara profesional oleh ahlinya. QS. al-Nahl [17] : 43; Idza wusida al-amru ila ghairi ahluha fantadiru al-saah

Pilar keenam, Dalam urusan bersama atau publik, harus diputuskan secara musyawarah dan demokratis. QS. al-Syura [42] : 38; Ali Imran [3] : 159. Tidak ada diskrimisasi hukum dan di atas semua anggota masyarakatnya, hukum berlaku bagi semua warga negara. QS. al-Nisa’ [4] : 58; Al-Maidah [5] : 8.

Pilar ketujuh, Pemikiran anggota-anggotanya tidak dibatasi, melainkan diberikan kebebasan seluas-luasnya dan diberikan kemerdekaan untuk berasosiasi, berekspresi secara terbuka, bebas dan kreatif serta dapat mengakses informasi yang relevan dan memiliki alat untuk mengontrol (check and balance) accountabilitas pemerintah. QS. Ali Imran [3]: 104, 110.

Dan pilar kedelapan, sebagai bangsa atau nation anggota dari pergaulan bangsa-bangsa, harus terlibat dalam mewujudkan kebaikan dan kesejahteraan ummat manusia. QS. AlHujurat, 49:13; al-Anbiya’ [21]: 107

Dalam sejarah, semasa Nabi berada di Madinah beliau mepraktekan kedelapan pilar Islam Wasathiyah di atas sehingga mereka bisa hidup bersama antar berbagai kelompok kebangsaan maupun agama secara damai dan bekerjasama sebagaimana yang bisa kita baca dalam Piagam Madinah yang berisi empatpuluh tujuh pasal yang sangat luarbiasa yang maknanya sama dengan yang dipakai oleh Negara modern dewasa ini.

Dalam konteks keindonesiaan dan kebangsaan, di tengah fenomena adanya wacana dan gerakan literal, keras dan radikal di Indonesia, membuat kita semua makin tersadarkan untuk segera merumuskan Islam tengahan ini, supaya Indonesia tetap menjadi negara bersama, Darul Ahdi Wa Syahadah yang aman dan tentram serta bahagia.

Di dalam petikan Muqaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah yang dirumuskan dan ditetapkan pada tahun 1950 disebutkan, “Masyarakat yang sejahtera, aman damai, makmur dan bahagia hanyalah dapat diwujudkan di atas keadilan, kejujuran, persaudaraan, dan gotong royong; bertolong-tolongan dengan bersendikan hukum Allah yang sebenar-benarnya, lepas dari pengaruh syetan dan hawa nafsu.”

Berdasarkan semua yang disebutkan di atas, maka Islam Wasathiyah adalah cara berislam yang paling sesuai dengan karakter bangsa dan masyarakat Indonesia dan sudah dipraktekan oleh leluhur kita sejak Islam datang ke bumi pertiwi ini dan insya Alloh akan terus dianut dan dipraktekan oleh semua Ummat Islam Indonesia sepanjang masa. Wallahua’lam bishshawwab.

Prof. Dr. H. Dadang Kahmad, M.Si, Ketua PP Muhammadiyah, Guru Besar Sosiologi Agama UIN SGD Bandung.

Sumber, Republika 27 Mei 2019