UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

Nyawalan di Tanah Suci

Suhu terik Kota Mekah pada kisaran 45-48 derajat celcius dengan pendeknya waktu malam dan panjangnya waktu siang, menjadi tantangan tersendiri bagi jemaah umrah yang melaksanakan puasa syawal. Disertai agenda kegitan umrah yang padat, sedikit waktu tidur, semakin menambah beratnya beban melaksanakan amaliyah istimewa tersebut.

Dalam perjuangan itu, tiba-tiba pikiran dihantarkan pada suasana ketika fajar menyingsing pada dini Hari Raya Idul Fitri.
Saat itu yang terdengar bukan hanya gemuruh suara takbir yang me- Mahabesarkan Allah. Tetapi, jauh dari lubuk hati yang paling dalam, terdengar gemuruh perasaan yang mengharu-biru, suara kepedihan dan kegembiraan, suara tangisan dan kebahagiaan.

Suara tangisan hadir, karena mengenang Ramadhan, yang tiba-tiba meninggalkan, pada akhir waktunya, pada ujung jangkanya, dan pada kesempurnaan bilangannya. Padahal berbagai ibadah yang diperintahkan belum maksimal dilaksanakan. Puasa yang dikerjakan masih banyak cacatnya, shalat tarawih yang didirikan masih banyak bolongnya, tilawah al-quran yang dilantunkan belum sempat dikhatamkan, bahkan zakat, infaq dan shadaqah yang ditunaikan masih jauh dari keihlasan. Padahal jika semuanya ditunaikan dengan baik, Allah menjajikan pahala yang berlipat ganda. Kabar buruknya, belum tentu pada ramadhan tahun depan masih diberi kesempatan usia.

Sementara suara kebahagiaan hadir, karena tiba pada hari raya idul fitri. Ied artinya kembali, sedangkan fitri berarti fitrah dan al-fathir. Fitrah artinya asal dan awal penciptaan. Baginda Nabi menegaskan, kullu mauludin yuladu alal fitrah, Pada asal dan awal penciptaan setiap manusia berada pada kondisi fitrah, suci, bening dan jernih dari segala kotoran, kayaumi waladathu ummuhu, persis seperti hari dimana kita dilahirkan ibu. Sedangkan al-fathir, artinya Sang Pencipta, Allah SWT. Ibadah ramadhan yang dilaksanakan dengan totalitas keimanan, akan menghantarkan siapapun pada ridha Allah sang pencipta.

Mereka yang kembali pada asal dan awal penciptaan, dan kembali pada ridho Allah SWT, itulah idul fitri yang hakiki, dimana Al-Quran menyebutnya sebagai muttaqien, yakni orang-orang yang bertaqwa.

Berikutnya, suara kebahagian hadir dari dalam jiwa, karena teringat janji Allah bagi orang yang bertaqwa. Allah akan memberi jalan keluar dari setiap masalah dan memberi rizki dari arah yang tidak diduga (Qs. At-Thalaq, 2-3), Allah akan menjaga hidup berada dalam kegembiraan, kebahagiaan, dan kemenangan dari dunia sampai akhirat (Qs Yunus: 63-64). Berikutnya, Allah akan memberi, Al-Furqon, yakni kekuatan untuk berpihak pada yang benar bukan pada yang salah, ditutupi semua aib dan diampuni semua dosanya (Qs. Al-Anfal:29). Pada ujungnya, hanya manusia yang bertaqwalah yang paling mulia dihadapan Allah (Qs. Al-Hujurat:13)

Namun semua hadiah yang Allah berikan, menjadi tidak ada artinya, manakala idul fitri menjadi momentum iedul futur, yakni kembali mengumbar nafsu makan minum tanpa kendali dan mengumbar nafsu seksualitas tanpa rem yang memadai. Hal demikian selain bisa mengkonstaminasi fitrah dan kesucian, juga bisa menjauhkan diri dari Allah Yang Maha Suci. Bahkan dalam surat al-Nisa ayat 112, Allah memberikan peringatan, “hina, celaka, rusak, roboh, hancur fitrah yang telah diraih, dan taqwa yang telah dibangun, dimana saja berada, apapun posisi yang dipegang, kecuali bila berpegang teguh pada tali agama Allah, dan berpegang teguh dalam hubungan dengan sesama.

Dalam keinginan memelihara hablumminallah, menjaga kontinuitas ibadah, mendamba genapnya raihan pahala puasa, dan tertutupinya berbagai kekuarangan puasa wajib, juga disertai keyakinan yang penuh atas sabda baginda sebagaimana diriwayatkan oleh Abu Ayyub Al Anshoriy, Rasulullah saw. “Barang siapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, ia seperti berpuasa setahun penuh”, maka sejumlah tantangan yang dihadapi menjadi semacam suplemen yang bisa menambah energi.

Kembali keawal, kegiatan nyawalan di tanah suci, selain bisa menambah berbobotnya pahala ibadah umroh dan terjaganya koneksitas diri dengan Yang Ilahi, juga menjadi semacam energi yang bisa menjaga fitrah dan raihan derajat taqwa dari segala konstaminasi rutinitas yang berbahaya.

Aang Ridwan, Pembimbing Haji Plus dan Umroh Khalifah Tour dan Dosen FDK UIN Bandung.

Sumber, Pikiran Rakyat 18 Juni 2019