UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

Mudik Silaturahmi Hati

Cinta, rindu, dan kasih sayang milik hati, bukan teknologi. Bahkan, bibir pun hanya sanggup menjadi penyambung rasa, tidak dapat menjamin untuk tidak dusta. Antar Venus (2015) mengutif “Filsafat Hati” Kim Hui (Pakar Filsafat Melayu) yang menyatakan, etnik Melayu adalah masyarakat yang menempatkan hati sebagai pusat diri, sehingga kata hati kerapkali menjadi dasar filosofis tindakan komunikasi.

Hal itu berpengaruh langsung pada bahasa Indonesia yang bersumber dari bahasa Melayu, sehingga kata hati-hati, memperhatikan, perhatian dan kata-kata lainnya yang menunjukkan relasi sosial dengan hati sangat dominan. Penggunaan kata hati pun bermakna bahwa dalam melakukan berbagai tindakan sosial tidak hanya menggunakan akal atau rasio, tetapi juga hati. Apalagi, dalam konteks ke-Indonesia-an hati pun menyimbolkan ketulusan atau dalam bahasa agama keikhlasan. Sebagaimana ingin ditunjukkan para calon kepala daerah ketika berkampanye : mengabdi dengan hati; bekerja dengan setulus hati.

Islam pun mengajarkan hati adalah segala-galanya. Sejumlah ayat dan surat dalam Al-Quran pun memberikan pedoman untuk selalu menjaga hati. Rasulullah bersabda bahwa di dalam diri manusia ada segumpal darah (hati), apabila hati itu baik maka baik pula seluruh diri dan amal perbuatan manusia dan apabila hati itu rusak, maka rusaklah seluruh diri (amal perbuatan manusia tersebut). Ingatlah, ia adalah hati.” (HR. Bukhari-Muslim). Oleh karena itu, K.H. Abdullah Gymnastyar meng-creat-nya dalam kreativitas Manajemen Qolbu.

Ibadah Puasa pun ibadah hati; bukan hanya menahan lapar, dahaga, dan syahwat. Tua-muda; laki-laki-perempuan; pekerja keras-pekerja ringan, tidak jaminan tamat sebulan menjalankan ibadah puasa, jika tidak punya ketetapan hati. Mereka dapat trangtrangan atau diam-diam membatalkan puasa. Nilai puasa adalah nilai keyakinan hati atas kekuasaan Allah Swt, sehingga melahirkan kebersihan hati: fitroh. Itulah kemenangan yang ingin diraih semua umat Islam di hari Idul Fitri.

Mudik
Pun hiruk-pikuknya kegiatan lain yang menyertai kekhusuan Puasa. Jika semua didasari dengan ketulusan hati, insya Allah menambah berkah hikmah Puasa, tidak terkecuali mudik. Kendati mudik diasumsikan sebagai tradisi muslim Indonesia, tetapi memiliki nilai yang mendunia, jika mudik dengan hati. Mudik bukan untuk unjuk keberhasilan, kesuksesan, dan kekayaan, baik pada sanak saudara, kerabat, maupun tetangga. Mudik adalah unjuk kasih sayang dan kerinduan terhadap orang-orang tercinta dan kampung halaman.; mudiK adalah bukti kecintaan terhadap orang tua, sanak saudara, tetangga, dan kampung halaman.
Oleh karena itu, apapun alasannya, tradisi mudik teramat sulit untuk ditinggalkan. Bahkan makin berkembang tidak hanya di kalangan umat Islam, tetapi juga umat lainnya: Mereka pun menikmati indahnya mudik. Kenikmatan mudik karena dapat mempertemukan hati dalam limpahan kasih sayang, di antara anak dan orang tua, adik dan kakak, sanak dan saudara, teman lama pun bertemu juga.

Angka kecelakaan boleh dipaparkan, kisah pilu, menyedihkan, dan penderitaan pemudik sering diberitakan. Namun, tidak pernah dan tidak akan pernah menyurutkan mereka untuk terus berjuang menyusuri jarak, gelap, macet, dan situasi jalanan yang kadang ganas dan tidak mengenakkan. Semua terhapus dalam kisah mempesona dan bahagia dapat mempertemukan hati dengan sanak saudara.

Teknologi informasi boleh makin tinggi. Bahkan, diasumsikan dapat menggantikan pertemuan di antara dua orang atau lebih, seperti dengan SMS, telpon, washapp, bahkan bertatap muka melalui video call. Realitas itu pula yang melahirkan “budaya” saling sapa, basa-basi, dan ucapan selamat suka-duka pun didominasi media sosial. Termasuk untuk mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri, sekarang teramat jarang digunakan surat ucapan, tetapi cukup SMS, telpon, washapp, atau video call, lebih cepat dan murah. Namun kedasyatan media sosial untuk berinteraksi sosial di antara sanak-saudara, tidak dapat menggantikan mudik. Teknologi informasi makin tinggi, mudik tetap membludak.

Bukan hal yang tidak mungkin makin canggihnya teknologi informasi justru menempatkan orang-orang makin berkarakter individual. Jargon mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat itu pun pasti lahir dari fenomena masyarakat dalam penggunaan media sosial. Oleh karena itu, Arnold Dashefsky (1976) dalam teorinya mengungkapkan, kemajuan masyarakat telah menimbulkan tingkat keterasingan yang tinggi secara perseorangan dan perubahan besar secara sosial kultural.

Keterasingan itulah yang mendorong banyak orang memilih mudik, karena dalam pandangan Jalaluddin Rahmat (dalam Mulyana:2011), lebaran, mudik, dan ritual lainnya di bulan Ramadhan sebagai terapi modernitas, yaitu penyakit jiwa yang didera oleh orang modern, di antaranya adalah orang yang menganggap silaturahmi dengan orang tua dan sanak saudara dapat tergantikan oleh media sosial. Padahal dengan cara apapun teknologi tidak memiliki hati, ucapan selamat dan minta maaf yang dilakukan dengan bertatap muka dan berhadapan menggunakan media sosial, tetap lebih afdol bersilaturahmi tata muka langsung.

Dengan mudik, masyarakat kota dapat berhindar dari keterasingan sekaligus merasa menemukan kenyamanan yang bersifat nostakgik, hangat, dan menyenangkan. Berhasil menemukan kembali cahaya hati yang tertinggal dalam keramah-tamahan kampung halaman dan sapa mesra, peluk dekap keluarga dengan keiklasan hati yang penuh kasih dan sayang. Itulah yang dirindukan setiap orang setelah penat dalam kebisingan dan kesibukan pekerjaan, sehingga mereka rela mengorbankan apapun demi pertemuan hati kembali dalam mudik. ***

Mahi M. Hikmat, Dosen Fakultas Adab & Humaniora UIN Sunan Gunung Djati Bandung dan Dewan Pakar ICMI Jawa Barat.

Sumber, Pikiran Rakyat 31 Mei 2019