UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

Meneguhkan Sikap Takwa

Ramadhan telah pergi bersambut hari Raya Idul Fitri. Hari yang membahagiakan dan juga menyedihkan. Bahagia, karena kita berada pada hari yang fitri, dimana inilah momentum untuk purifikasi amalan kita pada bulan Ramadhan yang penuh rahmat, ampunan dan pembebasan dari api neraka.

Menyedihkan, karena baru saja kita ditinggalkan bulan Ramadhan yang sangat prestisius. Mental kita dilatih untuk menahan dari segala hal yang membatalkan puasa, perilaku kita dituntun untuk berjuang semaksimal mungkin dengan amalan-amalan sunnah yang pahalanya berlipat ganda, dan diakhiri dengan kewajiban mengeluarkan zakat fitrah.

Akhir dari Ramadhan yang telah dinikmati bersama adalah agar kita menjadi bagian dari orang-orang yang bertakwa (Q.S al-Baqarah 183). Berakhirnya Ramadhan harus bisa dibuktikan dengan meningkatnya ketakwaan kita pada Allah. Sebagaimana yang diriwayatkan Abu Dzar al-Ghifari RA, ia berkata: ‘Rasulullah SAW bersabda, “Bertakwalah kepada Allah dimanapun engkau berada, dan hendaknya setelah melakukan kejelekan engkau melakukan kebaikan yang dapat menghapusnya. Serta bergaulah dengan orang lain dengan akhlak yang baik‘” (HR. Ahmad dan Tirmidzi). Hadis tersebut mengingatkan kita agar senantiasa menjaga takwa, selalu berbuat baik, dan berakhlak mulia.

Prof. Quraish Shihab menjelaskan takwa terambil dari akar kata yang bermakna menghindar, menjauhi atau menjaga diri. Menurutnya takwa mencakup tiga tingkat penghindaran. Pertama, menghindar dari kekufuran dengan jalan beriman kepada Allah. Kedua, berupaya melaksanakan perintah Allah sepanjang kemampuan yang dimiliki dan menjauhi larangan-Nya. Ketiga, dan yang teratas, adalah menghindar dari segala aktifitas yang menjauhkan fikiran dari Allah SWT.

Makna takwa pertama adalah menghindar dari kekufuran dengan jalan beriman kepada Allah. Maka beruntunglah kita yang memiliki iman yang benar kepada Allah. Selanjutnya jangan sampai melupakan posisi iman kita yang pasti akan diuji oleh Allah (QS. Al-‘Ankabuut: 2-3)

Ramadhan dengan shaumnya menjadi media ujian secara umum, maka pantas jika kita diingatkan, “Berapa banyak orang berpuasa yang tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga saja.” (HR. Ibnu Majah no.1690 dan Syaikh Albani berkata, ”Hasan Shahih.”)

Makna kedua dari takwa adalah, berupaya melaksanakan perintah Allah sepanjang kemampuan yang dimiliki dan menjauhi larangan-Nya. Untuk memahami apa-apa saja perintah dan larangan Allah, adalah dengan mencontoh sunnah-sunnah Rasul. Di sinilah pentingnya ilmu pengetahuan.

Ramadhan yang telah kita lalui, mengajarkan kita untuk senantiasa mencari pengetahuan, kepada siapa dan dimana saja. Karena dengan itulah kita dapat menjadi bagian dari ulul albab. Sehingga setelah Ramadhan, semakin besar dan kuat keinginan kita untuk mencari ilmu pengetahuan.

Makna ketiga, dan yang teratas dari takwa, adalah menghindarkan diri dari segala aktifitas yang menjauhkan fikiran dari Allah SWT. Jika kita mampu mengolah bagian mana saja yang menjadi kebutuhan hidup, tentu saja kita dapat menghindarkan diri dari memburu kepentingan hidup. Karena merasa cukup adalah sikap dari seorang mu’min yang telah melewati ibada puasa pada bulan Ramadhan. Nabi Muhammad SAW bersabda, “Kekayaan tidaklah diukur dengan banyaknya harta, namun kekayaan yang hakiki adalah kekayaan hati.” (HR. Bukhari dan Muslim; dari Abu Hurairah).

Dindin Jamaluddin, Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) UIN SGD Bandung

Sumber, Hikmah Republika 10 Juni 2019