UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

Melalui Raker Kita Unggul dan Maju

Raker itu “Rapat Kerja”. Rapat adalah perbincangan, sedangkan kerja adalah tindakan. Rapat kerja dengan itu adalah kegiatan membincangkan sesuatu sebagai dasar bagi tindakan yang akan dilakukan. Kerja atau tindakan rapat bukanlah kerja tanpa rencana. Rapat kerja dilakukan karena ada tindakan pasti yang hendak dilakukan.

Apapun pemaknaannya. Bagaimanapun orang memahaminya, rapat kerja adalah kegiatan serius, prestisius juga ambisius. Ia disebut begitu karena di dalamnya ada lalu lintas gagasan, perbincangan tentang ide-ide mendasar, agenda besar, menyoal langkah-langkah ke depan yang akan dilakukan. Merumuskan rencana-rencana yang mungkin bisa dikerjakan dalam rentang tertentu di masa yang akan datang.

Bayangkan jika raker hanya membincang ikhwal sepele, soal remeh temeh atau sesuatu yang remah-remah. Dipastikan, ia hanya cukup dibincangkan di warung kopi sambil kangkaw-kangkaw. Lalu urusan bisa selesai. Tapi tentu saja, itu bukan raker tapi ngobrol!!!

Raker itu epistemologinya jelas. Ia semacam siasat mengkongkritkan pikiran supaya tidak melulu teoritis. Raker adalah strategi supaya yang abstrak bermetamorfosa menjadi sesuatu yang nyata. Raker itu metode memperjelas apa yang sebelumnya berkabut menjadi terang. Raker itu sistematisasi dan siasat menyulam pikiran-pikiran yang berserak menjadi utuh dan sistimatis. Dengan itu, raker sejenis panduan supaya langkah kerja tak salah.

Raker biasanya dilakukan oleh lembaga dan institusi yang mapan. Bisa perusahaan atau lembaga pendidikan. Umumnya dilakukan di awal-awal tahun. Sejenis siaga bahwa masa depan bisa tak terduga. Awal tahun adalah sejenis penanda bahwa jalan suram mungkin juga gelap akan menghadang dan harus dibuat terang sedari awal.

UIN SGD Bandung tidak hanya organisme hidup tapi juga entitas kerja. Di dalamnya terhimpun sejumlah pikiran dan keinginan yang berbeda dan pasti beragam. Keberbedaan pikiran dan keinginan di satu sisi adalah “rahmat” tapi jika tidak diolah dan disinergikan, ia akan menjadi masalah yang berpotensi laten mendatangkan kegoncangan dan madharat. Di titik ini, menyatukan niat dan tekad adalah kemestian. Bahwa perbedaan pikiran dan keinginan adalah modal dasar bagi keunggulan dan kemajuan.

Secara spiritual, raker adalah menghimpun yang tak sama dan berbeda menjadi “kalimatun sawa” tanpa berpretensi mengikis habis keberbedaan dan menepikan pandangan yang sudah menjadi hukum alam (sunatullah).

Rapat kerja dengan itu adalah tindakan mensinergiken serpihan pemikiran dan keinginan yang berbeda menjadi kesatuan utuh dengan fungsi yang berbeda tapi bergerak dalam naungan visi dan misi yang sama. Bayangkanlah tubuh, ada tangan, ada kaki, ada mata, ada telinga, tapi ia membentuk kesadaran yang utuh tentang manusia.

Karena setiap masa tantangannya selalu beda. Maka rencana juga ancangan kerja harus menyesuaikan dengan situasi yang ada. Rencana dan ancangan itu adalah juga langkah antisipasi terhadap tantangan yang akan datang. Ia juga adalah siasat menjawab tuntutan zaman. Dengan itu draft rencana juga ancangan kerja yang dibuat bukanlah copy paste portofolio atau semacam repetisi yang itu-itu saja.

Raker yang dilakukan mudah-mudahan menjadi jalan untuk memperoleh kehormatan kompetensi, keunggulan dan kemajuan lembaga. Mudah-mudahan ia berbekas menjadi amal sholeh dan kebaikan bukan karena pesertanya bisa makan enak dan tidur nyenyak. Raker yang dilakukan harus menghimpun seluruh elemen kekuatan untuk “benar-benar bekerjasama, bukan sekadar bersama bekerja” seperti yang ditegaskan pimpinan kita.

Rapat kerja diharapkan menjadi jembatan penghubung masa lalu, masa kini dan masa depan. Mengambil pelajaran dari yang sudah terjadi untuk membuka jalan lapang bagi masa depan. Untuk menjadi penentu permainan di tengah persaingan dan gelombang perubahan.

Allahu a’lam[]

Lembang, 19 Pebruari 2020

Dr. Radea Juli A. Hambali, M.Hum, Wakil Dekan I Fakultas Ushuluddin UIN SGD Bandung.