UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

Isra Mi’raj dan Egoisme Beragama

Ada yang berbeda dengan susana haramain pada momentum Isra Mi’raj tahun ini. Di bulan yang menjadi saksi di Israkan dan di Mi’rajkan baginda Nabi, dua kota yang disucikan Allah itu selalu saja disesaki para jemaah untuk meluapkan kerinduan bertamu ke rumah-Nya dan berziarah ke makam kekasihnya. Namun pada momentum bersejarah kali ini, haramain nampak sangat sepi. pandemik covid 19 dengan keganasan penularan wabahnya, telah memaksa dunia, tidak terkecuali Mekah dan Madinah untuk melakukan lockdown. Dua kota yang menjadi pusat cita-cita seluruh muslim di dunia ini, kini tengah diselimuti duka.

Ada dua kata kunci sebagai pelajaran berharga dari peristiwa isra mi’raj baginda Nabi dalam konteks hari ini, yakni suasana duka dan egoisme beragama.


Dalam simpulan para ulama, suasana duka yang menghujani baginda Nabi tiada henti, kemudian dihadapi dengan tulus dan tabah, telah mengokohkan keberadaannya sebagai ‘bi’abdihi’ (Qs Al-Ira :2), yakni hamba Allah yang paripurna. Atas hal itu, beliau diperjalankan oleh Allah dari satu tempat mulia, Masjidil Haram ketempat mulia berikutnya Masjidil Aqhsa. Kemudian Mi’raj, diangkat meninggalkan bumi yang rendah menuju langit yang tinggi sampai pada suatu tempat yang disebut sidratul muntaha, yang berarti tujuan akhir dan bertemu dengan Allah Swt.

Dalam sudut pandang sufistik, mi’raj adalah puncak perjalanan tertingi seorang hamba ketika mendekati Allah. Mereka mengatakan, bila mereka seperti Rasulullah naik ke langit menuju sidratul muntaha dan bertemu dengan Allah, mereka tidak akan turun lagi ke bumi. Tetapi Rasulullah, setelah mencapai maqam tertinggi itu, beliau tidak larut dalam egiosme keberagamaan, beliau malah turun kembali lagi ke bumi dan membawa suatu amanah untuk menyelamatkan penduduk bumi agar tetap menghamba kepada Allah.

Mari kita belajar dari peristiwa agung ini untuk menggali hikmah dari kejadian luar biasa yang membuat duka kemanusiaan hari ini.

Pertama, tidak bisa disangkal, pandemic covid 19 telah menggores luka dan duka mendalam. Bukan hanya bagi calon tamu Allah yang ditangguhkan keberangkatannya dalam waktu yang belum jelas, tetapi juga bagi kemanusiaan secara universal. Agar duka berbuah mulia, sebagai mana dialami baginda Nabi, duka ini harus dihadapi dengan lapang dada. Dalam Al-Qur’an surat Ali Imran ayat 200 Allah memberi petunjuk. Hadapi semuanya dengan sabar, terus lipat-gandakan kesabaran, dan waspada terhadap bisiskan-bisikan yang menyesatkan. Kemudian terus tingkatkan ketakwaan kepada Allah. Insya Allah buah dari duka adalah bahagia.

Kedua, dalam pijakan kesabaran dan keharusan meningkatkan ketakwaan serta tuntutan untuk mewaspadai bahaya penyebaran pandemik covid 19 yang masif. Mari sekali lagi kita belajar dari mi’rajnya Baginda Nabi yang tidak terjebak pada egoisme keberagamaan.

Pemerintah Indonesia telah memutuskan menerapkan “social distancing” untuk memutus mata rantai penyebaran covid 19. Karena itu MUI telah berijtihad dan mengeluarkan fatwa begitupun sejumlah ulama telah mengleurakan maklumat, khususnya tentang mengganti sholat juma’at dengan sholat dzuhur dan sholat berjamaah dengan sholat di rumah masing-masing. Fatwa dan makulmat ini tidak perlu direspon dengan emosional apalagi ekspresi yang tidak terpuji. Hingga banyak yang tidak segan menghujat, memposisikan paling benar, dan menyudutkan orang lain sebagai muara dan muasal keburukan. Hanya berbekal segelintir dalil yang tersebar di media sosial bahkan tidak dipahami secara komprehensif, banyak yang tega melontarkan tuduhan sesat kepada pihak yang dianggap tidak sejalan dengan egoisme keagamaanya.

Dalam suasana seperti ini yang dibutuhkan bukanlah egoisme keberagamaan, tetapi spirit kebersamaan. Hanya saja modus kebersamaannya tidak diekpresikan dalam bentuk berkumpul atau berjamaah di ruang publik. Tetapi dalam bentuk bertahan untuk sementara di ruang privat. Sebab dalam kepungan covid 19 soliter adalah solider.

Dr. H. Aang Ridwan, M.Ag, dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN SGD Bandung.

Sumber, Pikiran Rakyat 24 Maret 2020