UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

FOUCAULT: KISAH CINTA YANG RUMIT

Sebuah Pengantar untuk Buku Seorang Teman

Apa yang terbayang dari kisah hidup seseorang, dalam pikiran saya, adalah kisah cinta. Sesingkat apapun riwayat yang ada, cinta selalu hadir di dalamnya. Tentu cinta dalam arti yang luas. Karya misalnya, adalah tanda cinta pada sesuatu yang dikuasai dalam hidup. Namun demikian, cinta ini dalam banyak hal lebih sering menyerupa tanda seru. Ia tidak bisa dibaca, tapi adanya menegaskan pekik paling tinggi, semangat paling nyata, pengorbanan melebihi segalanya, yang itu tentu saja tidak bisa diungkapkan dalam semata kata-kata. Hal ini pula yang membuat kisah cinta selalu rumit. Termasuk Michel Foucault, yang nantinya diceritakan oleh penulis dalam buku ini.

Saya jelas tidak punya hak untuk mencampuri apa yang dipahami oleh penulis dari berbagai teori, pemikiran, ide-ide, yang diungkap oleh Foucault dalam banyak penanda cinta di hidupnya. Setiap gagasan filosofis sedari awal selalu memiliki banyak pintu untuk dimasuki dan dipahami secara berbeda. Apalagi gagasan para pemikir yang sedari awal memang rumit, seperti Michel Foucault ini. Karena itu, saya lebih ingin mengajak diri saya khususnya, dan mereka yang mungkin tersesat dan membaca buku ini, untuk memungut jejak cinta yang ditinggalkan oleh Foucault sepanjang usia gagasannya yang tak akan lekang. Seseorang boleh saja mati, tapi gagasan yang dibicarakan dan pikiran yang dituangkan dalam tulisan akan selalu abadi. Dan apa yang ditulis Foucault melalui seluruh karya-karyanya seakan membenarkan “nubuwah” Pramudya bahwa “menulis adalah pekerjaan menuju keabadian”.

Lalu, bagaimana caranya memungut jejak cinta yang ditinggalkan Foucault? Cara sederhana tentu saja membaca riwayatnya. Menyadari bahwa dirinya, seperti kita, adalah manusia. Foucault, dengan berbagai gagasan besarnya, adalah seseorang yang pernah terluka, patah hatinya, menyimpan amarah dan dendam, memiliki teman dan lawan, pernah dikucilkan, pernah merasa tak berharga. Ya, seperti kita. Tapi peristiwa dan pengalaman yang diberikannya, pilihan-pilihan yang diputuskan ketika masalah sedang menjadi beban, pikiran-pikiran yang bergumul dalam diri ketika peristiwa hidup yang sulit sedang terjadi, akan membentuk kecintaan seseorang pada sesuatu. Dan itulah yang nantinya bisa dituliskan pada dalam hidup. Apa yang dipilih dan diputuskan oleh Foucault, apa yang dipikirkan dan membentuk kecintaannya, pada akhirnya tidak terlepas dari apa yang telah dilaluinya. Dan itulah yang seharusnya bisa kita baca. Kita pungut sebagai jejak cinta.

Persoalannya tentu saja, tidak setiap kita merasa bahwa pilihan-pilihan, putusan-putusan, pikiran-pikiran, ataupun gagasan-gagasannya, seberharga jejak cinta Foucault. Beberapa dari kita barangkali terus merasa dalam hidupnya bukan siapa-siapa. Tidak bermakna, tidak berharga, tidak ada. Padahal, Foucault, sepanjang hidupnya berusaha membela cinta-cinta yang terpinggirkan seperti ini. Mereka yang marjinal, yang terkucilkan, yang tidak memiliki kuasa, yang hanya bisa tunduk di bawah norma yang tidak pernah dirumuskannya, adalah ladang di mana cinta Foucault bisa ditemukan jejaknya. Orang-orang ini, ucap Foucault, hanyalah korban dari hasrat sebagian lainnya untuk mengontrol, mengendalikan, berkuasa. Dalam masyarakat yang terdisiplinkan, orang tidak boleh berbeda dari yang lainnya, harus memiliki warna cinta yang sama. Hidup hanya harus selaras norma. Jika tidak, maka penjara adalah tempat untuk anda. Orang harus didisiplinkan melalui siksaan badan, patah hati untuk menormalkan perasaan, kebenaran institusional untuk menghilangkan riak nakal dalam pikiran. Hidup yang benar, adalah hidup yang terkontrol. Tentang ini bagaimana Foucault menelisik dan membongkar tehnik pendisiplinan diri yang banyak diparaktekkan diam-diam bahkan terang-terangan. Inilah yang disebut Foucault sebagai “metode panopticon”. Dan ini pula yang ditolak oleh Foucault.

Bagi Foucault, biarkan orang mencintai apa saja dalam hidupnya. Biarkan orang menikmati pilihan-pilihannya dan dengan itu tetap merasa berharga tanpa harus disebut gila. Biarkan orang memutuskan untuk mencintai yang mana. Tidak perlu dilarang, sebab tidak ada cinta dengan pelangi yang sama untuk setiap orang. Setiap hati memiliki ruangnya sendiri. Setiap hidup memiliki alur dan jatahnya sendiri. Setiap gagasan memiliki lembarannya sendiri. Upaya mengontrol hal-hal yang berbeda adalah sia-sia. Akan ada perlawanan sepanjang sejarah pada setiap gagasan yang mengeliminasi keberadaan yang lainnya.

Cara membaca seperti inilah yang sebenarnya dititipkan oleh Foucault di sepanjang riwayat cintanya. Kita hanya harus memungutnya. Lalu, jika sempat, menitipkannya kembali pada banyak peristiwa yang ditemui dalam hidup kita. Seperti yang dilakukan oleh penulis buku ini awalnya. Penulis menggunakan warisan Foucault tersebut untuk membaca kalimat cinta perjalanan Kyae di Madura dalam disertasinya, sebelum hadir dalam kalimat yang berbeda dalam lembaran-lembaran di buku ini nantinya. Menitipkan kalimat cinta pada peristiwa yang berbeda saja bukan upaya yang sederhana, apalagi menuliskan ulang kalimat tersebut dalam bahasa yang berbeda. Karena itu, terlepas dari berbagai hal yang bisa saja terlupakan dalam uraian penulis di buku ini, mari bersama Foucault merayakan cinta. Bagi anda, yang seperti saya saat ini sedang patah hatinya, mari tetap merasa berharga. Hidup adalah milik semua. Kita tetaplah kita, meski di luar sana ada orang yang menolak kita. Kita tetaplah kita, meski tak ada lagi sepotong senja yang tersisa.

Menjadi Foucault adalah menjadi diri sendiri. Menjadi apa yang bisa kita usahakan sendiri untuk diri sendiri. Mungkin pahit bahkan bisa saja getir. Setiap pilihan pasti ada konsekuensinya. Dan konsekuensi yang mungkin ditemukan bisa tak sama. Jika Foucault di akhir hayatnya harus mati karena “penyakit kelamin” , kita sebagai pembaca mungkin saja beda. Mungkin “mati” karena patah hati. Karena luka dan dendam yang dipelihara berlama-lama. “Yang patah memang tumbuh, lalu sembuh tapi tidak bisa kembali utuh”. Allahu a’lam[]

Bandung, 31 Januari 2020

Dr. Radea Juli A. Hambali, M.Hum, Wakil Dekan I Fakultas Ushuluddin UIN SGD Bandung.