UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

Dosen

Sofisme Big Data

Demokrasi sering disebut sebagai “sistem” yang “memuliakan” rakyat. Ia juga didapuk sebagai mekanisme dimana suara rakyat “disejajarkan” dengan suara Tuhan. “Volk populi, volks dei”, begitu jargonnya. Dengan ini, rakyat dibayangkan sebagai entitas yang tidak hanya polos tapi juga suci. Tapi Plato punya tilikan berbeda soal rakyat. Konon, dalam bukunya The Republic, Plato menggambarkan rakyat sebagai

Ironi Akhir Zaman

Suatu ketika Umar bin Khattab pernah berujar Ironi, “sangat banyak pengunjung Masjidil Haram, tetapi sangat sedikit yang benar-benar behaji”. Ungkapan ini terekspresi ketika merespon sabda Rasullah Saw, dari Anas ra, “Akan datang suatu masa, di masa itu orang kaya berhaji hanya untuk tamasya, kalangan menengahnya berhaji hanya untuk berbisnis, mayoritas mereka berhaji hanya untuk riya

Lemari Digital

“Tempora mutantur, et nos mutamur in illis” Adakah yang tetap? Atau bisakah kita mempertahankan segala yang ada di dunia untuk tak berubah? Lalu, bagaimana dengan kita, apakah juga berubah? Waktu berubah, dan kita ikut berubah di dalamnya. “The times are changing, and we change in them”. Itulah makna dari pernyataan latin di atas. Sungguh. Seluruh

Pembelajar

Sikap manusia menilai kehidupan yang dijalani ditentukan ilmunya. Umar bin Khatab pernah mengatakan bahwa ilmu itu ada tiga tahapan. Jika seseorang memasuki tahapan pertama, ia akan sombong. Memasuki tahapan kedua, akan bersikap tawadhu’. Apabila memasuki tahapan ketiga, akan merasa dirinya tidak ada apa-apanya. Ditempalah dirinya sekuat tenaga dengan ilmu pengetahuan, terus belajar menjadi pembelajar untuk