UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

Digitalisasi Hadis: Urgensi Kolaborasi Akademisi Informatika dan Akademisi Bidang Ilmu Hadis


Pendahuluan
Meskipun sumber kedua Islam, namun hadis disepakti sebagai penjelas al-Qur’an yang merupakan sumber pertama. Karena itu, studi hadis menjadi penting, baik esensi maupun riil. Secara esensial, hadis merupakan apapun yang dating dari Nabi Saw. Adapun riil hadis adalah teks hadis yang tersebar di dalam kitab-kitab hadis.

Memang hadis telah rampung dibukukan, hanya saja belum tentu pengguna hadis mengacu kepada kumpulan kitab pokok utama yang mengoleksi hadis lengkap dengan rawi (periwayat), sanad (matarantai periwayatan), dan mata (teks hadis). Sering ditemukan di media social penyampaian hadis tanpa penyertaan kutipannya. Tentu kenyataan demikian dapat menimbulkan keraguan bagi pembaca apakah hadis tersebut otentik (sahih) ataukah terisolir.

Selebihnya, studi sanad tidak cukup untuk menilai hadis apakah layak diaplikasikan ataukah perlu ditangguhkan –untuk tidak menyebut ditolak. Setelah studi sanad, perlu dilakukan analisis matan secara mendalam, integral, dan komprehensif. Analisis matan dapat ditemukan di berbagai literatur hadis. Bahkan, analisis tersebut memungkinkan dikembangkan dari berbagai disiplin ilmu social.

Bagian ini tidak akan menyinggung analisis matan, tetapi akan mengemukakan pencarian hadis yang efektif dengan memanfaatkan teknologi digital.

Pembahasan
Secara garis besar, kumpulan kitab pokok utama hadis terbagi dua yaitu Kitab Musnad dan Kitab Mushannaf. Kitab Musnad susunan kitab berdasarkan urutan periwayat, disebut Musnad dan Mu’jam. Kitab Mushannaf ialah susunan kitab berdasarkan urutan bab-bab tematik, disebut Muwatha’, Jami’, Mushannaf, Sunan, Shahih, dan Mustadrak. Semua kitab ini telag didigitalisasi.

Pengmbilan hadis dapat dilakukan pencarian dari kumpulan kitab pokok utama dengan menggunakan aplikasi. Melalui aplikasi ini dapat pula dilakukan kofirmasi terhadap kitab pokok tersebut atas sebaran hadis di media social. Secara metodologis, operasi semacam ini disebut tahrij meliputi tausiq, tashih, dan I’tibar, serta selanjutnya syarah dan kritik.

Jika diketahui nama rawi sahabat maka hadis ditelusuri dari Kitab Musnad, Mu’jam, dan Athraf. Apabila diketahui tema hadis maka pencarian hadis digunakan Kitab Mushannaf (Muwatha’, Sunan, dan Shahih). Ketika diketahui lafadz awal matan maka pencarian hadis menggunakan Kitab al-Jami’ al-Shahir. Saat diketahui salah satu lafadz matan maka digunakan Kitab Mu’jam.

Pencarian akan menujukan hasil hadis dalam kumpulan kitab pokok utama. Suatu hadis pada gilirannya dapat diketahui seberannya terdapat di dalam kitab apa saja untuk kemudian direkapitulasi. Indentifikasi dilanjutkan untuk menyusun ussur hadis, daftar rawi, dan diagram sanad. Unsur hadis meliputi rawi sanad dan matan. Daftar rawi sanad mencakup kelahiran, negative-positif, dan periodesasi (Sahabat dan runtutat Tabi’in). Berikutnya, pendataan dan indetifikasi itu dapat menghasilkan diagram sanad.

Tiba gilirannya menentukan jenis hadis meliputi jumlah rawi, matan, dan sanad. Jumlah rawi dapat diidentifikasi mutawatir atau ahad. Dari segi matan dapat diidentifikasi sandaran dan bentuknya. Dari aspek sandaran meliputi marfu, mauquf, atau maqthu’. Dari aspek bentuk dapat berupa perkataan, perbuatan atau pernyataan. Dan dari segi tanda sandaran bias eksplisit atau implisit. Dari segi sanad dapat diidentifikasi muttashil atau munfashil. Dari segi keadaan sanad bias meliputi mu’an’an, muanan, ‘ali, nazil, musalsal atau mudabbaj.

Selanjutnya, kualitas hadis maqbul atau mardud (ditolak). Maqbul terdiri atas sahih dan hasan. Adapun mardud berarti dhaif. Apabila ada syahid atau mutabi maka kualitas hadis bias naik dari mardud-dhaif menjadi maqbul-hasan lighairihi (sepanjang bukan dhaif maudhu’, matruk dan munkar). Juga maqbul-hasan li dzatihi bias naik menjadi maqbul-shahih li ghairihi.

Giliran tathbiq hadis dimana hadis maqbul belum tentu ma’mul bih (dapat diamalkan) karena ada juga yang ghair ma’mul bih (tidak dapat diamalkan). Tiba di sini, tahrij masih perlu dilanjutkan untuk menentukan implementasi hadis melalui kritik atau analisis matan. Sebab, hadis ma’mul bih belum tentu kontekstual.

Kesimpulan
Pemanfaatan aplikasi memudahkan tahrij hadis menjadi lebih efektif yang sangat membutuhkan pengembangan aplikasi secara massif. Projek ini dapat dilakukan melalui kolaborasi antara akademisi informatika dengan akademisi bidang keahlian ilmu hadis.()

Dr. Wahyudin Darmalaksana, M.Ag, dosen peminat digitalisasi hadis Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati.