UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

DARI “OIKOS” MENUJU “POLIS”

Hari-hari ini kehidupan sosial kita sangat ramai. Bahkan sesak mungkin juga sumpek. Tiap sudut adalah omongan politik. Tiap kerumunan adalah perbincangan tentang dua jagoan yang berlaga memperebutkan massa dan kuasa.

Media sosial diramaikan dengan rivalitas dua kubu. Berlomba menahbis diri sebagai yang terbaik seraya menunjuk sang lawan sebagai penuh cacat, tak layak dipilih, dan mustahil memenangkan pertarungan.

Media sosial lalu berubah seumpama medan perang dengan senjata kata-kata yang menusuk. Dengan sebutan yang menikam dada lawan. Yang tergambar di media sosial, pertemanan berubah menjadi perselisihan. Persahabatan bermetamorfosa menjadi pertengkaran yang melampaui batas. Masing-masing menjelma dan berhasrat menjadi pemangsa sesama. Homo homini lupus tidak lagi sekadar wacana. Ia menjadi nyata dikenali.

Politik kita hari ini adalah keributan dan persaingan. Tim relawan dikerahkan. Lembaga survey dibayar dan dikendalikan. Rivalitas tampak nyata, ia menjelma dalam adu tipu muslihat yang ditimpali oleh fitnah dan kabar bohong. Masing-masing pihak terampil mengemas cerita seumpama benar dan faktual. Nalar publik digedor bertubi-tubi untuk segera percaya tanpa mampu mencerna. Cepatnya informasi yang diterima menihilkan kemampuan publik untuk menyaring mana yang rekayasa mana yang benar-benar nyata.

Apa yang dipertontonkan media sosial bukanlah politik sebagai cara menata dan mengatur kekuasaan berdasarkan keadaban, yang sebenarnya nampak adalah “antipolitik” (Hannah Arendt). Dalam anti-politik yang berlangsung adalah “herrschaft” (dominasi). Hasrat mendominasi itulah yang nampak telanjang teramati di media sosial.

Anti-politik menampik kehidupan bersama sebagai cara merealisasikan “agathon” (kebaikan). Agathon dapat dimengerti hanya jika para warganya melakukan komunikasi yang bermartabat. Dalam komunikasi yang bermartabat ada pertukaran ide dan gagasan. Ada silang-saling wacana dan pemikiran. Bukan caci maki dan celaan.

Ruang sosial kita hari ini adalah “oikos” (Aristoteles) yang menggambarkan tentang adanya relasi menguasai dan dikuasai. Amatilah media sosial bagaimana praktek menguasai dan dikuasai ini bekerja. Oikos inilah tempat lahir, tumbuh kembangnya yang anti-politik.

Di seberang oikos, Aristoteles menunjukkan tentang adanya “polis”. Sebuah ruang sosial yang “offentlichkeit”. Ruang publik yang terbentuk dari relasi-relasi warga yang bertukar ide dan gagasan secara sehat.

Polis adalah the “condition of possibility” dari tindakan politis, yakni “berbicara-dan-bertindak-dalam-kesalingan-dan-kebersamaan”. Dalam polis, setiap warga dapat tampil ke muka, melakukan perbuatan-perbuatan besar, tidak sekadar untuk “Kamf um Anerkennung” (perjuangan mencari pengakuan) melainkan untuk berpartisipasi di dalam pengambilan keputusan yang bersifat politis.

Menurut Hannah Arendt, “bebas dan hidup dalam polis adalah satu dan sama”. “Bersifat politis, hidup dalam polis”, katanya di tempat lain “itu berarti bahwa segala persoalan diatur dengan sarana kata-kata yang meyakinkan dan tidak melalui paksaan dan kekerasan”.

Berharap situasi yang anti-politik ini segera berakhir, diganti oleh keadaan yang lebih baik. Keadaan yang menunjukkan adanya saling penghargaan dan penghormatan antar sesama. Sebuah situasi yang meneguhkan bahwa manusia pada dasarnya baik bukan monster yang melihat sesama sebagai neraka (the hell is other) sebagaimana disebut Sartre bukan pula mangsa (homo homini lupus) sebagaimana yang dikira Hobbes. Allahu a’lam[]

Manisi, 4 April 2019

Dr. Radea Juli A. Hambali, M.Hum, dosen Fakultas Ushuluddin UIN SGD Bandung.