UIN SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG

Bulan Ilmu Pengetahuan

Ramadhan adalah bulan ilmu pengetahuan. Sangat merugi bagi mereka yang menghabiskan waktu menjalankan ibadah Ramadhan hanya dengan tidur, kegiatan hura-hura, dan tidak bermanfaat lainnya. Isi dengan kegiatan pencarian dan pendalaman ilmu pengetahuan. Lipat gandakan ikhtiar, baik itu tenaga, pikiran, maupun harta dalam proses pencarian ilmu.

Dengan ilmu, hidup manusia akan lebih mudah. Kewajiban mencari ilmu diberikan hingga ajal menjemput. Il mu harus bersanding dengan iman dan amal. Ketiganya satu kesatuan tak terpisahkan. Kemuliaan akan di berikan kepada mereka yang melengkapkan hidupnya dengan ketiga hal tersebut. Penuhi adab mencari ilmu, kepada guru, teman sesama pencari ilmu, saat menyampaikan ilmu dan pada catatan keilmuan. “…Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu bebe rapa derajat….” (QS al-Mujadalah: 11).

Mesti diingat, derajat kemuliaan itu tentunya diperoleh dengan niat awalnya. Apabila hanya untuk meraih pujian manusia, kedudukan, keuntungan duniawi, dan ingin mengungguli teman sejawat, sungguh itu kerugian. Namun, bila maksudnya untuk menghidupkan syariat Nabi Muhamad SAW, memperbaiki akhlak, dan menundukkan nafsu ammarah bias-su’ (yang selalu menyuruh kepada kejelekan), kebahagiaan dan kemuliaan tentu akan didapatkan.

Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya ‘Ulumuddin mengingatkan agar ilmu yang dimiliki tidak menjadi musuh di akhirat kelak. Untuk itu, ada empat hal yang harus diperhatikan. Pertama, hendaklah memperlakukan Allah SWT seperti perlakuan yang diinginkan dari seorang budak yang dimiliki.

Kedua, apa saja yang dilakukan terhadap orang lain, bayangkanlah jika itu dilakukan kepada kita. Berhati-hatilah dalam bertindak dan menghakimi orang lain. Rendah hati, jauh dari rasa angkuh, dan tidak berbangga diri menjadi akhlak keseharian.

Ketiga, ilmu haruslah yang dapat memperbaiki hati dan mem bersihkan jiwa. Tidak perlu men cari seluruh ilmu, jika tidak mam pu men jadikan diri pribadi yang lebih baik, dekat dan taat pada Allah. Ibnu Mas’ud RA. berkata, “Takut ke pada Allah SWT sudah cukup di anggap sebagai ilmu, dan lalai di hadapan Allah sudah cukup dianggap sebagai kebodohan”.

Keempat, janganlah menumpuk harta dunia lebih dari yang dibutuh kan dalam satu tahun. Menumpuk harta akan melalaikan dari meng ingat Allah SWT. Kerusakan yang ditimbulkan oleh harta menjadi kekuatan yang mampu mengge rakkan syahwat dan menyeretnya untuk bersenang-senang dengan halhal mubah, syubhat, bahkan haram.

Mari jadikan ilmu sebagai jalan mendapatkan ridha-Nya. Jangan sampai menjadi orang yang rugi dan celaka karena ilmu. Amalkan ilmu yang telah diperoleh. Allah mengumpamakan orang berilmu yang tak mengamalkan ilmunya bagaikan keledai, sebagaimana firman-Nya, “… seperti keledai yang membawa kitabkitab tebal…” (QS al-Jumu’ah: 5).

Siapa yang ilmunya me ningkat, ketakutannya kepada Allah juga harus menghebat. Ramadhan ini menjadi momentum untuk mendalami ilmu, menguatkan iman, dan memperbanyak amal saleh untuk meraih predikat ketakwaan. Wallaahu a’lam.

Iu Rusliana, dosen Fakultas Ushuluddin UIN SGD Bandung.

Sumber, Hikmah Republika 23 Mei 2019