Romadhon dan Fitrah Manusia
UINSGD.AC.ID (Humas) — Idulfitri dalam kearifan lokal masyarakat Jawa Barat dikenal dengan istilah lebaran. Istilah ini berasal dari kata lebar yang berarti luas atau melimpah. Makna tersebut menggambarkan limpahan berkah yang dirasakan setiap individu setelah menunaikan rangkaian ibadah di bulan suci Ramadhan.
Limpahan berkah itu tercermin dalam tradisi masyarakat, salah satunya melalui kebiasaan nganteran, yakni saling mengantarkan hidangan kepada tetangga. Tradisi ini bukan sekadar bentuk kepedulian sosial, tetapi juga menjadi simbol silaturahmi ekonomi, di mana rezeki yang dimiliki seseorang turut dirasakan oleh orang lain di sekitarnya.
Melalui praktik tersebut, kesenjangan sosial dan prasangka buruk antarindividu perlahan terkikis. Yang tumbuh justru nilai kebersamaan, kebaikan, dan harmoni dalam kehidupan bermasyarakat.
Dari tradisi ini pula lahir istilah lulubaran, yaitu momentum ketika setiap individu dengan tulus dan ikhlas melebur kesalahan menjadi kebaikan serta saling memaafkan. Lulubaran menjadi pengingat bahwa keberkahan akan hadir, baik secara personal maupun sosial, ketika konflik, perselisihan, dan kesalahan dapat diselesaikan dengan hati yang lapang.
Lebaran ini mengajarkan bahwa hidup dengan prasangka buruk (su’uzan) dan kebencian hanya akan menambah beban batin, bahkan berpotensi merusak kesehatan jasmani dan rohani. Sikap tersebut pada akhirnya melahirkan kehinaan dan permusuhan yang berkepanjangan.
Allah SWT mengingatkan hal ini dalam Al-Qur’an, Surah Al-Baqarah ayat 61 “Dan (ingatlah), ketika kamu berkata: ‘Wahai Musa, kami tidak tahan hanya dengan satu macam makanan saja. Maka mohonkanlah kepada Tuhanmu agar Dia mengeluarkan bagi kami apa yang ditumbuhkan bumi, seperti sayur-mayur, mentimun, bawang putih, kacang adas, dan bawang merah.’ Musa menjawab: ‘Maukah kamu mengambil sesuatu yang rendah sebagai pengganti yang lebih baik? Pergilah kamu ke suatu kota, pasti kamu memperoleh apa yang kamu minta.’ Lalu mereka ditimpa kehinaan dan kemiskinan, serta mendapat kemurkaan dari Allah. Hal itu karena mereka mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Yang demikian itu karena mereka durhaka dan melampaui batas.”
Untuk mengetahui teks lengkap Khutbah Ied Al-Fitri: Romadhon dan Fitrah Manusia oleh Prof. Dr. H. Fauzan Ali Rasyid, M.Si., Dekan Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Gunung Djati Bandung dapat diunduh melalui laman resmi yang tersedia ini