Keseimbangan Hidup Pascapandemi

(UINSGD.AC.ID)-Sudah sunatullah, setiap peristiwa sedasyat dan sehebat apapun, pasti berhikmah; di antara kesulitan pasti ada kemudahan. Namun hal itu hanya berlaku bagi orang-orang yang  berpikir, yang mau mengambil pelajaran dari berbagai fakta kehidupan ini. Manusia sangat memiliki peluang untuk menangkap noumena di antara fenomena yang terjadi karena manusia mahluk terbaik (ahsanut taqwiem) yang ada di muka bumi ini. Kedasyatan pandemic covid-19 sejatinya memberikan inspirasi yang dasyat pula pada loncatan pemikiran manusia untuk mengambil hikmah besar dari bencana ini.

Salah satu perubahan besar yang seharusnya terjadi kendati tanpa corona karena kemajuan jaman akibat perkembangan teknologi dan tuntutan kebutuhan manusiawi adalah pola dan budaya kerja. Work From Home (WFH), salah satu pola kerja yang trend karena dianggap salah satu solusi untuk mengurangi kontak dan kerumunan yang dapat memicu persebaran virus corona. Seorang pegawai dalam menjalan tugasnya tidak harus selalu ngantor, tetapi dilakukan di rumah saja, termasuk meeting, koordinasi, diskusi, bahkan pengajaran dosen dan guru beralih ke during

Efek dari perkembangan teknologi pada era digital, banyak pekerjaan dapat diselesaikan dimanapun dan kapanpun. Tidak ada batasan harus di kantor untuk berkoordinasi dengan kolega, atasan, dan bawahan. Cukup bermodal laptop dan smartphone, segala bentuk komunikasi dan urusan pekerjaan dapat diselesaikan. Bahkan, pada 40 negara di dunia sudah lebih dari itu, mereka sudah me-mix digitalisasi dengan nilai-nilai kemanusiaan, sehingga melahirkan pola kerja work-life balance (WLB), sehinggaketika pandemic covid-19 menerpa, pelayanan publik dan dunia usaha tidak kocar-kacir.   

WLB merupakan kombinasi sistematis antara aktivitas bekerja dan kehidupan sehari-hari, termasuk kehidupan pribadi, keluarga, dan bermasyarakat, sehingga seseorang dapat menjalani kehidupan pribadi bersamaan dengan pekerjaan (Bailyn et al. dalam Hadiyanto, 2019). Pola kerja ini akan menciptakan individu seimbang dalam memainkan peran berbeda sebagai karyawan, rekan kerja, bawahan di tempat kerja dan sebagai orang tua, saudara, dan karakter sosial lainnya (Mehta & Kundnani, 2015), sehingga mampu menyeimbangkan antara tuntutan pekerjaan dengan kebutuhan pribadi dan keluarga.

Waktu 24 jam yang dimiliki manusia dalam sehari semalam semestinya dibagi antara 8 jam kerja, 8 jam aktivitas sosial, dan 8 jam istirahat. Memaksakan lembur, bekerja ekstra dapat menurunkan konsentrasi dan produktivitas karena penggunaan energi tidak sesuai porsinya. Mengkonsumsi minuman berenergi hanya membantu dalam jangka pendek dan cenderung merusak kondisi fisik dalam jangka panjang. Selain juga menjauhkan diri dari orang-orang tercinta dan terdekat, sehingga rentan disharmonisasi. Tidak ada seorang pun yang berhasil tanpa dukungan orang lain, baik rekan kerja, atasan, keluarga, maupun teman, sehabat, dan tetangga. Itulah model keseimbangan pola WLB.

Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) dalam laporan penelitian ‘Better Life Index’ 2019 memberi peringkat kepada 40 negara di dunia berdasarkan seberapa baiknya masyarakat membagi waktu antara pekerjaan dan kehidupan personal. Belanda mendapatkan skor 9,5 dari 10, Italia skor 9,4, dan Denmark skor  9. Berikut 10 negara dengan WLBterbaik, seperti dilansir laman World Economic Forum (2019): Belanda, Italia, Denmark, Spanyol, Perancis, Lithuania, Nurwegia, Bergia, Jerman, Swedia. Warga negara-negara tersebut cenderung lebih sehat, produktif, inovatif, dan harmonis karena jauh dari stress.

Jauh berabad-abad ke belakang, Firman Allah dan Hadist Rasul pun sudah mengajarkan keseimbangan dalam hidup. Islam memberikan prioritas pada keberhasilan umat dalam nilai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Islam tidak menganjurkan umat manusia untuk meninggalkan duniawi menyepi hanya berserah diri menjalankan ritual habluminallah demi kehidupan uhrowi saja. Islam pun melarang umat manusia untuk tenggelam pada gemerlapnya kemewahan duniawi dan menjadikan diri sebagai budak materi. Umat yang terbaik adalah yang dapat menyeimbangkan pencapaian kebahagian dunia dan akhirat.

Oleh karena itu, permohonan yang selalu dipanjatkan muslim dalam berbagai kesempatan tidak terlepas dari keseimbangan hidup melalui do’a sapujagat. “Rabbana atina fiddunya hasanah wa fil akhiroti hasanah waqina ‘adzabannar“. Artinya:  “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”.

Kini, Indonesia terpuruk karena pandemic covid-19, tetapi bukan berarti tidak dapat bangkit. WFH yang sudah mulai mempola, ke depan ketika insya Allah pandemic Covid-19 usai, bukan hal yang mustahil jika dunia kerja pun melompat mengambil hikmah kebaikan merancang mengadaptasi WLB: memberi porsi hak manusiawi untuk lebih bahagia pada para pegawai dan pekerja beserta keluarga dan masyarakat sekitarnya, sehingga ketika cobaan semodel pandemic kembali tetap survive.  

Tidak harus persis meniru Belanda dkk-nya karena kita lebih unggul dengan ajaran karakterisik masyarakat religius yang sangat menjaga amanah, menghormati sesama, mencintai keluarga, dan menjadikan semua aktivitas bernilai ibadah menuju kesejahteraan dunia dan akhirat. ***

Mahi M. Hikmat, Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Dewan Pakar ICMI Jawa Barat

Sumber Pikiran Rakyat 31 Agustus 2021

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *