Keagungan Tuhan dalam Daging Qurban

Ilustrasi kurban / Foto Baznas

UINSGD.AC.ID (Humas) — Daging hewan qurban memiliki peran signifikan dalam berbagai dimensi. Artikel ini membahas itu dalam kaitan sumber nutrisi dan religi. Menarik juga ada perbandingan pandangan konsumsi daging dalam Islam dengan beberapa agama lain yang melarangnya.

Daging merupakan salah satu sumber protein hewani utama dalam konsumsi manusia. Dalam Islam, daging hewan qurban seperti sapi, kambing, dan domba tidak hanya dipandang dari sisi gizi, melainkan juga spiritualitas. Ibadah qurban adalah ritual yang mencerminkan kepatuhan kepada Allah SWT serta distribusi keadilan sosial.

Struktur Kimia dan Biologi Daging

Struktur Kimia daging terdiri atas berbagai komponen kimia. Protein (15–22%), merupakan sumber asam amino esensial. Protein utama meliputi miosin, aktin, dan kolagen. Lemak (1–15%), sebagai lemak intramuskular (marbling), terdiri atas asam lemak jenuh dan tidak jenuh, serta kolesterol. Air (60–75%), membentuk mayoritas massa daging segar. Vitamin dan Mineral, daging kaya vitamin B-kompleks (B12, B6), zat besi heme, seng, fosfor, dan selenium.

Secara biologis, daging adalah jaringan otot yang terdiri dari serabut otot yang tersusun dalam berkas (fasciculi) dengan pembuluh darah dan saraf. Ada jaringan ikat seperti endomisium dan perimisium. Juga Sel satelit yang berperan dalam regenerasi jaringan otot.

Daging sebagai Sumber Energi Metabolis

Protein dan lemak dalam daging berfungsi sebagai sumber energi (protein = 4 kkal/g, lemak = 9 kkal/g). Ia juga pembangun sel (anabolisme). Hal lainnya mendukung fungsi otak melalui kandungan taurin dan kreatin. Mencegah anemia juga karena kandungan zat besi heme yang mudah diserap.

Proses pencernaan protein menghasilkan asam amino yang digunakan dalam sintesis hormon, enzim, dan neurotransmiter, mendukung fungsi vital tubuh.

Perspektif Islam terhadap Konsumsi Daging Qurban

Islam mensyariatkan penyembelihan hewan tertentu pada hari raya Idul Adha sebagai bentuk ibadah.

فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
“Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu; dan berqurbanlah” (QS. Al-Kautsar: 2). Hewan qurban disyaratkan sehat, cukup umur, dan disembelih atas nama Allah.

Hikmah dan Nilai Spiritual sebagai kepatuhan kepada Allah, seperti Nabi Ibrahim dan Ismail. Ini menjadi tazkiyatun nafs (penyucian jiwa) dari keserakahan dan egoisme. Sebagai sarana keadilan sosial, dimana daging dibagikan kepada fakir miskin, mempererat ukhuwah.

Daging sebagai Nikmat Allah.
وَمِنَ الْأَنْعَامِ لَكُمْ فِيهَا دِفْءٌ وَمَنَافِعُ وَمِنْهَا تَأْكُلُونَ
“Dan hewan ternak itu, ada (manfaat) yang menghangatkan dan berbagai manfaat, dan sebagian darinya kalian makan” (QS. An-Nahl: 5). Daging adalah makanan yang halal lagi tayyib, yang diciptakan selaras dengan kebutuhan biologis manusia.

Perbandingan dengan Agama atau Budaya Lain

Beberapa agama atau kepercayaan seperti Jainisme-sekte Hindu, dan praktik vaganisme modern menolak konsumsi daging. Menurutnya terdapat sejumlah prinsip. Prinsip ahimsa, tidak menyakiti makhluk hidup. Keyakinan reinkarnasi, bahwa hewan memiliki jiwa yang berevolusi. Keprihatinan etika dan lingkungan.

Dalam Islam konsumsi daging diizinkan dengan syarat etika dan spiritual. Hewan disembelih dengan menyebut nama Allah dan dengan cara yang tidak menyiksa. Islam memadukan kebutuhan jasmani dan ruhani dalam kebijakan makan.

Struktur kimia dan biologi daging menunjukkan bahwa daging hewan qurban adalah sumber gizi dan energi metabolik yang luar biasa. Dalam Islam, daging tidak hanya bernilai nutrisi tetapi juga menjadi sarana ibadah dan solidaritas sosial. Berbeda dengan ajaran yang melarang konsumsi daging, Islam menekankan keseimbangan antara kebermanfaatan duniawi dan nilai-nilai ukhrawi, menunjukkan keagungan Allah dalam menciptakan sistem hidup yang menyeluruh dan rahmatan lil ‘alamin.

S. Miharja, Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *