Kain Ihram dan Spirit Hijrah

Ilustrasi haji yang sedang berdoa setelah sholat sunnah saat ihram, foto: freepik

UINSGD.AC.ID (Humas) — Dalam setiap musim haji, kita melihat lautan manusia yang berpakaian sama: dua helai kain putih tanpa jahitan yang disebut kain ihram. Di balik keseragaman itu, tersimpan pesan spiritual yang sangat dalam yakni ajaran tentang kesederhanaan dan kesetaraan, yang selaras dengan semangat hijrah dalam Islam.

Secara harfiah, ihram berarti “masuk ke dalam keadaan suci”. Sedangkan secara syar’i, ihram adalah niat memulai ibadah haji atau umrah dengan memakai pakaian khusus dan meninggalkan hal-hal yang dilarang selama ihram. Adapun hijrah, secara historikal berarti perpindahan Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah. Sedangkan dalam konteks spiritual, sebagaimana dijelaskan dalam QS. Al-Baqarah ayat 218, hijrah adalah transformasi diri dari kegelapan menuju cahaya.

Kain ihram tentu saja bukan sekadar busana ritual. Ia adalah simbol kerelaan meninggalkan segala bentuk kemewahan duniawi. Dalam balutan pakaian serba putih tanpa aksesoris, semua orang terlihat sama, tanpa gelar, pangkat, atau status sosial. Ini sejatinya merupakan manifestasi hijrah batiniah, dari kesombongan menuju ketundukan.

Karena itu. Dalam ihya Ulumuddin, Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa ihram mengajarkan manusia untuk melepas segala kepemilikan dan masuk ke hadapan Allah dengan kefakiran spiritual. Sama halnya dengan hijrah, yang menghajatkan kesiapan untuk meninggalkan zona nyaman menuju perjuangan demi kebenaran.

Pakaian ihram mengajak setiap jamaah untuk berlatih hidup sederhana. Dalam balutan kain yang tak berjahit itu, tak ada ruang untuk pamer. Semua Jemaah, baik pejabat, pengusaha, atau petani berdiri setara di hadapan Sang Kuasa. Ini menjadi pelajaran penting bagi kita, terutama di era konsumtif, sebuah era dimana gaya dipuja dan dikonsumsi secara memabi buta.

Kesederhanaan bukan berarti kekurangan. Ia adalah sikap batin yang tidak terikat apalagi menghamba pada materi. Rasulullah SAW sendiri hidup dalam kesederhanaan, meski mampu memiliki dunia. Beliau bersabda: “Bukanlah kekayaan itu karena banyak harta, tetapi kekayaan adalah kaya jiwa.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Diogenes, seorang filosof dari Sinope pernah berkata; bahwa sejatinya hidup adalah sederhana. Dalam hal penampilan, tidak perlu mengikuti gaya secara membabi buta. Sebab hal itu akan membawa hidup hampa bahkan nihil makna. Para filsuf modernpun menekankan arti penting kesederhanaan sebagai bentuk otentisitas diri. Jean-Paul Sartre misalnya pernah berkata, nilai dan harga diri seseorang tidak ditentukan oleh penampilan luar, tetapi oleh tindakannya. Albert Camus juga mengingatkan bahwa dalam kesederhanaan ada pemberentokan yang elegan terhadap segala bentuk kemewahan.

Bagi masyarakat Jawa Barat yang terkenal lemah lembut dan agamis, semangat hijrah semestinya bukan hanya seremonial. Hijrah adalah panggilan untuk berubah menuju kesalehan individual dan sosial. Dalam semangat hijrah, kita diajak menjadi pribadi yang lebih sederhana, hemat namun tetap peduli dan empati atas nasib sesama.

Di tengah krisis moral dan ekonomi, kesederhanaan justru menjadi jalan menuju ketenangan jiwa. Banyak orang kaya harta, tapi miskin makna. Sebaliknya, orang yang sederhana justru lebih damai. Seperti kata bijak Sunda: “Beunghar teu diukur ku miboga harta, tapi cukup miboga rasa tumarima.” Maka, ketika kita menyaksikan atau mengenakan kain ihram, sejatinya kita diingatkan untuk senantiasa berhijrah meninggalkan sifat berlebihan dan kembali pada fitrah: hidup sederhana, bersahaja, dan bertakwa. Semoga.

Aang Ridwan, Pembimbing Haji Plus dan Umrah Khalifah Tour dan Dosen FDK UIN Bandung

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *