Kyai Penyelamat Nasib Ribuan Orang di Tengah Perang Dunia II
UINSGD.AC.ID (Humas) — JEDDAH, Tahun 1940.
Tahun itu, udara di tepi Laut Merah bukan lagi membawa aroma dupa dan kerinduan peziarah, namun bau anyir keputusasaan. Di pelataran Pelabuhan Jeddah dan pemukiman sederhana Kota Tua (Balad), ribuan mata memandang ke arah Laut Merah yang kosong. Mereka adalah warga Hindia Belanda-para mukimin, pelajar, dan jamaah-yang terdampar di Tanah Suci: Makkah dan Madinah.
Perang Dunia II yang meledak kala itu telah memutus satu-satunya talinya dengan tanah air: jalur pelayaran. Tanpa kapal pulang, tanpa kiriman uang, dan dengan persediaan yang menipis, mereka adalah tawanan di tanah yang mereka cintai. Juga, mereka terancam kelaparan dan penyakit di tengah puncak krisis global.
Panggilan Tak Terduga
Di tengah lautan kepanikan itu, berdiri seorang kyai muda berusia sekitar tiga puluh tahun dengan ketenangan yang menyejukkan. Ia adalah K.H. Anwar Musaddad, seorang kyai asal Garut, Jawa Barat yang telah 11 tahun menimba ilmu di Madrasah Al-Falah, Makkah. Dengan kemampuan bahasa Arab, Belanda, dan Inggris yang fasih, serta kharisma yang tajam, K.H. Anwar Musaddad bukan lagi sekadar kyai muda. Saat itu, oleh keadaan, ia diangkat menjadi Ketua Komite Kesengsaraan Indonesia (Kokesin): sebuah jabatan yang berarti bertanggung jawab untuk menyelamatkan nyawa 2.504 manusia yang terlantar (2.320 dewasa dan 184 anak-anak) dari jurang kehancuran.
Ini adalah kisah heroik yang terlupakan: sebuah misi penyelamatan lintas samudera di tengah kobaran Perang Dunia II, yang digerakkan bukan oleh tentara atau pemerintah, tetapi oleh kecerdikan diplomasi, keteguhan iman, dan keberanian seorang ulama muda.
Latar belakang K.H. Anwar Musaddad menjelaskan mengapa ia yang terpilih untuk tugas hampir mustahil tersebut. Lahir dari sebuah keluarga berdarah biru Sunda (keturunan Sunan Gunungjati dan Pangeran Diponegoro) pada 3 April 1910 (atau 1909 menurut beberapa catatan), hidupnya telah dibentuk untuk memahami kompleksitas dunia. Pendidikan dasar dan menengahnya di sekolah-sekolah Kristen justru memberi ia pemahaman mendalam tentang kristologi dan perbandingan agama, sementara gemblengan pesantren di Cipari, Wanaraja, Garut mengokohkan identitas keislaman dan semangat anti-kolonialnya.
Ternyata, pendidikan yang unik tersebut melahirkan seorang intelektual yang lentur dan strategis. Sebelum ke Makkah, ia malah sempat menjadi ajudan pribadi H.O.S. Tjokroaminoto, guru bangsa dari Sarekat Islam, yang memberi ia pelajaran berharga tentang politik, organisasi, dan kepemimpinan nasional. Maka, ketika badai perang menerpa komunitas Indonesia di Hijaz, K.H. Anwar Musaddad telah dilengkapi dengan senjata yang langka: pengetahuan agama yang mendalam, wawasan dunia yang luas, dan kemampuan diplomasi yang terasah.
Kokesin sendiri dibentuk oleh para pemuka mukimin Indonesia di Makkah sebagai respons langsung atas kebuntuan. Pemerintah kolonial Belanda, yang ibukotanya sendiri di bawah pendudukan Jerman, praktis lumpuh. Misi komite ini sederhana namun monumental: mendesak otoritas Belanda di Batavia untuk mengirimkan kapal gratis (vrij) guna memulangkan warga yang terlantar.

Ziarah ke makam Prof. KH. Anwar Musaddad
Operasi Penyelamatan
Sebagai Ketua Kokesin, K.H. Anwar Musaddad memimpin sebuah operasi diplomasi darurat yang cerdik dan gigih. Strateginya adalah membangun tekanan multi-saluran.
Pertama, Kokesin melayangkan surat resmi berjudul “Rakyat Indonesia Sengsara Minta Kapal Vrij” yang dikirimkan ke segala penjuru: ke Konsulat Hindia Belanda di Jeddah, ke pemerintah dan parlemen di Batavia, dan kepada organisasi Islam di tanah air seperti Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI). Surat itu bukan sekadar permohonan. Namun, ekspos publikasi yang sengaja didesain untuk menyentuh nurani publik.
Kedua, dengan langkah yang brilian, K.H. Anwar Musaddad dan Kokesin juga mengirimkan surat serupa langsung kepada Raja Arab Saudi kala itu, Abdul Aziz bin Abdulrahman Al Saud (Ibn Saud). Langkah ini adalah masterstroke. Dengan melibatkan penguasa lokal yang dihormati, mereka mengubah masalah internal warga jajahan Belanda menjadi isu kemanusiaan di hadapan sang Raja. Raja Ibn Saud tersentuh atau mungkin juga untuk menjaga stabilitas di wilayahnya, lalu meneruskan permohonan itu kepada Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Pangeran Faisal, yang pada akhirnya mendesak Konsulat Belanda untuk bertindak lebih serius.
Surat-surat itu bekerja seperti yang diharapkan. Isu ribuan mukimin terlantar menjadi topik utama di media Hindia Belanda sepanjang 1940-1941, sehingga memaksa pemerintah kolonial Belanda yang sedang limbung untuk bertindak. Hasil dari desakan itu adalah Kapal S.S. Garoet milik perusahaan pelayaran Rotterdamsche Lloyd.
Tanggal 15 September 1941 menjadi hari bersejarah. K.H. Anwar Musaddad, dengan tanggung jawab penuh, memimpin rombongan terakhir yang terdiri dari 630 orang (pria, wanita, dan anak-anak) naik ke kapal untuk berlayar pulang. Perjalanan selama 26 hari dari Jeddah ke Tanjung Priok bukan sekadar pelayaran biasa. Perjalanan itu menjadi episode spiritual yang unik dalam sejarah. Kebetulan perjalanan tersebut bertepatan dengan bulan Ramadan. Di atas geladak kapal yang berayun dan di tengah kelegaan telah meninggalkan jurang kesengsaraan, mereka menjalankan puasa Ramadhan secara lengkap.
Dapat dibayangkan suasana di dalam kapal itu: Shalat Tarawih berjamaah di atas kapal dengan lantunan ayat-ayat Al-Quran yang bergema di antara desir ombak Laut Arab. Mereka malah melaksanakan Shalat Idul Fitri di tengah samudera, menyembelih sapi untuk hidangan bersama, dan membayar zakat fitrah. Kapal S.S. Garoet berubah menjadi masjid dan komunitas terapung, sebuah mikrokosmos Indonesia yang bersyukur, dipimpin langsung oleh K.H. Anwar Musaddad yang tidak hanya sebagai pemimpin logistik, namun juga sebagai imam dan pembimbing spiritual. Kapal itu akhirnya berlabuh di Tanjung Priok pada 4 November 1941, mengakhiri petualangan penyelamatan yang heroik.

Jejak Sang Pejuang Multidimensi
Kepulangan K.H. Anwar Musaddad ke Indonesia bukanlah akhir dari pengabdiannya, namun merupakan babak baru yang tak kalah dahsyat. Ia segera terjun ke dalam kancah perjuangan fisik mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Pada masa revolusi, bersama K.H. Yusuf Taujiri dan K.H. Mustofa Kamil, ia memimpin Pasukan Hizbullah Priangan untuk melawan agresi Belanda. Ia malah sempat ditangkap dan dipenjara oleh Belanda pada tahun 1948 sebelum dibebaskan setelah pengakuan kedaulatan Republik Indonesia.
Di era pascakemerdekaan, semangatnya untuk mencerdaskan bangsa tetap berlanjut. Atas tugas Menteri Agama K.H. Fakih Usman, ia menjadi salah satu pendiri Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) di Yogyakarta yang kemudian menjadi cikal bakal seluruh Institut Agama Islam Negeri (IAIN) dan Universitas Islam Negeri (UIN) di Indonesia. Visi besarnya adalah “mengulamakan intelektual dan mengintelektualkan ulama”. Ia kemudian menjadi rektor pertama IAIN Sunan Gunung Djati Bandung (1968-1974) dan mendirikan Pesantren Al-Musaddadiyah di Garut. Sementara dalam dunia politik, ia pernah menjadi anggota DPR dari Nahdlatul Ulama hasil Pemilu 1955.
Kisah K.H. Anwar Musaddad dan Kokesin adalah permata yang terpendam dalam sejarah Indonesia. Kisah ini membuktikan bahwa kepahlawanan tidak selalu berbentuk tembakan dan pertempuran di medan perang. Terkadang, kepahlawanan itu berbentuk keteguhan untuk bernegosiasi di ruang-ruang sunyi, menulis surat yang menggerakkan hati penguasa, dan memimpin dengan ketenangan di tengah kepanikan massal.
K.H. Anwar Musaddad berpulang pada 21 Juli 2000 di Garut, meninggalkan warisan sebagai ulama, intelektual, pejuang, dan-juga-seorang diplomat sejati rakyat. Dalam satu periode hidupnya, ia telah menyelamatkan ribuan nyawa dengan kecerdasan dan imannya, menorehkan catatan emas tentang “hubbul wathân minal îmân” (cinta tanah air adalah bagian dari iman) jauh sebelum kalimat itu populer. Ia adalah bukti bahwa dari pesantren dan ruang belajar di Makkah, bisa lahir seorang penyelamat bangsa yang sejati.
Matur nuwun sanget, Romo K.H. Anwar Musaddad. Kiranya Allah Swt. menerima amal-amal panjenengan, Allâhumma âmîn!
Ahmad Rofi’ Usmani adalah seorang alumnus dan mantan pengurus Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta (1973-1974). Sebelumnya telah menyelesaikan kuliah S1 di Fakultas Syariah tahun 1977, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta dan tahun 1978 di Fakultas Syariah, Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir.
Selama di Mesir, Ahmad Rofi’ Usmani pernah menjabat sebagai Ketua Lembaga Penelitian Ilmiah Persatuan Pelajar Indonesia di Mesir (1981-1983). Mendalami bahasa Perancis di Lembaga Kebudayaan Perancis di Kairo. Tahun 1984, Ahmad Rofi’ Usmani kembali ke Indonesia dan berkiprah di bidang media massa hingga jadi pemimpin Pelaksana majalah Panggilan Adzan dan Redaktur Ahli majalah Kiblat (1988-1992).