“Lakukanlah kebaikan, lalu lemparkanlah ke sungai. Suatu hari, ia akan kembali kepadamu di padang pasir” Jalaluddin Rumi
UINSGD.AC.ID (Humas) — Pernyataan ini konon diasalkan kepada Jalaluddin Rumi, seorang penyair Sufi dari Persia. Terbaca, ia seperti bisikan yang datang dari jauh, samar. Seperti cahaya kecil yang tidak hendak dimiliki siapa pun, tapi justru karena itu ia seolah abadi. Tapi, pernyataan Rumi ini pun terbaca seperti paradoks. Mengapa kebaikan harus dilemparkan ke sungai, pada sesuatu yang mengalir, pergi, bahkan bisa saja hilang? Dan mengapa ia akan kembali di padang pasir, tempat yang gersang, tak ada sumber air, bahkan nyaris mustahil menumbuhkan apa pun?
Kebaikan, sebagaimana dimaksud dalam ungkapan Rumi itu, bukanlah urusan timbal balik, saya kira. Ia bukan semacam “barter moral” yang menghitung apa yang akan kembali kepada kita. Ia bukan janji hadiah setelah memberi. Kebaikan yang sejati selalu lahir tanpa alasan selain dirinya sendiri. Ia ada, seperti bunga yang mekar tanpa perlu tahu apakah ada mata yang melihatnya atau tidak. Maka, ketika kebaikan “dihanyutkan” ke sungai, itu adalah tanda bahwa ia dilepaskan dari genggaman. Ia tidak lagi menjadi milik kita. Ia hanyut, menyatu dengan arus, berjalan ke tempat-tempat yang tak pernah kita ketahui.
Namun sungai, dengan gerak abadi dan ketakterdugaannya adalah metafor waktu. Kita mengalir bersama alur hidup, sering kali tanpa bisa menebak ke mana akan sampai. Begitu pula kebaikan, ia mengikuti arusnya sendiri. Ia mungkin melewati banyak tangan, singgah dalam hidup orang lain, menjadi sesuatu yang bahkan kita tidak sempat menyadarinya. Ia mungkin pecah menjadi percikan kecil yang tak terlihat, tapi tetap membawa jejak. Dan di suatu saat, jauh dari titik awal, ia kembali bukan di sungai, tetapi di padang pasir.
Mengapa padang pasir? Karena di situlah, di tengah kegersangan, tempat kita membutuhkan air. Di saat-saat kehilangan, ketika hidup seakan kosong, kebaikan yang dulu pernah kita lepaskan datang dengan cara yang misterius. Ia tidak datang untuk “membayar” kita, melainkan untuk menyelamatkan. Seperti oase yang muncul di tengah padang tandus, ia mengingatkan kita bahwa tak ada yang sungguh-sungguh hilang dari apa yang pernah kita berikan. Dunia, dengan caranya yang tak terduga, selalu menyimpan jejak itu.
Mungkin kita tak pernah tahu siapa yang menerima kebaikan itu. Sebab bisa jadi kita bahkan lupa pernah melakukannya. Tapi ingatan dunia lebih panjang dari ingatan kita sendiri. Ia menyimpan, menyalurkan, lalu mengembalikannya di saat yang tidak kita sangka. Itulah sebabnya kebaikan bukanlah investasi, melainkan penyerahan. Kita memberinya, lalu kita melupa. Dan justru dengan lupa itu, ia bebas menemukan jalannya sendiri.
Barangkali itulah rahasia hidup yang samar, bahwa kita tidak pernah benar-benar sendirian, sebab apa yang pernah kita lepaskan atau berikan dengan tulus, suatu hari akan kembali menjumpai kita. Mungkin, tidak dalam bentuk yang sama, tidak dalam waktu yang terrencana, tetapi dalam wujud yang paling kita perlukan.
Maka, barangkali, kebahagiaan bukan terletak pada apa yang kita simpan, melainkan pada apa yang kita berikan. Karena pada akhirnya, segala yang kita tahan akan membebani, sementara segala yang kita beri akan menemukan jalan pulangnya sendiri. Allahu a’lam. Tabik.
Radea Juli A. Hambali, Wakil Dekan III Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung