Jalan yang Tak Terlihat

Muslimah Berdoa di Masjid (Foto: Shutterstock.com)
Muslimah Berdoa di Masjid (Foto: Shutterstock.com)

“Sebagian orang menemukan Tuhan di kedalaman dosanya, sementara sebagian yang lain justru kehilangan-Nya di puncak kenikmatannya.” — Syams Tabriz

UINSGD.AC.ID (Humas) — Kalimat ini lewat di beranda IG saya. Berulang-ulang saya membaca, ingin memahami apa maknanya.

Sepemahaman saya, kalimat yang diucap Syam Tabriz ini, rasanya tidak sedang mengagungkan ataupun memuliakan dosa, mungkin juga tidak sedang mengutuk kenikmatan. Yang terpahami, ia sedang membuka satu tirai halus, bahwa Tuhan tidak selalu dijumpai di tempat yang tampak suci, dan tidak selalu hilang di tempat maksiat. Tuhan hadir, atau terasa hadir, bukan pada situasi atau keadaan lahiriah kita, sangat boleh jadi ia muncul pada kejujuran batin kita.

Ada orang yang jatuh ke dalam kubangan dosa, lalu di titik paling rendah itu ia menyadari kefakirannya yang mutlak. Semua topeng runtuh. Tidak ada lagi yang bisa dibanggakan. Di sana, di kedalaman kehancuran diri itulah, ia berdoa bukan dengan lisan, tetapi dengan seluruh keberadaannya. Doanya bukan lagi permintaan, melainkan pengakuan: “Aku tidak punya apa-apa selain Engkau.”

Dan barangkali di sanalah Tuhan ditemukan. Ia hadir bukan sebagai konsep yang menggejala dalam kepala, melainkan sebagai satu-satunya sandaran tempat seluruh keluhan dialamatkan.

Sebaliknya, ada orang yang hidup dalam kenikmatan, keberhasilan, dan capaian yang mendatangkan keberlimpahan. Segalanya terasa cukup, bahkan boleh jadi berlebih. Ia tidak merasa perlu bersandar, karena ia merasa bisa berdiri sendiri. Di puncak ini, Tuhan bukan disangkal, tapi dilupakan secara halus oleh rasa cukup yang meninabobokan.

Saya lalu temukan dalam sebuah bacaan, Ibn ‘Athaillah pernah mengingatkan: “Kadang Allah membukakan pintu taat bagimu, tetapi tidak membukakan pintu penerimaan; dan kadang Dia membukakan pintu maksiat bagimu, lalu menjadikannya sebab menuju kedekatan.”

Barangkali, bukan maksiatnya yang menyelamatkan dirinya, melainkan kerendahan hati yang lahir darinya. Bukan ketaatannya yang menyesatkan, melainkan kesombongan halus yang menyertainya.

Di tempat lain, Rumi menyuarakan ikhwal yang sejalan, bahwa katanya “luka adalah tempat cahaya masuk ke dalam dirimu.”
Saya mencoba memahami ini, bahwa luka di sini bukan sekadar penderitaan, tetapi momen runtuhnya ilusi tentang diri. Saat kita terluka, kita berhenti berpura-pura kuat. Saat kita jatuh, kita berhenti merasa tinggi. Dan di situlah cahaya akhirnya bisa masuk, karena pintunya baru terbuka.

Maka Syams Tabriz, melalui pernyataannya di atas, sepemahaman saya seakan ingin membisikkan sesuatu yang penting bahwa Tuhan tidak menjauh dan membuat jarak karena kita banyak salah dan berdosa, Tuhan menjauh ketika kita merasa tidak membutuhkan bahkan menampik-Nya. Pun, Tuhan tidak dekat karena kita suci dan menunjukkan kesalehan. Tuhan dekat ketika kita sadar akan kefakiran kita. Mungkin begitu.

Dalam lirih maknanya, kalimat ini sejauh saya mengerti menyeru dan mengajak kita untuk tidak terjebak pada permukaan: tidak memuja kejatuhan, tidak membenci kenikmatan, tetapi selalu waspada pada satu hal, yaitu situasi hati. Apakah hati sedang merasa perlu kepada Tuhan, atau sedang merasa cukup tanpa-Nya?

Karena pada akhirnya, jalan menuju Tuhan bukan soal naik atau turun, menebal ataupun menipis dan bukan soal gelap atau terang melainkan soal apakah di mana pun kita berada, kita masih menoleh, bersandar, dan menyerahkan diri.

Dan mungkin itulah rahasia terdalamnya,
bahwa Tuhan sering kita temukan bukan saat kita merasa pantas, melainkan saat kita merasa hancur dan tidak punya apa pun untuk dibawa, kecuali kerinduan yang telanjang. Allahu a’lam.

Radea Juli A. Hambali, Wakil Dekan III Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung. 

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *