UINSGD.AC.ID (Humas) — Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung menggelar Seminar Nasional bertema “Agama dan Imajinasi” di Aula Lantai 1 Kampus II, Jumat (24/10/2025).
Tema seminar ini diangkat dari judul buku karya Haidar Bagir, yang sekaligus hadir sebagai narasumber utama. Turut menjadi pembicara Fakhri Alif (Dosen Fakultas Ushuluddin), dipandu oleh Arif Budiman (Dosen Fakultas Ushuluddin).
Acara dibuka secara resmi oleh Dekan Fakultas Ushuluddin, Prof. Dr. H. Wahyudin Darmalaksana, M.Ag., dan dihadiri oleh Wakil Dekan III, Dr. Radea Ahmad Juli Hambali, M.Hum., tenaga kependidikan, serta ratusan mahasiswa yang antusias mengikuti kegiatan ini.
Prof Yudi menjelaskan seminar ini sebagai ikhtiar bersama dalam menyelami agama dan imajinasi karya Haidar Bagir yang berusaha membangun jalan baru dalam memaknai spiritualitas.
Di tengah derasnya arus informasi dan rutinitas yang serba cepat, kita sering kali lupa memberi ruang untuk merenung. Padahal, agama dan spiritualitas tidak hanya membutuhkan ketaatan ritual, tetapi perenungan yang jernih.
Tentunya buku Agama dan Imajinasi karya Haidar Bagir hadir sebagai pengingat kita semua beragama bukan hanya soal aturan, tetapi tentang bagaimana kita membuka imajinasi untuk menemukan makna yang lebih dalam.
Agama dan Imajinasi ini ibarat sebuah undangan untuk melihat lebih luas. Selama ini, imajinasi sering dipandang sebelah mata, bahkan dianggap “khayalan” yang tidak nyata.
Sementara agama lebih sering dihubungkan dengan dogma, hukum, dan batasan yang jelas. Melalui buku ini, Haidar Bagir menawarkan perspektif berbeda. Artinya keberadaan agama dan imajinasi justru bisa saling melengkapi.
Menurutnya, keberagamaan yang hanya berhenti pada bentuk formal sering kali membuat kita kaku dan sempit dalam memandang dunia. Imajinasi hadir untuk membuka pintu lain: agar agama menjadi ruang yang luas, penuh warna, dan sarat makna.
Buku ini terbagi menjadi dua bagian besar. Pertama, pembahasan filosofis yang menunjukkan dasar mengapa agama dan imajinasi dapat berjalan beriringan. Kedua, penerapan konsep ini dalam praktik kehidupan mulai dari cara menafsirkan teks, menjalankan ibadah, hingga menjalin hubungan sosial.

Dengan membaca Agama dan Imajinasi terasa seperti menemukan jalan baru dalam menjalani spiritualitas. Ada beberapa alasan mengapa buku ini begitu penting:
1. Memberi Ruang untuk Bertanya
Tidak semua hal harus diterima apa adanya. Haidar Bagir mendorong kita untuk berani bertanya, mencari makna, dan melihat dari sisi lain. Dengan begitu, agama bukan lagi beban, melainkan sumber inspirasi.
2. Menenangkan di Tengah Hiruk Pikuk
Dalam dunia yang serba cepat, kita membutuhkan jeda. Buku ini membantu menciptakan ruang refleksi—membaca pelan, merenungkan isi, lalu menghubungkannya dengan pengalaman sehari-hari.
3. Membangun Sikap Terbuka
Imajinasi dalam beragama tidak membuat kita kehilangan prinsip. Sebaliknya, ia mengajarkan untuk melihat orang lain dengan empati, menerima perbedaan, dan menciptakan dialog yang sehat.
Paling tidak, gagasan-gagasan penting dalam Agama dan Imajinasi, diantaranya:
– Agama sebagai Taman Makna
Alih-alih pagar pembatas, agama diibaratkan sebagai taman yang bisa dinikmati dari berbagai sudut pandang. Imajinasi membuat kita mampu menangkap warna dan nuansa yang lebih kaya.
– Spiritualitas yang Hidup
Ibadah bukan sekadar rutinitas, melainkan pengalaman batin yang mendalam. Imajinasi membantu kita merasakan kehadiran Ilahi dengan cara yang lebih personal.
– Tafsir yang Kontekstual
Kitab suci dan hukum agama bukan teks mati. Dengan imajinasi, kita bisa memahami konteksnya dan menerapkan nilai-nilainya dalam tantangan zaman sekarang.
– Hubungan Sosial yang Lebih Humanis
Imajinasi membuat kita melihat sesama manusia bukan sebagai “yang berbeda”, melainkan sebagai bagian dari perjalanan bersama menuju kebaikan.

Kedua narasumber memaparkan makna mendalam dari buku “Agama dan Imajinasi” dengan menyingkap teks dan konteks spiritualitas Islam secara utuh. Pembahasan ini membuka ruang refleksi tentang wajah Islam yang moderat dan rahmatan lil ‘alamin.
Agama dan imajinasi kerap dipandang sebagai dua hal yang saling menolak. Yang satu seperti rapi tertata, satunya lagi mengembara tanpa batas. Padahal, keduanya berbagi tujuan yang sama: membayangkan suatu ideal yang mungkin di balik apa-apa yang kasatmata.
Lewat buku ini, Haidar Bagir menunjukkan bahwa dengan imajinasi keberagamaan kita menjadi lebih lapang dan mendalam.
Melalui seminar ini, peserta diharapkan dapat memahami nilai-nilai yang terkandung dalam buku tersebut dan mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari sebagai pribadi yang moderat, terbuka, dan toleran terhadap sesama. (Haryadi/Kontributor)