Isra Mikraj dan Masjid Para Nabi

Ilustrasi /Foto: freepik

UINSGD.AC.ID (Humas) — Peristiwa Isra Mikraj merupakan salah satu episode paling monumental dalam sejarah Islam, yang menggabungkan dimensi historis dan spiritual secara simultan.

Perjalanan ini tidak hanya menegaskan kedudukan Nabi Muhammad ﷺ sebagai penutup para nabi, tetapi juga memperlihatkan kesinambungan risalah tauhid sejak masa para nabi terdahulu. Isra Mikraj menghubungkan ruang-ruang suci para nabi, Masjidil Haram dan Masjid Al-Aqsa hingga mencapai Sidratul Muntaha, sebuah batas kosmik yang melampaui pengalaman manusia biasa.

Isra suatu Perjalanan Antar Masjid dalam Sejarah Tauhid

Isra dimulai dari Masjidil Haram, pusat ibadah tertua dalam sejarah manusia. Masjid ini dibangun oleh Nabi Ibrahim bersama putranya Nabi Ismail sebagai simbol pemurnian tauhid dan penyerahan total kepada Allah ﷻ. Dengan demikian, keberangkatan Nabi Muhammad ﷺ dari Masjidil Haram merepresentasikan kelanjutan misi Ibrahimiyyah yang berlandaskan tauhid, keikhlasan, dan pengorbanan.

Perjalanan kemudian berlanjut menuju Masjid Al-Aqsa, masjid yang memiliki akar kuat dalam sejarah kenabian Bani Israil. Masjid ini dikaitkan dengan kepemimpinan dan kebijaksanaan Nabi Sulaiman, seorang nabi sekaligus raja yang memadukan kekuasaan politik dan ketaatan spiritual. Di Al-Aqsa, Nabi Muhammad ﷺ memimpin shalat para nabi terdahulu, sebuah simbol teologis bahwa risalah Islam menjadi penyempurna dan pemersatu seluruh ajaran kenabian sebelumnya.

Mikraj, Pendakian Spiritual Melampaui Dimensi Material

Setelah Isra, Nabi Muhammad menjalani Mikraj, yakni pendakian vertikal menembus lapisan-lapisan langit. Dalam perjalanan ini, Rasulullah ﷺ bertemu para nabi besar mulai Nabi Adam, Isa, Musa, dan Ibrahim yang masing-masing melambangkan fase-fase penting sejarah kemanusiaan dan wahyu ilahi. Puncak Mikraj adalah Sidratul Muntaha, batas terakhir makhluk ciptaan yang tidak dapat dilampaui oleh malaikat sekalipun.

Di tempat inilah Nabi Muhammad menerima perintah shalat secara langsung dari Allah ﷻ. Fakta bahwa shalat diwajibkan tanpa perantara wahyu biasa menunjukkan posisi sentral ibadah ini dalam struktur ajaran Islam. Shalat bukan sekadar ritual, melainkan sarana komunikasi spiritual yang menghubungkan manusia dengan Tuhan secara langsung.

Hikmah Teologis dan Sosial bagi Umat Islam

Pertama, Isra Mikraj menegaskan kesatuan risalah para nabi. Islam hadir bukan untuk meniadakan ajaran sebelumnya, melainkan untuk menyempurnakan dan mengoreksinya dalam kerangka tauhid murni.

Kedua, peristiwa ini menempatkan Masjid Al-Aqsa sebagai bagian integral dari akidah umat Islam, bukan sekadar simbol sejarah atau geopolitik.

Ketiga, kewajiban shalat mengajarkan bahwa pendekatan kepada Allah tidak selalu bersifat spektakuler, tetapi diwujudkan dalam konsistensi ibadah harian. Dalam perspektif tasawuf, shalat disebut sebagai mi‘raj al-mu’min, pendakian spiritual orang beriman.

Keempat, Isra Mikraj juga memberi pesan psikologis dan sosial, setelah fase penderitaan dan penolakan yang dialami Nabi SAW, Allah SWT menganugerahkan penguatan iman dan kehormatan spiritual.

Penutup

Isra Mikraj merupakan peristiwa multidimensional yang mengintegrasikan sejarah kenabian, ruang-ruang suci, dan transformasi spiritual. Dengan menelusuri perjalanan dari Masjidil Haram, Masjid Al-Aqsa, hingga Sidratul Muntaha, umat Islam diajak memahami bahwa Islam berdiri di atas fondasi tauhid lintas zaman dan lintas nabi. Bagi umat Nabi Muhammad ﷺ, Isra Mikraj bukan sekadar kisah mukjizat, tetapi sumber nilai, orientasi ibadah, dan kekuatan spiritual dalam menjalani kehidupan dunia dan akhirat.

 

S. Miharja, Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung, saat di Serambi Masjid Miftahul Jannah

WhatsApp
Facebook
Telegram
Print
Twitter

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *