UINSGD.AC.ID (Humas) — Kurikulum berbasis Outcome-Based Education (OBE) sering dipahami sebatas sistem rasional yang berorientasi pada hasil belajar yang terukur. Rumusnya tampak jelas: rumuskan learning outcomes, turunkan ke capaian mata kuliah, kemudian susun rencana pembelajaran. Namun di balik struktur yang tampak teknokratis itu, ada sesuatu yang lebih halus namun menentukan: intuisi akademik dalam merancang kurikulum. Intuisi di sini bukan perasaan subjektif tanpa arah, melainkan kebijaksanaan yang tumbuh dari pemahaman mendalam terhadap hakikat pendidikan dan manusia yang hendak dibentuk. Ia adalah kemampuan untuk menangkap ruh dari setiap capaian pembelajaran sebelum dituangkan dalam angka, tabel, dan indikator.
Dalam kerangka OBE, segala sesuatu tampak harus dapat diukur. Tetapi tidak semua yang penting dalam pendidikan dapat dihitung. Di sinilah intuisi berperan sebagai jembatan antara logika sistem dan dimensi kemanusiaan pendidikan. Seorang penyusun kurikulum yang berintuisi tajam tahu bahwa hasil belajar bukan sekadar kompetensi kognitif, tetapi juga transformasi diri. Ia dapat merasakan kapan sebuah capaian terlalu dangkal, kapan metode terlalu kaku, dan kapan evaluasi kehilangan makna. Intuisi menuntun pendidik untuk tidak terjebak dalam ritual administrasi kurikulum, melainkan melihat pendidikan sebagai proses pembentukan kesadaran.
Kurikulum yang dibangun tanpa intuisi akan kehilangan arah kemanusiaannya. Ia mungkin tampak rapi di atas kertas, namun kosong dari makna. Mahasiswa bisa saja memenuhi indikator capaian, tetapi tidak mengalami proses pembelajaran yang mengubah cara berpikir dan merasa. Sebaliknya, ketika intuisi dihadirkan dalam penyusunan kurikulum, setiap elemen—dari capaian pembelajaran, metode pengajaran, hingga evaluasi—menjadi jalinan yang hidup. Intuisi membantu dosen merasakan alur alami pertumbuhan mahasiswa: kapan harus menuntun, kapan memberi ruang, kapan mendorong untuk berpikir lebih dalam.
Dalam konteks ini, intuisi bukan lawan dari rasionalitas, melainkan keseimbangannya. Rasionalitas menyediakan struktur, sementara intuisi memberi arah. Tanpa struktur, intuisi menjadi kabur; tanpa intuisi, struktur menjadi kaku. Penyusun kurikulum yang hanya bergantung pada logika administrasi mudah terjebak pada pola mekanis, seolah pendidikan dapat diatur seperti mesin. Sebaliknya, dengan intuisi, kurikulum menjadi organisme yang tumbuh—ia menyesuaikan diri dengan perubahan zaman, kebutuhan masyarakat, dan dinamika mahasiswa tanpa kehilangan identitas dan ruhnya.
Intuisi kurikulum juga menyentuh ranah nilai. Dalam OBE, ada kecenderungan menstandarkan segala hal: capaian, penilaian, bahkan kreativitas. Padahal setiap disiplin ilmu memiliki jiwa yang unik, dan setiap mahasiswa membawa pengalaman yang berbeda. Intuisi membantu perancang kurikulum untuk menangkap keunikan itu, menghubungkan capaian dengan nilai kemanusiaan dan kebudayaan. Seorang pendidik yang berintuisi tidak sekadar merancang kurikulum agar “terpenuhi”, tetapi agar “bermakna”—agar mahasiswa tidak hanya tahu apa yang harus dilakukan, tetapi juga mengapa ia melakukannya.
Menumbuhkan intuisi dalam kurikulum OBE menuntut kedalaman refleksi. Para dosen perlu keluar dari kebiasaan bekerja secara linear, dan mulai merenungi hubungan antara capaian pembelajaran dan pengalaman hidup mahasiswa. Kurikulum yang intuitif lahir dari dialog: antara ilmu dan konteks, antara teori dan praktik, antara nilai dan kenyataan. Ia dibangun bukan dengan asumsi bahwa manusia adalah objek pendidikan, tetapi subjek yang berpikir, merasakan, dan berkembang. Dari sinilah muncul kurikulum yang tidak hanya menghasilkan lulusan kompeten, tetapi juga manusia yang sadar akan makna pengetahuannya.
Akhirnya, intuisi dalam kurikulum OBE adalah upaya untuk mengembalikan jiwa ke dalam sistem. Ia mengingatkan kita bahwa pendidikan sejati bukan hanya proses produksi kompetensi, tetapi perjalanan menuju kebijaksanaan. Kurikulum yang baik tidak berhenti pada ketercapaian indikator, tetapi membangkitkan daya pikir, kepekaan nurani, dan keberanian mahasiswa untuk mencari makna. Maka, menyusun kurikulum dengan intuisi berarti menulis peta jalan bagi pertumbuhan manusia—bukan sekadar dokumen akademik, tetapi narasi hidup tentang bagaimana ilmu dan kemanusiaan saling menuntun menuju masa depan yang lebih bermakna.
H. Herman, S.Sos.I., M.Ag., Sekretaris Program Studi Bimbingan Konseling Islam (BKI) Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK) UIN Sunan Gunung Djati Bandung